Banyak pengguna PC masih menghindari BIOS atau UEFI karena menu ini terasa rumit dan berisiko. Padahal, di balik tampilan yang asing, ada pengaturan gratis yang bisa membuka performa tambahan tanpa harus membeli komponen baru.
Masalahnya, BIOS bukan tempat untuk coba-coba. Di level ini, perubahan bisa memengaruhi cara PC bekerja sebelum Windows atau sistem operasi lain sempat dimuat, sehingga satu langkah yang salah dapat berujung pada masalah booting atau ketidakstabilan.
Empat tweak yang layak dicoba
Salah satu langkah paling aman dan paling berguna adalah mengaktifkan XMP atau EXPO untuk RAM. Banyak modul memori tidak langsung berjalan pada kecepatan yang tertulis di kemasan, dan profil ini membuat motherboard memakai kecepatan, timing, dan voltase yang sudah diiklankan.
Fitur ini biasanya muncul dengan nama XMP, EXPO, DOCP, A-XMP, atau memory profile. Namun, karena tetap termasuk overclock, sistem yang menjadi tidak stabil berarti pengaturannya perlu diturunkan lagi.
Tweaks lain yang sering memberi keuntungan adalah mengaktifkan Resizable BAR atau Smart Access Memory. Fitur ini membuat CPU dapat mengakses lebih banyak VRAM GPU sekaligus, bukan dalam potongan kecil, dan pada sebagian game hal itu dapat meningkatkan performa.
Pengaturannya umumnya ada di bagian PCIe, advanced, atau chipset. Fitur ini juga menuntut dukungan dari CPU, GPU, motherboard, dan BIOS agar bisa bekerja.
Pengaturan kipas juga layak diperhatikan. Fan curve menentukan seberapa cepat kipas berputar pada suhu tertentu, dan penyesuaian yang tepat bisa membuat sistem lebih dingin tanpa harus menerima kebisingan yang berlebihan.
Di BIOS, opsi ini biasanya berada di bawah hardware monitor, fan control, Smart Fan, Q-Fan, atau nama serupa. Pengguna bisa mengatur tiap kipas secara lebih rinci, memilih mode PWM atau DC, lalu menentukan seberapa agresif kipas merespons kenaikan suhu.
Tweak keempat adalah mengaktifkan TPM 2.0 dan Secure Boot. Keduanya penting untuk Windows 11, membantu memenuhi syarat sistem, mendukung fitur keamanan tertentu, dan pada beberapa game dengan anti-cheat juga bisa menjadi persyaratan.
Meski begitu, Secure Boot kadang menyulitkan instalasi Windows lama, terutama jika sistem dipasang dalam mode Legacy, bukan UEFI. Karena itu, perubahan ini perlu disesuaikan dengan kondisi instalasi yang sudah ada.
Empat pengaturan yang sebaiknya tidak disentuh sembarangan
Di sisi lain, ada pengaturan BIOS yang tampak teknis tetapi bisa membawa konsekuensi besar. Manual CPU voltage termasuk yang paling berbahaya bagi pengguna yang belum paham overclocking, karena pengaturan tegangan yang salah dapat merusak prosesor.
Base clock atau BCLK juga bukan menu untuk eksperimen ringan. Perubahan pada clock dasar ini bisa memengaruhi lebih dari sekadar CPU, sehingga risiko ketidakstabilan jauh lebih besar pada banyak sistem.
Pengaturan mode penyimpanan juga wajib dihindari jika sistem sudah terpasang. SATA mode, storage controller mode, Intel RST, RAID, dan AHCI mengatur cara motherboard berkomunikasi dengan drive, dan perubahan setelah Windows terpasang dapat membuat PC gagal booting.
Ada alasan sah untuk mengubahnya saat membangun RAID, mengatasi masalah penyimpanan, atau memasang sistem dengan konfigurasi khusus. Tetapi untuk sekadar mengejar performa, opsi ini bukan sasaran yang bijak.
Bagian yang sering terlihat aman justru adalah yang paling sensitif, yaitu Secure Boot keys dan TPM clearing. Menghapus data TPM bisa mengganggu enkripsi, fitur masuk akun, dan alat keamanan lain.
Sementara itu, mengubah atau menghapus Secure Boot keys dapat membuat sistem berhenti mempercayai perangkat lunak yang dibutuhkan untuk proses boot. Risiko seperti ini membuat BIOS lebih tepat diperlakukan sebagai alat konfigurasi, bukan ruang bermain.
Karena BIOS mengatur fondasi kerja PC, langkah paling aman adalah memahami fungsi tiap opsi sebelum menekannya. Jika suatu pengaturan tidak dipahami sepenuhnya, lebih baik membiarkannya tetap seperti semula daripada mengubahnya lalu harus memperbaiki akibatnya.







