Alphabet, induk Google, menyiapkan belanja AI hingga $190 miliar pada 2026. Nilai itu lebih dari dua kali anggaran pertahanan India sebesar sekitar $87 miliar dalam Union Budget 2026–27.
Skala belanja ini menandai fase baru perlombaan infrastruktur AI di Silicon Valley. Angka tersebut juga lebih besar daripada produk domestik bruto sejumlah negara seperti Hungaria atau Ekuador.
Dorongan utamanya datang dari lonjakan kebutuhan komputasi AI yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam paparan kinerja kuartalan, CFO Alphabet Anat Ashkenazi mengatakan permintaan internal dan eksternal untuk sumber daya komputasi AI terus meningkat tajam.
Belanja itu tidak diarahkan ke satu produk tunggal, melainkan ke fondasi teknis yang menopang seluruh bisnis AI Google. Sekitar 60 persen anggaran akan digunakan untuk server, sedangkan 40 persen sisanya dialokasikan ke pusat data dan peralatan jaringan.
Uang besar untuk fondasi AI
Porsi terbesar dari dana tersebut akan mengalir ke server, chip, dan data center. Infrastruktur ini menjadi tulang punggung untuk melatih, menyetel, dan menjalankan model AI dalam skala sangat besar.
Google juga terus memperluas jaringan pusat data global yang dioptimalkan untuk AI. Banyak fasilitas itu ditenagai Tensor Processing Units atau TPU, chip buatan Google yang dirancang khusus untuk beban kerja AI modern.
TPU kini makin diposisikan sebagai alternatif terhadap GPU Nvidia untuk kebutuhan tertentu. Google juga berencana memperdalam investasi pada pengembangan chip ini.
Kebutuhan terhadap infrastruktur tersebut tumbuh seiring adopsi AI yang makin cepat. Setiap kueri pencarian, respons AI, dan alur kerja otomatis membutuhkan sistem yang cepat, andal, dan selalu tersedia.
Google menyatakan Gemini, model AI andalannya, kini memproses lebih dari 16 miliar token per menit melalui API langsung. Di saat yang sama, jumlah pengguna aktif bulanan berbayar Gemini Enterprise naik 40 persen pada kuartal terakhir.
Pertumbuhan itu tidak hanya terlihat pada metrik penggunaan. Google juga meneken kesepakatan enterprise besar dengan perusahaan seperti Bosch, Mars, dan Merck.
Bukan belanja spekulatif
Besarnya anggaran ini muncul ketika antrean kontrak cloud Google juga melonjak. Backlog cloud perusahaan hampir dua kali lipat menjadi $460 miliar, menunjukkan permintaan yang sudah terkunci, bukan sekadar proyeksi optimistis.
Fakta ini penting karena belanja AI skala besar sering dipertanyakan dari sisi pengembalian investasi. Dalam kasus Google, kapasitas baru tampak disiapkan untuk memenuhi kebutuhan yang sudah ada di depan mata.
Tekanan operasionalnya juga tidak kecil. Model AI harus terus dilatih ulang, disesuaikan, dan disebarkan ke miliaran pengguna secara bersamaan.
Karena itu, investasi pada pusat data tidak cukup hanya soal menambah rak server. Google juga perlu memastikan jaringan, penyimpanan, dan sistem distribusi mampu menopang layanan AI tanpa gangguan.
Energi menjadi bagian lain yang tak bisa diabaikan. Pusat data AI dikenal sangat boros daya, sehingga ekspansi Google turut dibarengi investasi pada energi terbarukan, teknologi pendinginan canggih, dan komitmen energi bebas karbon jangka panjang.
Perang belanja antar raksasa teknologi
Google bukan satu-satunya perusahaan yang menggelontorkan dana raksasa untuk AI. Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft secara kolektif diproyeksikan menghabiskan hingga $725 miliar dalam belanja modal pada 2026.
Angka gabungan itu melonjak 77 persen dari rekor tahun sebelumnya sebesar $410 miliar. Lompatan tersebut menunjukkan bahwa perlombaan AI kini ditentukan bukan hanya oleh model terbaik, tetapi juga oleh siapa yang paling cepat membangun kapasitas komputasi.
Microsoft diperkirakan menginvestasikan sekitar $190 miliar pada tahun ini. Sekitar dua pertiga dari dana itu diarahkan ke GPU, CPU, dan perangkat AI lainnya.
Meta juga menaikkan proyeksi belanja modalnya menjadi hingga $145 miliar. Langkah itu menegaskan bahwa tekanan kompetitif mendorong setiap pemain besar untuk terus menambah kapasitas agar tidak tertinggal.
Dalam konteks itu, keputusan Google mengalokasikan hingga $190 miliar terlihat sebagai respons atas dua tekanan sekaligus. Perusahaan harus memenuhi permintaan yang terus naik, sambil menjaga posisinya di tengah persaingan yang makin mahal.
Skala belanja ini bahkan belum berhenti di 2026. Menurut pernyataan CFO Alphabet, pengeluaran perusahaan pada 2027 akan lebih tinggi lagi.
Pernyataan tersebut memberi sinyal bahwa era investasi AI besar-besaran belum mendekati puncaknya. Untuk Google, pertaruhannya bukan sekadar ekspansi cloud atau produk baru, melainkan kapasitas dasar yang akan menentukan seberapa jauh layanan AI-nya bisa tumbuh dalam beberapa tahun ke depan.
Source: www.indiatoday.in