Jika rencana FCC untuk melarang router buatan luar negeri benar-benar berjalan, dampaknya bisa terasa paling besar pada merek-merek yang paling banyak dipakai di Amerika Serikat. Data terbaru dari Ookla, induk Speedtest.net, memberi gambaran jelas tentang vendor mana yang paling berisiko terdampak jika kebijakan itu memperketat akses produk di pasar consumer.
Menurut laporan tersebut, TP-Link berada di posisi kedua dengan porsi 9,9% dari sampel tes kecepatan, sedangkan Eero milik Amazon memimpin tipis dengan 10%. Netgear, merek asal Amerika Serikat, menyusul di posisi ketiga dengan 9,6%, sehingga peta persaingan router di pasar AS terlihat jauh lebih beragam daripada dugaan awal banyak pihak.
Merek yang paling mungkin ikut terimbas
Kekhawatiran publik memang sejak lama tertuju pada TP-Link, karena perusahaan itu memiliki afiliasi asal Tiongkok. Sejumlah anggota parlemen AS sebelumnya juga menuduh TP-Link memakai harga sangat rendah untuk merebut pangsa pasar, bahkan sempat menyebut angka hampir 60% dalam kritik mereka.
Namun data Ookla menunjukkan situasinya tidak sesederhana tudingan politik. Selain TP-Link, ada beberapa vendor lain yang juga masuk jajaran teratas dan berpotensi ikut terdampak bila aturan FCC diperluas atau ditafsirkan lebih ketat terhadap perangkat impor.
Berikut daftar 5 vendor router teratas di AS menurut data Ookla:
- Eero — 10%
- TP-Link — 9,9%
- Netgear — 9,6%
- Arcadyan — bagian dari Compal, asal Taiwan
- Askey — dimiliki Asus, asal Taiwan
Arcadyan menjadi vendor terbesar keempat dalam data itu dan disebut sebagai pemasok router Wi-Fi utama untuk Verizon. Sementara itu, Askey berada di posisi kelima dan memasok router untuk Charter, salah satu penyedia internet besar di AS.
Mengapa FCC ingin membatasi router asing
Pemerintah AS menilai larangan ini sebagai langkah pencegahan terhadap risiko rantai pasok. Gedung Putih menyebut perangkat buatan luar negeri dapat membuka “supply chain vulnerabilities” yang bisa dimanfaatkan peretas.
Di sisi lain, kelompok industri WiFi NOW menilai kebijakan tersebut bisa menahan laju inovasi dan menaikkan harga bagi konsumen. CEO WiFi NOW, Claus Hetting, bahkan menulis bahwa inovasi Wi-Fi akan “severely hampered” dan menyebut biaya yang harus dibayar terlalu tinggi untuk risiko keamanan yang sifatnya hipotetis.
Kekhawatiran itu muncul karena memindahkan produksi router ke AS tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. WiFi NOW menyebut prosesnya bisa memakan waktu bertahun-tahun dan membutuhkan investasi besar, yang pada akhirnya berpotensi diteruskan ke konsumen.
Batas waktu pembaruan perangkat lama
FCC tidak melarang router yang sudah beredar di pasaran AS atau yang sedang dipakai konsumen saat ini. Namun, aturan yang ada saat ini hanya mengizinkan pembaruan perangkat lunak untuk router buatan luar negeri hingga 1 Maret 2027.
Batas ini penting karena pembaruan software menjadi salah satu cara utama menjaga router tetap aman dari celah serius. Tanpa dukungan update, perangkat lama akan lebih rentan terhadap risiko keamanan, meski masih bisa dipakai untuk koneksi dasar.
Seberapa besar risiko bagi pengguna
Laporan Ookla juga menyoroti bahwa banyak pengguna di AS masih bertahan di standar Wi-Fi yang lama. Sekitar 28% sampel Speedtest di AS masih berjalan di Wi-Fi 5, sementara sekitar 7% memakai Wi-Fi 4 atau lebih tua.
Data itu menunjukkan sebagian besar perangkat rumah tangga belum beralih ke teknologi terbaru, sehingga kebijakan yang menghambat peredaran router baru bisa berdampak pada kecepatan adopsi Wi-Fi generasi berikutnya. Dalam praktiknya, larangan yang terlalu luas tidak hanya memukul merek tertentu, tetapi juga bisa memperlambat pembaruan perangkat di rumah-rumah pengguna.
FCC sendiri disebut masih akan memberi penjelasan lebih lanjut soal kebijakan ini, dan tidak tertutup kemungkinan tenggat pembaruan diperpanjang. Di saat yang sama, para ahli hukum yang berbicara kepada PCMag juga menilai bukan mustahil jika kelak ada vendor yang menggugat kebijakan tersebut ke pengadilan, terutama bila dampaknya dinilai terlalu jauh terhadap pasar dan konsumen.







