India dinilai tidak lagi sekadar menjadi pasar besar teknologi, tetapi mulai tampil sebagai pemimpin di sejumlah bidang baru seperti personal AI. Penilaian itu datang dari Senior Vice President dan General Manager Wearables and Personal AI Qualcomm, Dino Bekis, yang menyebut perubahan ekosistem teknologi India sangat terasa dalam dua dekade terakhir.
Menurut Bekis, transformasi itu penting karena menunjukkan pergeseran dari fokus lama pada infrastruktur dan proyek industri menuju keberanian membangun teknologi baru bertaraf global. Ia menilai India kini tidak hanya memiliki tenaga kerja terdidik, tetapi juga semakin aktif menerapkan kemampuan itu untuk memecahkan masalah besar di dalam negeri dan memimpin di beberapa area teknologi baru.
Bekis bukan sosok asing bagi tim Qualcomm di India. Ia mengatakan sudah sering datang ke India selama hampir 20 tahun, sehingga memiliki perspektif langsung soal perubahan karakter industri teknologi di negara tersebut.
Ia menggambarkan India di masa lalu sebagai ekosistem yang didominasi perusahaan besar dan cenderung monolitik. Kini, menurut dia, suasananya berbeda karena lebih berenergi, lebih giat berwirausaha, dan tidak ragu mengambil peluang di teknologi yang benar-benar baru di tingkat global.
Pernyataan itu ia sampaikan di sela acara Snapdragon For India di Delhi. Dalam agenda itu, Qualcomm memperkenalkan prosesor Snapdragon baru dari Series 4 dan Series 6 yang disebut telah disetel khusus untuk menghadirkan pengalaman terbaik dalam kondisi penggunaan di India.
Qualcomm juga menjelaskan upayanya meningkatkan kualitas perangkat dari berbagai sisi, mulai dari jaringan hingga suara. Fokus ini sejalan dengan pandangan Bekis bahwa tahap berikutnya dalam komputasi personal akan sangat dipengaruhi oleh AI dan antarmuka yang lebih alami.
Suara jadi antarmuka penting AI
Bekis menaruh perhatian besar pada teknologi suara. Menurut dia, ketika AI makin terintegrasi ke perangkat dan industri mencari gadget yang dapat menggantikan atau mendampingi smartphone dalam kehidupan digital, suara akan menjadi antarmuka utama.
Ia menggambarkan evolusi interaksi manusia dengan perangkat secara bertahap. Setelah era mouse komputer dan kemudian layar sentuh, arah berikutnya dinilai mengarah ke suara sebagai medium pengendali perangkat yang semakin dominan.
Bekis menilai suara adalah cara komunikasi yang paling alami bagi manusia. Karena itu, jika AI ingin mencapai potensi penuhnya dan membuat pengguna merasa nyaman, interaksi harus mengurangi hambatan sebanyak mungkin.
Dalam pandangannya, bahasa alami berbasis ucapan saat ini menjadi medium yang paling minim friksi. Ia bahkan menyebut suara sebagai antarmuka yang wajib untuk AI pada tahap sekarang, setidaknya sampai suatu hari perangkat bisa dikendalikan hanya lewat pikiran.
Pandangan itu memberi konteks mengapa Qualcomm tidak hanya berbicara soal chip, tetapi juga tentang pengalaman penggunaan. Di tengah gelombang AI generatif dan perangkat pintar baru, antarmuka suara dinilai bisa menjadi elemen yang menentukan apakah teknologi benar-benar mudah dipakai banyak orang.
Perangkat AI-first disebut segera hadir
Di luar perkembangan India, Bekis juga mengungkap bahwa Qualcomm sudah bekerja dengan sejumlah perusahaan untuk mengembangkan gadget yang sepenuhnya berpusat pada AI. Ia menyebut perusahaan “sangat aktif” dalam rencana menghadirkan perangkat AI-first ke pasar.
Dalam beberapa pekan terakhir, muncul laporan soal OpenAI yang dikabarkan mengerjakan beberapa gadget AI-first, termasuk earphone augmented dan pendant yang ditenagai teknologi seperti ChatGPT. Bekis tidak mengonfirmasi ataupun membantah keterlibatan Qualcomm dalam proyek OpenAI tersebut.
Meski begitu, ia memberi sinyal kuat bahwa Qualcomm terlibat luas dalam kategori perangkat semacam ini. Menurut dia, jika publik mendengar rumor industri tentang perangkat AI baru, besar kemungkinan ada teknologi Qualcomm di dalamnya, baik pada upaya yang berlangsung di Silicon Valley maupun di China.
Bekis menegaskan peran Qualcomm bukan hanya karena kemampuan perangkat keras. Ia menyebut investasi jangka panjang perusahaan di teknologi wearable sebagai salah satu alasan utama mengapa Qualcomm berada di posisi penting dalam gelombang perangkat AI baru.
Ia mengatakan Qualcomm sudah berada di garis depan wearable bahkan sebelum kategori itu benar-benar populer. Latar belakang tersebut, menurut Bekis, membuat perusahaan punya fondasi kuat saat industri kini bergerak menuju perangkat yang dibangun dengan pendekatan AI sebagai inti pengalaman.
Soal jadwal, belum ada perusahaan yang mengumumkan peluncuran pasti untuk perangkat AI-first tersebut. Namun Bekis mengatakan pasar kemungkinan akan mulai melihat produk-produk seperti itu dalam enam sampai 12 bulan ke depan, atau pada akhir tahun ini hingga awal tahun depan.
Ia juga menegaskan Qualcomm akan menjadi bagian dari kemunculan produk-produk itu. Di tengah persaingan global membangun generasi baru perangkat AI, komentar Bekis sekaligus menunjukkan dua arah perubahan besar: India yang mulai memimpin di area teknologi baru, dan industri perangkat yang bergerak menuju era AI-first dengan suara sebagai antarmuka kunci.
