Ponsel Murah Ini Disulap Jadi Laptop Linux, Hasilnya Jauh Lebih Layak dari Dugaan

Sebuah eksperimen sederhana menunjukkan bahwa ponsel murah ternyata bisa melampaui ekspektasi sebagai komputer kerja ringan. Seorang pembuat proyek berhasil mengubah smartphone seharga $50 menjadi laptop Linux fungsional, lengkap dengan desktop environment dan aplikasi desktop penuh.

Yang membuat proyek ini menarik bukan hanya biayanya yang sangat rendah, tetapi juga konteks pasar saat ini. Di tengah harga PC dan laptop yang dinilai memburuk dalam beberapa bulan terakhir akibat tekanan pada pasokan RAM dan penyimpanan, smartphone justru relatif tidak terguncang.

Perangkat yang dipakai adalah Moto G Power 2024. Ponsel itu kemudian dipasangkan dengan keyboard dan mouse Bluetooth, lalu disulap menjadi mesin Linux menggunakan Termux dan XFCE.

Hasilnya bukan sekadar tampilan desktop untuk pamer. Aplikasi Linux penuh seperti GIMP dan Shotcut disebut dapat berjalan dengan kecepatan yang “sangat masuk akal”, sebuah hasil yang dinilai jauh lebih baik dari dugaan awal untuk perangkat di kelas harga tersebut.

Ponsel murah, fungsi lebih luas

Proyek ini pertama kali diperhatikan lebih luas setelah dilaporkan Hackaday, yang menyorot tulisan Gabriel Broussard Korr di blog R Bites. Dalam penjelasannya, Korr menyoroti kenyataan bahwa smartphone modern memiliki perangkat keras yang cukup mumpuni, tetapi harga banyak model tetap terasa tinggi.

Namun, ada celah pasar yang dimanfaatkan dalam eksperimen ini. Beberapa operator seluler menjual ponsel dengan harga sekitar seperempat dari nilai pasar, tetapi menguncinya ke layanan operator tertentu jika dipakai sebagai telepon.

Di sinilah ide utamanya muncul. Jika perangkat itu tidak dipakai sebagai ponsel untuk layanan seluler, unit tersebut pada dasarnya masih merupakan komputer kecil yang tetap bisa digunakan lewat Wi‑Fi.

Pendekatan itu membuat harga masuk menjadi jauh lebih rendah. Moto G Power 2024 yang dipilih dalam proyek ini didapatkan dengan harga hanya $50, angka yang sulit disaingi oleh laptop atau PC baru dengan fungsi komputasi umum.

Bagaimana ponsel itu berubah jadi “laptop”

Transformasi perangkat ini tidak dilakukan dengan memasang sistem operasi baru secara penuh seperti pada laptop biasa. Korr memakai Termux sebagai fondasi untuk menyiapkan lingkungan Linux di Android, lalu menjalankan XFCE sebagai desktop environment.

Setelah itu, ponsel dipakai bersama periferal eksternal. Keyboard dan mouse Bluetooth menjadi komponen penting agar pengalaman pengguna mendekati laptop atau desktop konvensional.

Kombinasi tersebut membuat smartphone tidak lagi terasa seperti perangkat layar sentuh untuk aplikasi mobile semata. Dengan antarmuka desktop XFCE, pengguna bisa membuka aplikasi dan bekerja dalam pola yang lebih akrab bagi pengguna Linux.

Keunggulan lain dari pendekatan ini adalah sifatnya yang relatif praktis. Perangkat tetap ringkas, murah, dan memanfaatkan hardware yang sudah tersedia di ponsel tanpa harus membeli komputer penuh dengan harga jauh lebih tinggi.

Bukan sekadar eksperimen iseng

Daya tarik utama proyek ini terletak pada sisi kegunaannya. GIMP sebagai editor gambar dan Shotcut sebagai aplikasi penyunting video adalah contoh perangkat lunak desktop yang cukup berat dibanding aplikasi Android biasa, sehingga kemampuannya berjalan di ponsel murah menjadi sorotan tersendiri.

Korr menilai performanya tetap layak dipakai. Klaim bahwa aplikasi tersebut berjalan pada kecepatan yang masuk akal memberi gambaran bahwa perangkat semacam ini bukan hanya cocok untuk uji coba, tetapi juga berpotensi dipakai untuk tugas komputasi ringan hingga menengah.

Tentu, proyek ini tidak otomatis menggantikan semua fungsi laptop modern. Namun, untuk pengguna yang membutuhkan komputer murah untuk belajar Linux, mengetik, menjelajah web lewat Wi‑Fi, atau menjalankan aplikasi desktop tertentu, konsep ini membuka alternatif yang sebelumnya tidak banyak dipertimbangkan.

Dalam konteks harga perangkat komputasi yang naik, ide ini juga memberi sudut pandang baru. Ketika komponen PC seperti RAM dan penyimpanan disebut terserap oleh lonjakan kebutuhan industri AI, ponsel murah justru bisa menjadi jalur masuk yang lebih realistis bagi sebagian pengguna.

Panduan juga tersedia

Nilai tambah lain dari proyek ini adalah sifatnya yang dapat diikuti ulang. Korr tidak hanya memamerkan hasil akhir, tetapi juga membagikan langkah-langkah dan kode yang digunakan untuk membangun lingkungan Linux tersebut.

Itu berarti eksperimen ini tidak berhenti sebagai konsep menarik di internet. Pengguna lain yang memiliki perangkat serupa dan akses ke periferal Bluetooth dapat mencoba pendekatan yang sama untuk memberi fungsi baru pada smartphone murah.

Moto G Power 2024 dalam proyek ini pada akhirnya bukan lagi sekadar ponsel terikat operator. Dengan Termux, XFCE, dan aksesori yang tepat, perangkat itu berubah menjadi komputer Linux portabel berbiaya sangat rendah yang ternyata bekerja lebih baik daripada yang banyak orang bayangkan.

Source: www.xda-developers.com
Exit mobile version