Satya Nadella akan duduk di kursi saksi dalam persidangan yang bisa menentukan arah masa depan OpenAI dan memperuncing benturan antara Elon Musk, Microsoft, dan raksasa AI yang dulu ia bantu dirikan. Kesaksiannya dinilai penting karena sejumlah email internal disebut akan membuka bagaimana Microsoft ikut membiayai transformasi OpenAI dari organisasi nirlaba menjadi perusahaan AI bernilai sangat besar.
Di pengadilan federal Oakland, California, perhatian publik tertuju pada babak akhir sengketa yang sudah lama memanas di kalangan elite Silicon Valley. Setelah Nadella, giliran CEO OpenAI Sam Altman yang diperkirakan menghadapi pertanyaan pada Selasa atau Rabu mendatang.
Tuduhan Musk soal pengkhianatan misi
Elon Musk menuduh OpenAI menyimpang dari misi awalnya untuk kemanusiaan dan berubah menjadi imperium bisnis bernilai lebih dari $850 miliar. Ia juga mengklaim donasi pendiriannya sebesar $38 juta disalahgunakan untuk kepentingan komersial yang menguntungkan pihak tertentu.
Musk meminta OpenAI kembali ke status organisasi nirlaba. Jika tuntutan itu dikabulkan, posisi OpenAI di tengah persaingan dengan Google, Anthropic, dan DeepSeek asal China bisa terguncang besar.
OpenAI melawan balik
OpenAI membantah tuduhan tersebut dan menyebut Musk pergi secara sukarela setelah gagal memperoleh kendali mayoritas. Perusahaan itu juga menilai gugatan ini sebagai upaya Musk untuk menekan pesaing, apalagi ia kini memimpin perusahaan AI sendiri, xAI, yang berhadapan langsung dengan ChatGPT.
Keputusan akhir soal ada atau tidaknya pelanggaran hukum akan berada di tangan juri penasihat. Vonis diperkirakan muncul pada pertengahan Mei 2026, sementara hakim Yvonne Gonzalez Rogers akan memegang kendali penuh atas putusan final terkait kewajiban hukum dan kompensasi.
Email lama, investasi besar, dan pertanyaan tentang motif
Tim hukum Musk berupaya meyakinkan juri bahwa Microsoft sudah mengetahui rencana pengalihan misi yayasan nirlaba itu sejak 2019 demi keuntungan finansial. Mereka menjadikan rangkaian email Januari 2018 sebagai bukti utama, termasuk korespondensi yang menunjukkan Microsoft hanya mau menggelontorkan dana setelah peluang profit terlihat nyata.
Dalam email itu, Nadella disebut sempat mempertanyakan apakah riset OpenAI benar-benar bisa membantu Microsoft unggul dalam perlombaan teknologi AGI. Fakta ini menjadi salah satu titik penting karena memperlihatkan bahwa hubungan kedua perusahaan sejak awal tidak sepenuhnya berdiri di atas semangat filantropi.
Nilai investasi Microsoft ikut disorot
Setelah OpenAI mendirikan anak perusahaan profit untuk menarik investor besar, Microsoft akhirnya menyuntikkan dana total $13 miliar. Investasi itu kini disebut sangat menguntungkan karena nilai saham Microsoft di OpenAI melonjak 17 kali lipat menjadi sekitar $228 miliar.
Persidangan juga menyingkap catatan harian salah satu pendiri, Greg Brockman, yang menunjukkan ambisi mencari keuntungan finansial sejak 2017. Pengacara Musk memakai catatan itu untuk menggambarkan manajemen OpenAI sebagai pihak yang oportunistis sejak awal.
Ketegangan personal dan manuver baru di industri AI
Di luar isu bisnis, sidang juga diwarnai kesaksian emosional Brockman yang mengaku pernah diancam secara fisik oleh Musk pada 2017. Konflik personal itu menambah lapisan baru dalam perkara yang semula berpusat pada dugaan pelanggaran kontrak dan penyalahgunaan dana hibah.
Di saat persidangan berlangsung panas, Musk mengumumkan kemitraan besar dengan Anthropic, salah satu rival utama OpenAI di pasar kecerdasan buatan. Lewat kerja sama itu, Anthropic dapat memakai kapasitas komputasi super besar di pusat data SpaceX untuk mempercepat pengembangan teknologi AI mereka.
Source: id.mashable.com






