Revisi dalam game biasanya muncul karena alasan teknis atau desain yang jelas. Namun, ada juga sejumlah perubahan yang lahir dari situasi yang terdengar konyol, aneh, dan sulit ditebak.
Kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa pengembangan game tidak hanya soal bug, UI, atau durasi permainan. Kadang, satu detail kecil di dialog, nama, animasi, atau bahkan bentuk karakter bisa memicu revisi besar yang akhirnya ikut membentuk identitas game itu sendiri.
Dialog yang terlalu mengganggu, seperti di Forspoken
Forspoken sempat jadi sorotan karena banyak pemain menilai dunianya hambar, gameplay-nya repetitif, dan sistem combat-nya kurang intuitif. Kritik paling besar justru datang dari interaksi Frey dan Cuff yang dianggap penuh celetukan garing dan obrolan membosankan.
Respons pemain tetap negatif meski game itu sudah punya opsi untuk mengurangi frekuensi dialog. Beberapa bulan setelah rilis, Luminous Productions akhirnya merilis patch yang bukan hanya menurunkan intensitas percakapan, tetapi juga memangkas kontennya secara signifikan.
Desain dungeon yang terlalu rumit di Phantasy Star II
Phantasy Star II punya cerita revisi yang tidak kalah unik karena perubahan desain justru dipengaruhi oleh seorang karyawan baru. Dalam wawancara pada 1993, disebutkan bahwa desain dungeon diserahkan kepadanya dan hasilnya menjadi terlalu rumit.
Akibatnya, fokus game bergeser dari konsep awal ke kompleksitas dungeon. Chieko Aoki selaku sutradara memilih mempertahankan hasil kerja itu demi menghargai usaha sang karyawan, meski tim pengembang sendiri sempat ragu terhadap hasil akhirnya.
Nama yang hampir bermasalah di Dark Souls
Dark Souls ternyata sempat hampir memakai nama yang berbeda, termasuk “Dark Race” yang jelas bermasalah. Nama lain yang sempat dipertimbangkan adalah “Dark Ring”, tetapi pilihan itu ikut memunculkan masalah baru.
Tim pengembang dari Inggris mengingatkan bahwa kata “ring” punya makna slang yang vulgar di negara tersebut. Untuk menghindari kesalahpahaman dan kesan negatif, FromSoftware kemudian menggantinya menjadi Dark Souls.
Adegan sampanye yang tidak cocok untuk pasar Amerika di Super Mario Kart
Super Mario Kart juga pernah mengalami revisi karena pertimbangan citra. Dalam versi Jepang, karakter yang menang muncul dengan animasi unik sambil memegang botol sampanye, dan Bowser serta Peach bahkan terlihat menenggaknya.
Nintendo of America mengubah adegan itu saat rilis di Amerika. Bowser hanya dibuat bersorak, sementara Peach tampak memainkan botol seperti bola agar game tetap selaras dengan citra ramah keluarga.
Bokong Pyramid Head yang diperdebatkan di Dead by Daylight
Dead by Daylight sempat menjadi bahan obrolan karena detail yang sangat spesifik pada desain Pyramid Head. Saat pertama kali diumumkan, desain awal karakter itu menampilkan bokong yang cukup mencolok dan langsung memicu candaan.
Ketika dirilis, bagian tersebut justru diperkecil dan memancing reaksi pemain, meski banyak di antaranya bernada bercanda. Behaviour Interactive kemudian mengembalikan bentuk bokong Pyramid Head lewat update 5.1.1.
Nama Pac-Man yang diubah karena iseng
Pac-Man juga punya alasan revisi yang terdengar sederhana, tetapi sangat menentukan. Di Jepang, karakter ini awalnya bernama Puckman, diambil dari frasa “paku paku taberu” yang menggambarkan suara dan aksi makan dengan lahap.
Saat hendak dirilis di Amerika Utara, Namco khawatir huruf “P” pada mesin arcade bisa diubah menjadi “F” oleh orang iseng. Untuk mencegah coretan yang berpotensi memberi kesan buruk, nama itu diganti menjadi Pac-Man, dan keputusan itu terbukti tepat.
Source: www.idntimes.com