Saat AI Melahap RAM, Harga Smartphone Siap Naik Tajam Pada Semua Kelas

Kenaikan harga smartphone berikutnya berpotensi tidak lagi disebabkan layar, kamera, atau chipset saja. Dorongan besar datang dari kebutuhan AI terhadap komponen memori, terutama RAM dan penyimpanan, yang membuat biaya produksi perangkat ikut naik.

Dampaknya mulai terlihat di berbagai segmen pasar. Ponsel murah bisa naik puluhan dolar, sementara model flagship berisiko melonjak jauh lebih tinggi karena biasanya memakai RAM dan storage yang lebih besar.

AI membuat komponen memori jadi lebih mahal

Lonjakan minat industri pada AI telah meningkatkan permintaan terhadap perangkat keras secara agresif. Salah satu komponen yang paling terdampak adalah RAM, yang dalam laporan sumber disebut mengalami kenaikan harga hingga ratusan dolar pada level tertentu.

Selama ini, sebagian merek ponsel masih tertolong stok komponen lama yang dibeli sebelum lonjakan harga memori terjadi. Namun, stok tersebut disebut mulai menipis, sehingga dampak biaya baru diperkirakan makin terasa pada produk generasi berikutnya.

Presiden Xiaomi Group, Lu Weibing, sempat menyinggung tekanan biaya ini setelah sub-merek REDMI menaikkan harga ponsel barunya di China. Mengacu pada laporan yang dikutip Android Authority, kenaikan 1500 CNY setara sekitar $200-220, dan varian dengan RAM serta storage lebih besar disebut terkena dampak lebih berat.

Pernyataan itu penting karena menunjukkan bahwa kenaikan harga bukan sekadar strategi merek. Ada tekanan nyata dari sisi rantai pasok, terutama untuk perangkat yang kini makin mengandalkan memori besar demi fitur AI di perangkat.

Seberapa besar harga ponsel bisa naik

Counterpoint Research sebelumnya telah memperingatkan bahwa lonjakan harga memori akan menekan pasar smartphone. Firma riset itu menilai perangkat entry-level dan budget justru termasuk yang paling rentan terkena dampak.

Untuk konfigurasi yang relatif umum seperti RAM 6GB GDDR4 dan storage 128GB, Counterpoint memperkirakan total biaya komponen bisa naik sekitar 25%. Pada ponsel dengan harga di bawah $200, tambahan harga jual diproyeksikan sekitar $30 per unit.

Kenaikan $30 memang tampak kecil dibanding flagship, tetapi efeknya besar pada segmen murah. Margin keuntungan di kelas ini tipis, sehingga sedikit kenaikan biaya saja dapat memengaruhi volume penjualan.

Di kelas atas, tekanannya jauh lebih berat. Counterpoint memperkirakan flagship dapat mengalami kenaikan harga sekitar $150-200, angka yang cukup untuk mendorong ponsel premium ke level harga yang lebih sulit dijangkau banyak konsumen.

Berikut gambaran dampak yang disebut dalam laporan referensi:

  1. Ponsel di bawah $200: potensi kenaikan sekitar $30.
  2. Flagship: potensi kenaikan sekitar $150-200.
  3. Varian dengan RAM dan storage lebih besar: bisa terdampak lebih besar lagi.
  4. Merek yang agresif memberi memori besar: berpotensi menerima tekanan biaya lebih tinggi.

Pola ini masuk akal karena AI di smartphone kini banyak dipasarkan sebagai fitur utama. Fitur seperti ringkasan teks, edit foto generatif, terjemahan real-time, dan asisten konteks membutuhkan memori lebih besar, baik untuk proses lokal di perangkat maupun untuk mendukung arsitektur sistem yang lebih kompleks.

Mengapa ponsel dengan RAM besar lebih rentan

Banyak merek China selama ini dikenal menawarkan kapasitas RAM dan storage lebih tinggi dibanding beberapa model yang umum dijual di pasar Amerika Serikat. Strategi ini dulu menjadi nilai jual kuat, tetapi kini bisa berubah menjadi beban biaya yang lebih tinggi.

Semakin besar memori yang dipasang, semakin besar pula tekanan dari kenaikan harga komponen. Artinya, model dengan spesifikasi tinggi bukan hanya mahal karena posisinya premium, tetapi juga karena ongkos materialnya memang meningkat.

Untuk konsumen, hal ini bisa mengubah cara membaca spesifikasi. RAM 12GB atau 16GB mungkin tetap menarik untuk penggunaan jangka panjang, tetapi selisih harga antarmodel berpotensi makin lebar dibanding sebelumnya.

Produsen mulai mencari jalan hemat

Saat biaya memori naik, produsen tidak tinggal diam. Beberapa laporan menyebut Samsung sedang menekan biaya dari area lain, terutama komponen layar.

Menurut laporan yang beredar, Samsung disebut ingin memakai panel M13 pada Z Fold 8 dan Z Flip 8, alih-alih panel M14 yang lebih baru. Panel M13 tetap tergolong baik, tetapi tidak seterang, seefisien, atau setahan lama generasi yang lebih mutakhir.

Langkah efisiensi juga disebut terjadi pada lini lain. Laporan terpisah menyebut Samsung mulai memakai OLED buatan CSOT untuk ponsel kelas menengah, menggunakan engsel buatan pabrikan China pada Z Flip 7, serta modul kamera ultrawide buatan pemasok China pada sebagian lini S.

Langkah-langkah ini menunjukkan satu hal penting. Ketika memori menjadi lebih mahal karena ledakan kebutuhan AI, produsen akan berusaha menahan harga akhir dengan mengganti atau menurunkan biaya di komponen lain.

Berikut bentuk penyesuaian yang mulai terlihat:

Area Strategi penghematan
Layar foldable Memakai panel generasi lebih lama
Ponsel kelas menengah Beralih ke pemasok OLED lain
Komponen mekanis Menggunakan engsel dari vendor China
Kamera tertentu Memakai modul dari pemasok yang lebih murah

Dampaknya bagi pembeli smartphone

Bagi calon pembeli, tren ini berarti harga smartphone baru kemungkinan tidak kembali seramah sebelumnya, terutama pada model yang menonjolkan AI on-device. Konsumen juga perlu lebih teliti karena kenaikan harga tidak selalu dibarengi peningkatan merata di semua komponen.

Dalam periode mendatang, pasar ponsel kemungkinan akan menampilkan kombinasi yang tidak biasa. Harga bisa naik karena RAM dan storage, sementara sebagian merek justru menahan biaya dengan memakai layar, engsel, atau modul kamera yang lebih ekonomis, sehingga nilai sebuah smartphone makin ditentukan oleh keseimbangan spesifikasi, bukan sekadar label AI yang menempel di kotaknya.

Source: www.androidpolice.com
Exit mobile version