Serangan siber di Indonesia terus naik dan membuat banyak perusahaan harus mengubah cara mereka menjaga sistem digital. Laporan terbaru Kaspersky menunjukkan bahwa ancaman kini datang lebih cepat, lebih canggih, dan lebih sulit dideteksi dengan pendekatan keamanan lama.
Dalam situasi ini, Security Operations Center atau SOC muncul sebagai salah satu strategi yang paling relevan. Pusat operasi keamanan ini membantu perusahaan memantau, mendeteksi, dan merespons ancaman secara real-time agar dampak serangan bisa ditekan sejak awal.
Lonjakan serangan dan risiko yang makin luas
Data Kaspersky menunjukkan skala ancaman di Indonesia sudah berada pada level yang serius. Sepanjang tahun lalu, perusahaan mencatat lebih dari 14,9 juta serangan berbasis web dan 39,7 juta ancaman pada perangkat yang berhasil dideteksi serta diblokir di Indonesia.
Ancaman juga tidak lagi berhenti pada serangan langsung ke sistem perusahaan. Sekitar 20% perusahaan di Indonesia dilaporkan mengalami serangan rantai pasokan, yang berarti pelaku bisa masuk lewat pihak ketiga atau mitra bisnis yang menjadi bagian dari ekosistem digital perusahaan.
Pola serangan ini sejalan dengan perubahan besar dalam dunia usaha. Ketika digitalisasi makin meluas, pelaku kejahatan siber ikut memanfaatkan celah baru, termasuk Advanced Persistent Threats (APT), serangan berbasis AI, dan eksploitasi perangkat mobile.
Mengapa sistem keamanan tradisional mulai tertinggal
Banyak perusahaan masih mengandalkan model keamanan yang sifatnya reaktif. Model ini umumnya baru bertindak setelah ancaman masuk, sehingga waktu respons sering terlambat dan kerusakan bisa meluas.
Pendekatan seperti itu semakin kurang memadai karena serangan modern bergerak cepat dan sering menyamarkan jejak. Perusahaan kini membutuhkan sistem yang tidak hanya mengamankan perangkat, tetapi juga menghubungkan data, perilaku ancaman, dan respons dalam satu mekanisme yang terpusat.
Di titik ini, SOC menjadi penting karena memberi pengawasan berkelanjutan terhadap lingkungan TI perusahaan. Dengan pengamatan yang terus-menerus, tim keamanan bisa mengenali anomali lebih cepat dan mengambil tindakan sebelum insiden berubah menjadi gangguan besar.
SOC jadi prioritas baru perusahaan
Riset Kaspersky memperlihatkan bahwa kesadaran terhadap pentingnya SOC sudah meningkat di Indonesia. Sebanyak 58% pemimpin TI di Indonesia percaya SOC dapat meningkatkan keamanan, sementara 53% menilai deteksi ancaman yang lebih efektif menjadi alasan utama adopsinya.
Minat terhadap teknologi pendukung juga terus naik. Sebanyak 65% perusahaan berencana mengintegrasikan AI ke dalam SOC untuk memperkuat analisis dan mempercepat respons.
Adrian Hia menilai kawasan Asia Pasifik memang berada di garis depan transformasi digital global. Ia mengatakan, “Asia Pasifik memimpin dunia dalam transformasi digital dan adopsi AI. Hasil kuat kami di kawasan ini menunjukkan bahwa Kaspersky berada pada posisi strategis untuk mengamankan ekspansi digital tersebut.”
Tantangan implementasi masih nyata
Meski banyak perusahaan mulai tertarik membangun SOC, adopsinya tidak selalu mudah. Kaspersky mencatat 47% perusahaan masih kekurangan data pelatihan berkualitas, sedangkan 37% menghadapi keterbatasan tenaga ahli AI.
Selain itu, 29% perusahaan menyebut sulit menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa investasi teknologi saja belum cukup jika tidak diimbangi kesiapan sumber daya manusia dan strategi integrasi yang tepat.
Berikut tantangan utama yang masih dihadapi perusahaan dalam penerapan SOC:
| Tantangan | Persentase |
|---|---|
| Kekurangan data pelatihan berkualitas | 47% |
| Kekurangan tenaga ahli AI | 37% |
| Sulit menemukan solusi yang sesuai | 29% |
Pertumbuhan bisnis keamanan digital ikut terdorong
Tak hanya dari sisi ancaman, kebutuhan keamanan digital juga ikut mendorong pertumbuhan bisnis Kaspersky. Secara global, perusahaan ini mencatat pendapatan mendekati USD 836 juta dan tumbuh 4% secara tahunan.
Di kawasan Asia Pasifik, performa Kaspersky meningkat lebih kuat dengan pertumbuhan 12% di sektor B2B dan 22% di segmen enterprise. Segmen non-endpoint bahkan melonjak 40%, yang menandakan pasar semakin membutuhkan solusi keamanan yang lebih luas dan terintegrasi.
Di Indonesia, bisnis Kaspersky tumbuh 3% secara tahunan, sementara segmen B2C naik 48%. Angka ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap keamanan digital juga ikut menguat, terutama di tengah meningkatnya aktivitas online dan ancaman yang semakin beragam.
Arah baru pertahanan siber perusahaan
Kaspersky kini mendorong SOC yang terintegrasi dengan AI agar perusahaan bisa melihat ancaman dengan lebih luas dan cepat. Sistem ini juga ditujukan untuk mempercepat mean time to detect atau MTTD, serta mean time to respond atau MTTR saat insiden terjadi.
Integrasi dengan SIEM menjadi bagian penting dari pendekatan ini karena membantu analisis data yang lebih mendalam dan akurat. Dalam situasi serangan siber yang makin kompleks, perusahaan membutuhkan pertahanan yang bukan hanya kuat di titik akhir, tetapi juga cerdas dalam membaca pola ancaman sebelum kerusakan berkembang lebih jauh.
Source: id.mashable.com