Satu pengalaman beralih dari Windows ke Linux kembali menegaskan bahwa keluhan soal PC modern bukan lagi sekadar nostalgia. Setelah 28 tahun memakai Windows, seorang pengguna yang telah hidup bersama sistem operasi Microsoft itu sejak sekitar 1998 akhirnya meninggalkannya dan mencoba Pop!_OS.
Langkah itu terasa besar karena Windows bukan sekadar alat kerja, melainkan fondasi untuk gaming, membuat UI, membangun website, menulis program, menyelesaikan kuliah, hingga meniti karier di jurnalisme teknologi. Namun, pengalaman panjang itu juga diiringi rasa frustrasi terhadap Windows modern yang dinilai makin berat, makin penuh iklan, dan makin mengganggu alur kerja.
Dari kejenuhan Windows ke rasa penasaran Linux
Keluhan yang muncul tidak main-main. Windows modern disebut membawa telemetri yang terus mengirim data penggunaan ke server Microsoft, integrasi Copilot AI yang agresif, iklan untuk Microsoft 365, Teams, Candy Crush, dan pembaruan yang terlalu sering.
Di sisi lain, Pop!_OS dipilih karena dianggap berada di posisi tengah yang pas. Distro ini disebut matang, punya Cosmic UI yang menarik, dan hadir di momen ketika Proton dari Valve sudah makin memudahkan gaming di Linux.
Pilihan itu juga tidak diambil secara ekstrem. Sistem dual boot dipakai agar Windows tetap ada, sementara Pop!_OS bisa dicoba tanpa menghapus instalasi utama.
Instalasi yang butuh persiapan, tapi tidak terlalu rumit
Proses pemasangan Pop!_OS dimulai dengan langkah yang cukup familiar bagi pengguna PC. Dibutuhkan USB 8 GB, alat Rufus untuk membuat media bootable, lalu file ISO yang sesuai dengan kartu grafis, apakah AMD atau Nvidia.
Untuk skenario Nvidia, disarankan memakai varian “Pop!_OS 24.04 LTS with NVIDIA”, sedangkan perangkat AMD memakai ISO standar “Pop!_OS 24.04 LTS”. Sebelum instalasi, partisi Windows perlu dikecilkan, Fast Startup dan BitLocker harus dimatikan, lalu secure boot di BIOS diubah menjadi “Other OS”.
Setelah masuk ke installer Pop!_OS, pengguna memilih Custom Install dan membuat partisi dari ruang kosong yang sudah disiapkan. Setelah itu, sistem diperbarui lewat Terminal dengan perintah sudo apt update && sudo apt full-upgrade -y agar driver dan aplikasi ikut diperbarui.
Pengalaman harian terasa lebih ringan
Kesan paling kuat datang dari pemakaian sehari-hari. Pop!_OS disebut terasa bersih, responsif, dan rendah latensi dibanding Windows, sampai membuat perpindahan kembali ke Windows terasa seperti kembali ke sistem yang lebih lambat.
Pengalaman itu terasa bahkan pada perangkat yang sangat kencang, yakni Ryzen 9 9900X, RTX 5080, RAM 64 GB DDR5, dan SSD WD SN8100. Perbedaan ini dijelaskan dengan desain dasar Linux yang lebih ringan, sementara Windows membawa banyak lapisan kompatibilitas lama yang saling bertumpuk.
Cosmic UI juga dipandang lebih fleksibel karena bisa diganti atau dilepas tanpa membuat sistem runtuh. Di sisi file system, Linux memakai ext4 alih-alih NTFS, dan sistem ini dinilai unggul untuk operasi file cepat.
Kustomisasi dan ekosistem aplikasi jadi nilai tambah
Pop!_OS menawarkan banyak cara instalasi aplikasi. Pengguna bisa memasang paket .deb, mengunduh lewat terminal, atau memakai Flatpak untuk membatasi akses aplikasi ke sistem.
Ada juga dukungan aplikasi bawaan yang mempermudah kebutuhan sehari-hari. VPN dapat tampil di tab jaringan sebagai fitur tersendiri, sementara toko aplikasinya disebut sangat kaya pilihan.
Masalah terbesar tetap ada pada ketersediaan aplikasi. Adobe, Affinity, Battle.net, Office 365, iTunes, Notion, serta banyak aplikasi RGB seperti Corsair iCUE, Logitech, Razer, Armoury Crate, NZXT Cam, dan Elgato tidak tersedia secara native.
Meski begitu, alternatif tetap ada. GIMP, Krita, OpenRGB, dan LibreOffice bisa menggantikan banyak kebutuhan, sementara aplikasi berbasis web seperti Tidal atau Google Drive dapat dipasang sebagai PWA agar terasa seperti program desktop biasa.
Gaming Linux makin masuk akal, tapi belum sempurna
Lutris dan Wine memberi jalan untuk menjalankan aplikasi Windows melalui lapisan kompatibilitas. Proton, yang dikembangkan Valve sebagai turunan Wine untuk menerjemahkan DirectX ke Vulkan, disebut sebagai faktor terbesar yang membuat gaming modern di Linux menjadi mungkin.
Masalah kompatibilitas Nvidia juga sudah jauh membaik. Nvidia merilis kernel module open-source untuk seri GTX 16/RTX 20 dan yang lebih baru pada 2022, lalu teknologi itu dinilai mulai matang setelah awal yang cukup sulit.
Pengujian game memperlihatkan hasil yang campur aduk. Pada 1080p, penurunan performa rata-rata sekitar 11,1 persen, lalu naik menjadi 16,3 persen pada 4K, meski Cyberpunk 2077 dengan DLSS di 1080p justru unggul di Pop!_OS dengan 127 fps dibanding 111 fps di Windows.
Total War: Warhammer 3 menjadi pengecualian terburuk. Di game itu, Pop!_OS tertinggal 21 persen pada 1080p dan 25 persen pada 4K, sehingga Linux dinilai belum cocok untuk semua jenis game strategi berat yang sangat sensitif terhadap beban CPU dan API.
Masih ada tarik-menarik antara idealisme dan kebutuhan kerja
Kesimpulan praktisnya tidak sepenuhnya hitam-putih. Pop!_OS memberi pengalaman yang menyenangkan, cepat, dan rapi, tetapi kebutuhan kerja tertentu masih mengikat pengguna ke Windows.
Affinity dan software benchmark tetap menjadi alasan utama untuk kembali ke ekosistem Microsoft. Bahkan setelah menyukai Linux, pilihan akhirnya masih ditentukan oleh kompatibilitas aplikasi dan tuntutan pekerjaan sehari-hari.
