Baru 10 Menit Mengandalkan AI, Studi Temukan Otak Lebih Cepat Menyerah Tanpa Bantuan

Ketergantungan pada AI untuk menyelesaikan tugas berpikir ternyata bisa menimbulkan efek samping yang tidak sepele. Sebuah studi menemukan bahwa bantuan AI memang membuat orang bekerja lebih cepat dan lebih akurat, tetapi kemampuan mereka bisa menurun saat alat itu tidak lagi tersedia.

Temuan ini menyoroti risiko yang muncul ketika AI dipakai terus-menerus untuk tugas yang menuntut penalaran. Dampaknya bukan hanya pada hasil jawaban, tetapi juga pada kemauan untuk tetap mencoba menyelesaikan masalah secara mandiri.

AI membantu cepat, tetapi efeknya tidak berhenti di situ

Dalam studi berjudul AI Assistance Reduces Persistence and Hurts Independent Performance, peneliti dari AS dan Inggris meneliti bagaimana AI memengaruhi kinerja manusia pada tugas yang berat secara kognitif. Fokusnya mencakup aktivitas seperti memecahkan soal, memahami bacaan, dan mengolah informasi.

Selama fase penggunaan AI, hasilnya sesuai dugaan. Peserta yang mendapat bantuan chatbot berbasis machine learning mampu menyelesaikan persoalan dengan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih tepat dibanding peserta yang tidak memakai bantuan.

Namun perubahan terlihat saat AI tiba-tiba dihentikan. Setelah alat bantu diambil, peserta yang sebelumnya dibantu justru menunjukkan penurunan kemampuan yang terukur.

Peneliti menyebut penurunan itu muncul cukup cepat. Sekitar 10 menit pemecahan masalah dengan bantuan AI sudah cukup untuk memunculkan penurunan performa ketika peserta kembali harus bekerja sendiri.

Bukan hanya kemampuan, daya tahan mental juga turun

Efek yang diamati tidak sebatas jumlah jawaban benar dan salah. Studi itu juga mencatat perubahan pada persistensi, yaitu kecenderungan seseorang untuk tetap berusaha saat menghadapi soal yang sulit.

Ketika bantuan AI dihentikan, sebagian peserta menjadi lebih cepat menyerah. Dalam beberapa kasus, mereka juga lebih sering melewatkan pertanyaan sepenuhnya.

Pola ini membuat kekhawatiran peneliti bertambah. Ketergantungan pada AI tampaknya bukan hanya mengurangi performa sesaat, tetapi juga melemahkan dorongan untuk berpikir mandiri.

Salah satu penulis studi, Rachit Dubey, menilai masalahnya bukan cuma orang jadi lebih sering salah tanpa AI. Menurutnya, pengguna juga menjadi kurang terdorong untuk mencoba memikirkan dan menjawab sendiri.

Hasil serupa muncul di beberapa jenis eksperimen

Penelitian itu dijalankan melalui beberapa eksperimen terkontrol. Dalam salah satu pengujian, sekitar 350 peserta diminta mengerjakan soal matematika berbasis pecahan.

Sebagian peserta diberi akses ke asisten AI yang dapat memberikan jawaban secara instan. Sebagian lain menyelesaikan tugas tanpa bantuan apa pun.

Seperti yang diperkirakan, kelompok dengan AI tampil lebih baik selama fase bantuan tersedia. Tetapi ketika akses itu dicabut di tengah eksperimen, performa mereka turun dengan jelas.

Eksperimen kedua melibatkan hampir 670 peserta. Hasilnya mengulang pola yang sama dan memperkuat temuan sebelumnya.

Pengujian ketiga tidak lagi berfokus pada matematika, melainkan pemahaman bacaan. Meski jenis tugasnya berbeda, tren yang muncul tetap serupa ketika AI dihilangkan.

Kekhawatiran pada kebiasaan berpikir jangka panjang

Para peneliti memperingatkan bahwa penggunaan AI yang terlalu sering dapat perlahan melemahkan kemampuan berpikir mendalam. Kemampuan untuk tetap fokus dan bertahan menyelesaikan masalah tanpa bantuan juga dinilai bisa ikut terkikis.

Dubey mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada chatbot dapat memicu sikap tidak sabar. Dalam kondisi itu, proses berpikir sendiri bisa mulai terasa sebagai usaha yang tidak perlu.

Jika pola tersebut terus berkembang, risikonya meluas. Bukan hanya keterampilan yang menurun, tetapi juga rasa percaya diri, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah secara independen.

Masih perlu ditelaah lebih lanjut, tetapi sinyalnya sudah jelas

Studi ini belum melalui proses peer review. Meski begitu, temuan tersebut menambah diskusi yang makin besar soal cognitive offloading, yaitu kebiasaan menyerahkan semakin banyak proses berpikir kepada mesin.

Istilah itu merujuk pada situasi ketika manusia tidak lagi mengandalkan kemampuan kognitifnya sendiri secara penuh. AI kemudian berperan bukan sekadar alat bantu, tetapi pengganti sebagian proses mental dalam tugas sehari-hari.

Karena AI makin terintegrasi ke alur kerja harian, peneliti menilai perhatian tidak boleh hanya tertuju pada apa yang bisa diberikan teknologi itu. Pertanyaan lain yang juga penting adalah apa yang mungkin pelan-pelan diambil dari manusia saat ketergantungan itu tumbuh.

Temuan ini menunjukkan bahwa efisiensi dari AI memang nyata, tetapi penggunaannya tidak bebas konsekuensi. Dalam tugas penalaran, alat yang membantu menyelesaikan masalah dengan cepat juga bisa membuat kemampuan berpikir mandiri menjadi lebih rapuh ketika bantuan itu tidak ada.

Source: www.indiatoday.in
Exit mobile version