5 Motor Bekas Dijuluki Sahabat Pertamina, Tenaganya Nagih Tapi BBM-Nya Menguras Kantong

Di saat motor irit BBM semakin dicari, pasar motor bekas justru masih menyimpan model-model yang terkenal rakus bensin. Sebagian di antaranya sampai mendapat julukan “Sahabat Pertamina” karena terlalu sering singgah ke SPBU.

Meski begitu, cap boros tidak otomatis membuat motor-motor ini ditinggalkan. Tenaga besar, akselerasi responsif, suara mesin khas, dan karakter berkendara yang kuat justru membuatnya tetap diburu pecinta otomotif.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pilihan motor bekas tidak selalu ditentukan oleh efisiensi bahan bakar. Bagi sebagian pengguna, sensasi berkendara dan performa masih jadi alasan utama, meski harus siap dengan konsumsi BBM yang lebih tinggi.

Ada juga faktor emosional yang ikut berperan. Beberapa model lawas memiliki status legendaris, dipakai komunitas tertentu, hingga jadi incaran kolektor karena karakter yang sulit digantikan motor modern.

Deretan motor bekas yang dikenal boros BBM

Yamaha RX-King menjadi salah satu nama yang paling sering disebut saat membahas motor boros bensin. Motor 2-tak ini dikenal punya tenaga besar dan akselerasi spontan yang sulit ditandingi.

Dalam penggunaan normal, konsumsi BBM Yamaha RX-King berada di kisaran 20 hingga 25 kilometer per liter. Namun suara knalpot yang khas dan tarikan brutal membuat motor ini tetap diminati kolektor maupun penggemar motor klasik.

Honda Tiger juga masuk dalam daftar motor bekas yang dikenal tidak hemat bahan bakar. Motor touring legendaris ini mengusung mesin 200 cc dan dikenal punya tenaga besar untuk perjalanan jauh.

Konsumsi BBM Honda Tiger rata-rata berada di kisaran 25 hingga 30 kilometer per liter. Meski demikian, posisi duduk yang nyaman, bodi gagah, dan reputasi mesin yang bandel membuatnya masih banyak digunakan.

Kawasaki Ninja 150 RR menjadi contoh lain motor yang menawarkan performa tinggi dengan konsekuensi konsumsi BBM lebih besar. Motor sport 2-tak ini dikenal punya akselerasi cepat dan suara mesin yang khas.

Dalam kondisi tertentu, Ninja 150 RR hanya mampu menempuh sekitar 18 hingga 22 kilometer per liter. Selain bensin yang cepat habis, biaya perawatan juga cenderung tinggi karena motor ini membutuhkan oli samping berkualitas.

Suzuki Satria FU 150 karburator juga sering disebut boros untuk ukuran motor 150 cc. Motor ayago ini dikenal punya performa agresif dengan tarikan atas yang sangat responsif.

Konsumsi BBM motor ini kerap dikeluhkan, terutama jika sering dipakai pada putaran mesin tinggi. Walau begitu, desain sporty dan karakter kencangnya membuat Satria FU generasi karburator masih memiliki banyak penggemar.

Yamaha Vixion generasi awal melengkapi daftar motor bekas dengan reputasi konsumsi BBM yang tidak seirit model injeksi modern. Padahal, motor sport naked ini sempat sangat populer di Indonesia.

Sejumlah pengguna menilai Vixion lawas terasa lebih boros, apalagi jika usia motor sudah tua dan perawatan rutin kurang diperhatikan. Di sisi lain, handling yang nyaman, mesin responsif, dan kemudahan modifikasi membuat model ini tetap dilirik.

Mengapa tetap dicari meski boros

Ada pola yang sama dari lima motor tersebut. Semuanya menawarkan karakter mesin yang kuat dan pengalaman berkendara yang dianggap lebih hidup dibanding motor yang hanya mengejar efisiensi.

Pada RX-King dan Ninja 150 RR, karakter mesin 2-tak menjadi daya tarik utama. Ledakan tenaga yang spontan dan suara yang khas memberi sensasi yang sulit ditemukan pada motor harian masa kini.

Sementara itu, Honda Tiger, Satria FU 150 karburator, dan Vixion generasi awal menonjol di sisi lain. Ketiganya dikenal punya performa yang cukup memuaskan untuk pengguna yang mengutamakan tarikan, kenyamanan, atau karakter sporty.

Bagi pemburu motor bekas, daftar ini bisa menjadi pengingat bahwa harga beli bukan satu-satunya hal yang perlu dihitung. Konsumsi BBM dan biaya penggunaan harian juga penting dipertimbangkan, terutama untuk motor bermesin besar atau berkarakter performa tinggi.

Namun bagi penggemarnya, kompromi itu sudah dipahami sejak awal. Selama tenaga, kenyamanan, dan sensasi berkendaranya masih sesuai selera, label “Sahabat Pertamina” justru sering dianggap sebagai bagian dari karakter motor itu sendiri.

Exit mobile version