Dampak krisis RAM makin nyata di pasar PC
Harga RAM dan komponen komputer kini masih berada di bawah tekanan besar akibat lonjakan kebutuhan industri AI. Kondisi ini membuat konsumen dan perakit PC ikut merasakan efeknya, mulai dari harga yang naik hingga pilihan produk yang makin terbatas.
Krisis ini tidak berdiri sendiri karena pasar memori ikut terdorong oleh pergeseran kapasitas produksi ke kebutuhan High Bandwidth Memory atau HBM. Carmen Li, Founder dan CEO Silicon Data, menjelaskan bahwa produsen memori memilih memaksimalkan lini HBM karena margin keuntungannya lebih tinggi, sehingga pasokan untuk produk konsumen ikut mengetat.
Mengapa harga RAM ikut terdongkrak
Silicon Data baru saja meluncurkan indeks harga RAM, melengkapi pemantauan mereka terhadap harga GPU. Dalam pengamatan awal, indeks harga GDDR6 naik sekitar 21% dalam sebulan, menandakan tekanan yang masih kuat di rantai pasok komputasi.
Li menekankan bahwa permintaan besar dari perusahaan AI ikut mengubah prioritas industri. OpenAI disebut sempat menyerap hingga 40% output DRAM global, sementara produsen seperti SK Hynix, Micron, dan Samsung mengalihkan kapasitas produksi ke segmen yang memberi keuntungan lebih besar.
Perubahan itu ikut memukul pasar perangkat keras berbasis Nvidia. Harga sewa B200 tercatat melonjak 24% pada Maret, sedangkan H100 relatif stabil dengan selisih harga yang tetap lebar di berbagai kanal penyedia.
Siapa yang paling terdampak
Tekanan harga tidak merata di seluruh pasar. Segmen kelas bawah justru dinilai paling rentan karena produsen sulit meneruskan kenaikan biaya ke konsumen yang sangat sensitif terhadap harga.
Li menyebut perusahaan bisa saja mengurangi produksi atau bahkan menghentikan sejumlah produk. Kondisi ini berisiko membuat perangkat entry-level hilang dari pasar, bukan sekadar menjadi lebih mahal.
Asus menjadi salah satu contoh paling jelas dari dampak biaya komponen. Perusahaan itu disebut menaikkan harga perangkat komputasi sebesar 25% sampai 30% untuk menutup biaya RAM yang bahkan sempat berlipat.
Tanda-tanda krisis mulai retak
Di tengah tekanan tersebut, muncul beberapa sinyal bahwa pasar mulai bergerak ke arah yang lebih stabil. Harga retail DDR5 tertentu turun sekitar 20%, sementara data Silicon Data menunjukkan RAM DDR5 untuk server naik 4,5% dan chip konsumen justru turun 7,8%.
Pergerakan ini menunjukkan adanya divergensi antara pasar server dan pasar konsumen. Selain itu, sejumlah GPU konsumen juga mulai turun harga, termasuk MSI Ventus RTX 5060 Ti 16GB yang merosot dari puncak $699 menjadi $514.
Ada beberapa faktor yang ikut membantu meredakan tekanan harga, di antaranya:
- Efisiensi AI yang meningkat, termasuk teknologi seperti TurboQuant dari Google.
- Pembelian besar yang semula diproyeksikan dari OpenAI disebut telah dikurangi.
- Putusan pengembalian tarif senilai $130 miliar untuk perusahaan seperti Dell dan Asus.
- Pengecualian baru untuk sebagian perangkat konsumen di bawah Section 232.
Pasokan baru bisa jadi penentu
Li melihat sumber pemulihan paling penting justru datang dari sisi manufaktur. Ia menilai sebuah foundry China yang telah tersertifikasi untuk memproduksi RAM konsumen bisa membantu menurunkan tekanan harga setelah produksi berjalan lebih luas.
Menurut Li, produsen baru itu kemungkinan tidak akan memprioritaskan HBM dan lebih fokus pada memori kelas bawah untuk pasar konsumen. Hal ini sejalan dengan laporan bahwa sejumlah produsen PC besar, termasuk Acer, sudah menguji paket memori dari perusahaan China seperti CXMT dan YMTC.
Meski begitu, diversifikasi pasokan juga membawa tantangan baru. Kualitas dan reliabilitas produk bisa bervariasi tergantung asal produksi, sehingga pasar berpotensi menghadapi masa penyesuaian sebelum harga benar-benar stabil.
Li menegaskan bahwa siklus memori memang selalu berulang, tetapi siklus kali ini berbeda karena didorong banyak faktor sekaligus. Untuk saat ini, ekspektasi penurunan harga dalam waktu dekat belum terlihat, sehingga pasar PC kemungkinan masih harus melewati periode mahal sebelum pasokan konsumen kembali lebih longgar.
