Sam Altman Tolak Anaknya Jadi iPad Kid, Memilih Tumbuh Bermain Tanah

Sam Altman menyatakan tidak ingin membesarkan anaknya menjadi “iPad kid”, istilah yang merujuk pada anak yang menghabiskan banyak waktu di depan tablet sejak usia sangat dini. CEO OpenAI itu menegaskan ia lebih ingin anaknya bermain di luar dan “bermain tanah” daripada terlalu cepat akrab dengan layar.

Pernyataan itu menarik perhatian karena datang dari salah satu tokoh paling berpengaruh di industri kecerdasan buatan. Di tengah ledakan penggunaan AI dan perangkat digital pada anak, Altman justru menunjukkan sikap hati-hati terhadap paparan teknologi pada masa awal tumbuh kembang.

Altman mengungkap pandangan tersebut dalam podcast Mostly Human. Ia mengatakan merasa sangat terganggu ketika melihat anak-anak yang sedikit lebih tua dari bayinya sampai tidak bisa melepaskan iPad dari tangan mereka.

Ia juga menegaskan belum ingin terburu-buru memperkenalkan ChatGPT kepada anaknya sendiri. Menurut Altman, pendekatan yang lebih masuk akal adalah berada di sisi “lebih terlambat” dalam batas yang wajar, bukan menjadi yang paling awal.

Sam Altman dan suaminya, Oliver Mulherin, menyambut kelahiran anak pertama mereka, seorang bayi laki-laki, melalui ibu pengganti pada Februari. Sebelumnya, Altman juga sempat mengungkap bahwa ia menggunakan ChatGPT untuk mencari saran seputar pengasuhan anak.

Mengapa sikap Altman dinilai penting

Pandangan Altman mencerminkan pola yang makin sering muncul di Silicon Valley. Sejumlah pemimpin teknologi yang membangun produk digital untuk miliaran pengguna justru memilih membatasi akses perangkat pada anak mereka sendiri.

Fenomena ini bukan hal baru. Pendiri Microsoft Bill Gates pernah menunda pemberian ponsel kepada anak-anaknya sampai usia 14 tahun, sementara mendiang pendiri Apple Steve Jobs dilaporkan juga menjaga anak-anaknya agar tidak terlalu dekat dengan iPad.

Di kalangan perusahaan AI, sikap serupa juga mulai terdengar. Salah satu pendiri Anthropic, Jack Clark, baru-baru ini mengaku membatasi akses YouTube untuk anak balitanya karena algoritma platform itu membuatnya khawatir.

Kekhawatiran utama para tokoh teknologi ini umumnya berkaitan dengan desain produk digital yang sangat menarik perhatian anak. Perangkat layar, video pendek, dan sistem rekomendasi algoritmik dinilai bisa membuat anak sulit berhenti, terutama ketika kemampuan mengatur diri mereka belum berkembang penuh.

Bukan anti teknologi, tetapi soal waktu dan batas

Meski ingin menunda paparan teknologi pada anaknya, Altman bukan berarti menolak peran AI dalam pendidikan. Ia justru melihat masa depan di mana pelajar bisa mendapat lebih banyak alat berbasis AI untuk mempercepat proses belajar.

Altman menyebut kemungkinan hadirnya pendamping belajar pribadi berbasis AI yang intens dan sangat personal. Model seperti ini, menurutnya, berpotensi memberi pengalaman seperti tutor satu lawan satu untuk setiap siswa.

Namun, ia juga memberi peringatan bahwa skenario tersebut tidak selalu akan berjalan ideal. Altman mengatakan manfaat itu memang besar, tetapi ada banyak kemungkinan jika penerapannya salah arah.

Pernyataan itu menunjukkan posisi yang relatif seimbang. Di satu sisi, AI bisa membantu pembelajaran, tetapi di sisi lain anak tetap membutuhkan pengawasan, batas usia, dan lingkungan sosial nyata yang tidak bisa digantikan mesin.

Mengapa bermain di luar tetap penting

Keinginan Altman agar anaknya lebih banyak bermain di luar selaras dengan banyak temuan umum dalam perkembangan anak. Aktivitas fisik, eksplorasi lingkungan, dan interaksi langsung membantu perkembangan motorik, bahasa, emosi, serta kemampuan sosial.

Bermain tanah, berlari, memegang benda nyata, dan berinteraksi dengan orang lain memberi rangsangan yang berbeda dari layar. Pengalaman seperti itu juga membantu anak belajar mengelola rasa ingin tahu, frustrasi, serta perhatian secara lebih natural.

Bagi banyak orang tua, istilah “iPad kid” kini menjadi simbol kekhawatiran yang lebih luas. Istilah itu tidak sekadar merujuk pada penggunaan tablet, tetapi pada pola pengasuhan yang membuat layar menjadi alat utama untuk hiburan, penenang, bahkan pendamping harian anak.

Hal yang bisa dibaca dari pernyataan Sam Altman

  1. Paparan teknologi pada anak tidak selalu harus dimulai sedini mungkin.
  2. Pembatasan layar kini juga dipilih oleh pelaku utama industri teknologi.
  3. AI tetap dinilai berguna untuk pendidikan, tetapi perlu penerapan yang hati-hati.
  4. Aktivitas fisik dan permainan di dunia nyata masih dianggap penting pada masa awal anak.

Di Amerika Serikat, sejumlah sekolah bahkan sudah mulai mencoba penggunaan AI dalam proses belajar. Salah satu sekolah yang banyak dibicarakan menjanjikan seorang siswa akan menghasilkan $1 million saat lulus, atau orang tua mendapat pengembalian dana penuh.

Contoh itu menunjukkan bahwa AI semakin cepat masuk ke ruang kelas. Namun, pernyataan Altman menegaskan bahwa semakin canggih teknologinya, perdebatan tentang kapan anak perlu dikenalkan pada layar dan AI justru akan menjadi semakin penting.

Bagi publik, pesan utamanya cukup jelas. Sosok yang memimpin salah satu perusahaan AI terbesar di dunia tetap menilai masa kecil tidak seharusnya didominasi tablet, dan bahwa bermain di luar masih menjadi pilihan yang lebih sehat pada tahap awal kehidupan anak.

Source: www.indiatoday.in
Exit mobile version