Reed Hastings, sosok yang ikut mendirikan Netflix, akan meninggalkan perusahaan yang ia bangun sejak 29 tahun lalu. Kabar ini muncul saat Netflix sedang menata arah baru setelah gagal memperoleh kesepakatan senilai $72 billion terkait Warner Bros Discovery.
Pasar merespons cepat perubahan tersebut. Saham Netflix turun sekitar 8% setelah perusahaan menyampaikan dalam surat kepada investor bahwa Hastings tidak akan mencalonkan diri lagi dalam pemilihan ulang dewan pada rapat tahunan di bulan June.
Siapa Reed Hastings
Reed Hastings dikenal sebagai wirausahawan asal Amerika Serikat yang ikut mendirikan Netflix pada 1997. Di bawah kepemimpinannya, Netflix berubah dari layanan penyewaan DVD lewat pos menjadi platform streaming dominan di dunia.
Perannya tidak hanya penting dalam membesarkan perusahaan, tetapi juga dalam mengubah cara industri hiburan menjangkau penonton di rumah. Transformasi itu membuat model bisnis lama Hollywood terguncang, karena distribusi film dan serial semakin bergeser ke layanan digital.
Hastings juga lama menjadi wajah utama strategi Netflix. Ia memimpin sebagai CEO selama lebih dari dua dekade sebelum beralih menjadi executive chairman pada 2020.
Dalam periode tersebut, Netflix berkembang menjadi salah satu perusahaan hiburan paling berpengaruh. Di bawah arahannya, basis pelanggan global perusahaan melampaui 260 juta pelanggan.
Gaya kepemimpinan yang membentuk budaya Netflix
Hastings dikenal luas karena pendekatan manajemen yang tidak lazim. Ia sering dikaitkan dengan budaya “radical candor” serta dokumen presentasi 126 halaman tentang budaya perusahaan Netflix yang telah ditonton jutaan kali dan memengaruhi praktik manajemen di Silicon Valley.
Pendekatan itu ikut membangun citra Netflix sebagai perusahaan yang bergerak cepat dan berani mengambil keputusan besar. Budaya kerja tersebut sering dianggap sebagai salah satu fondasi yang membantu Netflix tumbuh agresif di tengah persaingan industri teknologi dan media.
Apa arti kepergian Hastings bagi Netflix
Kepergian Hastings dinilai menandai awal fase baru bagi Netflix. Analis senior eMarketer, Ross Benes, mengatakan bahwa iklan akan memainkan peran lebih besar seiring perusahaan memasuki era tanpa Reed Hastings.
Menurut Benes, momen ini penting untuk memperkuat bisnis periklanan Netflix. Ia menyebut waktunya tepat ketika pasar iklan sedang menjadi fokus utama perusahaan media dan teknologi.
Netflix sendiri menegaskan kepada investor bahwa misinya tetap sama. Dalam surat pemegang saham setebal 14 halaman, perusahaan mengatakan targetnya tetap “ambitious and unchanged”, yakni menghibur dunia melalui film dan serial untuk banyak selera, budaya, dan bahasa.
Perusahaan juga tidak mengubah panduan kinerja sepanjang tahun. Sikap ini memberi sinyal bahwa perubahan di jajaran pimpinan tidak serta-merta mengubah arah dasar bisnis.
Dampak kegagalan deal Warner Bros Discovery
Di saat transisi kepemimpinan terjadi, Netflix juga masih menghadapi sorotan akibat gagalnya upaya memperoleh Warner Bros Discovery. Perusahaan kehilangan bid senilai $72 billion untuk aset yang mencakup studio film Warner Bros dan HBO.
Meski gagal mendapatkan aset strategis itu, Netflix menerima termination fee sebesar $2.8 billion. Namun perusahaan tidak menjelaskan secara rinci bagaimana dana tersebut akan digunakan.
Sebelumnya, Netflix mengatakan kepada investor bahwa akuisisi Warner Bros lebih bersifat “nice to have, not need to have”. Pernyataan itu menunjukkan bahwa perusahaan ingin menegaskan pertumbuhan bisnis tidak bergantung pada kesepakatan besar tersebut.
Kinerja keuangan tetap menunjukkan ketahanan
Di tengah kabar mundurnya Hastings dan batalnya deal besar, laporan kuartal pertama Netflix justru menunjukkan hasil yang relatif kuat. Laba per saham naik menjadi $1.23, dibandingkan 66 cents per share pada kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan perusahaan juga naik menjadi $12.25 billion. Angka itu tumbuh 16% dari periode yang sama tahun lalu dan sedikit melampaui perkiraan analis sebesar $12.18 billion.
Termination fee dari kegagalan transaksi Warner Bros memang memberi dorongan satu kali pada laba. Namun secara keseluruhan, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa bisnis inti Netflix masih cukup tangguh.
Fokus pertumbuhan berikutnya
Setelah gagal memperluas portofolio lewat akuisisi besar, Netflix menyoroti area pertumbuhan lain. Perusahaan menyebut pengembangan penawaran hiburan seperti video podcasts dan live entertainment ikut mendorong engagement pengguna.
Salah satu contoh yang disebut adalah World Baseball Classic di Jepang. Netflix juga menegaskan akan memakai teknologi untuk meningkatkan pengalaman pengguna sekaligus memperbaiki monetisasi layanan.
Area iklan menjadi bagian penting dari strategi itu. Perusahaan menyatakan pendapatan iklan tetap berada di jalur untuk mencapai $3 billion pada 2026, atau dua kali lipat dari setahun sebelumnya.
Perubahan ini memperlihatkan bahwa masa depan Netflix tidak lagi hanya bertumpu pada langganan streaming tradisional. Saat Reed Hastings bersiap meninggalkan dewan, fokus perusahaan kini mengarah pada monetisasi yang lebih luas, penguatan bisnis iklan, dan perluasan format hiburan untuk menjaga pertumbuhan di tengah persaingan yang makin ketat.
