Lenovo sedang menghadapi sorotan tidak biasa setelah perangkat handheld retro G02 yang memakai merek perusahaan itu dilaporkan berisi ribuan ROM bawaan, termasuk game Nintendo yang tampak tidak berlisensi. Isu ini cepat memicu perhatian karena perangkat tersebut bukan sekadar produk abal-abal yang menempelkan logo merek besar secara sembarangan.
Menurut Retro Dodo, G02 memang merupakan produk Lenovo yang sah, setidaknya dalam skema lisensi merek regional. Itu membuat persoalannya bergeser dari dugaan pemalsuan logo menjadi pertanyaan yang lebih sensitif: bagaimana perangkat bermerek Lenovo bisa dipasarkan dengan muatan game berhak cipta di dalamnya.
Perangkat ini pertama kali muncul di AliExpress yang berbasis di China pada awal bulan ini dengan harga $72.92. Harga itu tergolong rendah untuk perangkat gaming portabel bermerek Lenovo, apalagi jika dibandingkan dengan lini handheld gaming perusahaan yang lebih mahal seperti Legion Go 2.
Kehadiran G02 sejak awal memang terasa ganjil. Pasar handheld retro sudah lebih dulu diisi nama-nama seperti Anbernic, Retroid, dan Ayn, sehingga kemunculan perangkat Lenovo di segmen ini sempat memunculkan dugaan bahwa logo perusahaan dipakai tanpa izin.
Status resmi, tetapi terbatas untuk China
Retro Dodo menyebut pihaknya sempat mengira perangkat itu palsu sebelum kemudian berbicara dengan seorang pegawai di departemen Product and Licensing Lenovo. Dari komunikasi itu, G02 disebut sebagai perangkat white-label resmi yang ditujukan hanya untuk pasar China.
Lenovo juga memberikan pernyataan yang menegaskan posisi produk tersebut. Perusahaan menyatakan G02 diproduksi melalui perjanjian lisensi merek regional untuk pasar China saja dan tidak termasuk dalam portofolio produk resmi global Lenovo.
Pernyataan itu penting karena menjelaskan bahwa G02 bukan bagian dari jajaran produk global yang dijual lewat saluran resmi perusahaan di berbagai negara. Namun, pembatasan wilayah itu tidak otomatis menghapus dampak reputasi ketika nama Lenovo tetap tampil jelas pada perangkat.
Secara praktik, model white-label memungkinkan produsen pihak ketiga membuat perangkat lalu memasarkannya dengan nama merek yang lebih dikenal. Dalam kasus ini, dugaan yang paling masuk akal adalah pembuat perangkat menjalin kesepakatan untuk menggunakan nama Lenovo sebagai alat pemasaran, meski tetap harus ada persetujuan dari Lenovo dalam prosesnya.
Sorotan pada ROM bawaan dan game Nintendo
Bagian paling kontroversial dari G02 justru bukan hardwarenya, melainkan isi perangkat. Handheld ini dilaporkan dikirim dengan ribuan ROM bawaan, termasuk judul-judul Nintendo yang tampak tidak memiliki lisensi resmi.
Praktik menyertakan game bawaan memang sangat umum di pasar handheld retro murah. Banyak penjual di Amazon, AliExpress, maupun toko pabrikan biasanya tidak mencantumkan daftar game secara rinci, melainkan hanya menulis jumlah game atau kapasitas kartu microSD yang disertakan.
Dalam banyak kasus, semakin besar kapasitas microSD, semakin banyak game yang dijanjikan. Ada juga perangkat yang tidak menyebut judul apa pun di halaman penjualan, tetapi saat sampai ke tangan pembeli ternyata sudah berisi game komersial terkenal.
Karena itu, keberadaan ROM bawaan pada G02 tidak berdiri sendiri sebagai hal aneh di segmen produk ini. Yang membuat kasus ini berbeda adalah perangkat tersebut membawa nama Lenovo, sebuah merek global yang selama ini tidak identik dengan pasar handheld retro abu-abu.
Nintendo menjadi nama yang paling banyak disorot dalam kasus ini. Meski secara teori game-game itu bisa saja berlisensi, kemungkinan tersebut dinilai kecil mengingat Nintendo dikenal sangat protektif terhadap kekayaan intelektualnya.
Mengapa kasus ini sensitif
Masalah hukum dan hubungan masyarakat menjadi titik rawan utama. Bahkan jika G02 hanya produk white-label dari mitra regional, perangkat itu tetap menampilkan branding Lenovo secara menonjol, sehingga publik mudah mengaitkan isi perangkat dengan tanggung jawab merek.
Itu membuat Lenovo berada dalam posisi tidak nyaman. Di satu sisi, perusahaan sudah menegaskan bahwa G02 bukan bagian dari portofolio global resminya, tetapi di sisi lain nama Lenovo tetap menjadi wajah utama produk di mata konsumen.
Ada preseden sejarah yang menunjukkan Nintendo pernah bekerja sama secara terbatas di China. Salah satu contoh yang disebut adalah iQue Player, perangkat mirip versi TV dari Nintendo 64 yang diproduksi dan dijual oleh perusahaan iQue pada 2003.
Sebelum larangan konsol video game di China dicabut, iQue juga pernah menjual versi Game Boy Advance, DS, dan 3DS XL di negara tersebut. Namun, contoh itu hadir dalam konteks kerja sama resmi yang jelas, sehingga tidak bisa serta-merta disamakan dengan kemunculan game Nintendo pada perangkat white-label seperti G02.
Sampai saat ini, sorotan terhadap G02 lebih banyak tertuju pada implikasi lisensi dan reputasi merek ketimbang spesifikasi teknis perangkatnya. Selama nama Lenovo tetap melekat pada handheld yang dilaporkan berisi ROM berhak cipta, perangkat ini akan terus menjadi perhatian di tengah pasar handheld retro yang memang lama bergerak di area abu-abu.
Source: www.xda-developers.com