Kerja Hybrid Membuka Celah Baru, ManageEngine Tawarkan Benteng AI dan Zero Trust

Ancaman siber di era kerja hybrid kini bergerak lebih cepat dan lebih canggih seiring meluasnya penggunaan perangkat kerja dari rumah, kantor, dan lokasi lain. Dalam situasi ini, ManageEngine menghadirkan pengembangan terbaru pada platform Endpoint Central dengan integrasi keamanan berbasis AI dan pendekatan Zero Trust untuk membantu perusahaan menjaga endpoint yang semakin menjadi titik serangan utama.

Langkah tersebut muncul di tengah tekanan ancaman yang besar. Badan Siber dan Sandi Negara mencatat lebih dari 3,64 miliar anomali trafik siber di Indonesia sepanjang Januari hingga Juli , menandakan intensitas serangan digital yang terus meningkat dan membutuhkan mekanisme pertahanan yang lebih adaptif.

Endpoint Jadi Pusat Risiko Baru

Perubahan pola kerja membuat laptop, smartphone, dan workstation menjadi alat utama sekaligus pintu masuk yang sering dibidik pelaku kejahatan siber. Kondisi ini diperburuk oleh kebiasaan banyak perusahaan yang masih mengandalkan tools terpisah untuk urusan perangkat, keamanan, dan akses jaringan.

Model tersebut menciptakan kompleksitas yang tinggi dan membuka celah koordinasi saat insiden terjadi. Serangan seperti malware, ransomware, dan akses tidak sah kini juga makin sering menyasar perangkat karyawan yang bekerja secara hybrid.

Pelaku serangan bahkan memanfaatkan AI untuk menyusun ancaman yang lebih sulit dikenali. Di saat yang sama, pendekatan lama berbasis VPN dinilai tidak lagi cukup karena sering memberi akses luas setelah satu kali autentikasi tanpa memeriksa kondisi perangkat secara menyeluruh.

ManageEngine Dorong Integrasi EDR dan Zero Trust

Melalui pembaruan Endpoint Central, ManageEngine menggabungkan Endpoint Detection and Response atau EDR dengan Secure Private Access berbasis Zero Trust. EDR membantu mendeteksi aktivitas mencurigakan secara real-time dan menghentikannya sebelum penyebaran meluas.

Zero Trust bekerja dengan prinsip verifikasi berlapis untuk setiap perangkat sebelum akses diberikan. Tidak ada asumsi kepercayaan otomatis, sehingga perusahaan bisa mengurangi risiko saat kredensial bocor atau perangkat tidak memenuhi standar keamanan.

Chirag Mehta, Vice President and Principal Analyst at Constellation Research, menegaskan bahwa keamanan endpoint kini menuntut kecepatan. Ia mengatakan perusahaan harus mampu mendeteksi dan menghentikan ancaman lebih cepat, sambil memastikan akses ke aplikasi internal tetap aman meski kredensial sudah bocor.

Mengapa Satu Platform Menjadi Penting

Pendekatan terintegrasi menjadi salah satu pembeda utama dari pengembangan ini. Endpoint Central memadukan manajemen perangkat, deteksi ancaman, respons keamanan, dan kontrol akses dalam satu platform terpusat.

Bagi tim IT, model ini mengurangi pekerjaan yang tersebar di banyak sistem. Mereka bisa melakukan investigasi ancaman, patching, dan pengaturan akses dari satu dashboard tanpa harus berpindah alat secara berulang.

Penggunaan satu agent di setiap perangkat juga membuat proses pemantauan lebih ringkas. Dalam praktiknya, perusahaan dapat bergerak dari model keamanan reaktif menuju sistem yang lebih otomatis dan adaptif.

Mathivanan Venkatachalam, Vice President at ManageEngine, menyebut endpoint kini menjadi titik utama untuk deteksi ancaman sekaligus kontrol akses karena karyawan bekerja dari banyak lokasi dengan berbagai perangkat. Kondisi kerja yang fleksibel membuat keamanan harus mengikuti mobilitas pengguna, bukan sebaliknya.

Fitur yang Disiapkan untuk Ancaman Modern

Endpoint Central kini menawarkan visibilitas lebih dalam terhadap aktivitas endpoint, termasuk proses, file, dan jaringan. Dengan dukungan AI, sistem ini juga dirancang untuk mengenali serangan canggih seperti fileless malware yang kerap lolos dari pendekatan konvensional.

Berikut sejumlah kemampuan utama yang ditonjolkan dalam pembaruan tersebut:

  1. Deteksi ancaman secara real-time melalui EDR.
  2. Isolasi perangkat yang terinfeksi agar ancaman tidak menyebar.
  3. Penghentian proses berbahaya secara otomatis.
  4. Pemulihan data yang terdampak ransomware.
  5. Akses privat berbasis konteks untuk memastikan hanya perangkat sesuai standar yang bisa masuk ke aplikasi internal.

Paket kemampuan itu menunjukkan arah baru keamanan endpoint yang tidak hanya menunggu serangan terjadi, tetapi juga mencari pola risiko sejak awal. Bagi perusahaan di Indonesia yang sedang mempercepat transformasi digital, kombinasi AI, EDR, dan Zero Trust menjadi semakin relevan untuk menjaga produktivitas tanpa mengorbankan perlindungan data dan akses internal.

Source: id.mashable.com

Berita Terkait

Back to top button