Kecerdasan buatan kini dipakai untuk menghidupkan kembali salah satu korban letusan Gunung Vesuvius di Pompeii. Bukan dalam arti harfiah, melainkan lewat rekonstruksi wajah, postur tubuh, dan momen terakhir seorang pria yang diduga sedang berusaha melarikan diri saat bencana melanda.
Visual digital itu dirilis oleh Pompeii Archaeological Park dan menampilkan sosok pria dewasa yang membungkuk sambil mengangkat wadah terakota besar di atas kepalanya. Di sekelilingnya, material vulkanik tampak berjatuhan, sementara Vesuvius terlihat sedang meletus di latar belakang.
Gambar tersebut tidak diposisikan sebagai foto atau potret pasti dari masa lalu. Rekonstruksi itu disebut sebagai interpretasi yang berpijak pada data ilmiah, termasuk hasil penggalian, analisis rangka, dan benda-benda yang ditemukan di sekitar jasad.
Pendekatan ini memberi dimensi baru pada kisah kehancuran Pompeii yang selama hampir 2.000 tahun dikenang lewat catatan sejarah dan temuan arkeologi. Kini, korban yang selama ini hanya dikenali dari tulang-belulang mulai ditampilkan sebagai individu dengan gerak tubuh, ekspresi situasi, dan kemungkinan keputusan terakhirnya.
Ditemukan di jalur pelarian
Sisa-sisa tubuh pria itu ditemukan di luar salah satu pintu selatan Pompeii, dekat area Porta Stabia dan nekropolis yang berada sedikit di luar tembok kota. Arkeolog meyakini ia sedang berusaha menuju pantai pada hari kedua letusan ketika akhirnya terkena material vulkanik yang jatuh.
Ia tidak ditemukan sendirian karena ada set jenazah lain di dekat lokasi tersebut. Namun, postur tubuhnya dan benda-benda di sekelilingnya dinilai memberi gambaran yang sangat jelas tentang detik-detik terakhirnya.
Salah satu temuan penting di samping kerangka itu adalah mortar terakota, wadah yang biasanya dipakai untuk menggiling biji-bijian atau mencampur bahan makanan. Para peneliti menduga benda itu diraih secara spontan lalu diangkat ke atas kepala sebagai pelindung darurat dari batu atau puing yang berjatuhan.
Selain itu, tim juga menemukan lampu minyak, cincin besi kecil, dan sepuluh koin perunggu. Rangkaian benda sehari-hari itu menguatkan dugaan bahwa ia melarikan diri dengan tergesa-gesa sambil membawa apa pun yang sempat dijangkau.
AI dipakai untuk membaca jejak manusia
Rekonstruksi digital tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan University of Padua. Prosesnya menggabungkan data survei arkeologi dengan perangkat AI yang mampu menerjemahkan bukti fisik menjadi visual yang lebih hidup.
Hasil akhirnya bukan hanya menampilkan cara pria itu kemungkinan tewas. Rekonstruksi itu juga berupaya menunjukkan bagaimana ia hidup, apa yang mungkin ia bawa, dan bagaimana tubuhnya bereaksi di tengah kepanikan saat kota runtuh di sekitarnya.
Bagi arkeologi, langkah ini penting karena memperluas cara publik memahami masa lalu. Tulang, posisi tubuh, dan barang-barang kecil yang sebelumnya tampak sebagai data terpisah kini dapat dibaca sebagai satu adegan manusiawi yang lebih utuh.
Pompeii sendiri terkubur setelah letusan Vesuvius pada tahun 79 M. Bencana itu menewaskan ribuan orang dan mengawetkan banyak jejak kehidupan sehari-hari, dari bangunan, jalan, hingga sisa-sisa tubuh manusia yang ditemukan berabad-abad kemudian.
Bukan menggantikan arkeologi
Direktur Pompeii Archaeological Park, Gabriel Zuchtriegel, menegaskan bahwa AI tidak dipakai untuk menggantikan kerja arkeologi konvensional. Menurut dia, teknologi ini justru menjadi perpanjangan dari metode yang sudah ada.
Zuchtriegel menyatakan bahwa skala data arkeologi kini begitu besar sehingga bantuan AI dibutuhkan agar data itu bisa dilindungi dan dimanfaatkan dengan memadai. Ia juga menilai bahwa penggunaan AI yang tepat dapat berkontribusi pada pembaruan studi klasik.
Pernyataan itu menempatkan rekonstruksi ini bukan sekadar eksperimen visual. Proyek tersebut hadir sebagai contoh bagaimana teknologi baru dipakai untuk memperkuat pembacaan atas bukti lama, bukan menutupinya dengan dramatisasi.
Karena itu, nilai utama gambar ini bukan pada sensasi melihat “wajah” korban Pompeii. Nilainya ada pada upaya menyatukan sains, konteks lokasi, posisi kerangka, dan benda-benda sederhana yang tertinggal untuk menghadirkan kembali satu kisah manusia dari salah satu bencana paling terkenal dalam sejarah.
Source: www.indiatoday.in






