
Indosaku mendorong edukasi keuangan digital di kampus sebagai cara untuk membentengi mahasiswa dari jebakan pinjol ilegal. Perusahaan yang sudah berizin dan diawasi OJK itu menilai literasi finansial menjadi kunci agar layanan keuangan digital dipakai secara bijak, bukan untuk memicu masalah baru.
Langkah ini dibuat melalui pendekatan yang menekankan perlindungan konsumen dan ekosistem fintech lending yang lebih sehat. Indosaku juga membawa pesan bahwa kemampuan akademis saja belum cukup jika tidak disertai kebiasaan mengelola uang dengan tanggung jawab.
Masuk ke kampus lewat program literasi
Salah satu wujud nyata dari komitmen itu terlihat dalam partisipasi Indosaku pada program “Pindar Mengajar” yang digelar AFPI di Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta. Kegiatan ini melibatkan regulator, asosiasi industri, dan lembaga pendidikan tinggi dalam satu forum edukasi.
Dalam kegiatan tersebut, Indosaku mengusung filosofi “Transformasi Cerdas Menjadi Bijak”. Pesan utamanya sederhana, yakni kecerdasan di ruang kelas perlu diikuti kebijaksanaan saat memakai aplikasi finansial secara bertanggung jawab.
Mahasiswa jadi target penting
Yogyakarta dipilih karena dikenal sebagai Kota Pelajar dengan konsentrasi mahasiswa dan pelajar rantau yang besar. Lingkungan seperti ini dinilai efektif untuk menjangkau generasi muda yang aktif mencoba berbagai aplikasi fintech.
Indosaku melihat fase kuliah sebagai masa penting pembentukan kebiasaan finansial dan pengambilan keputusan ekonomi. Karena itu, edukasi di kampus dianggap relevan untuk membantu mahasiswa memahami risiko sebelum memakai layanan pinjaman digital.
Pinjaman digital bukan untuk gaya hidup
Direktur Utama Indosaku, Yulvina Napitupulu, menegaskan bahwa kemampuan mengelola arus kas harian kini menjadi kebutuhan mendesak bagi anak muda. Ia juga mengingatkan bahwa pinjaman digital seharusnya dipandang sebagai instrumen keuangan yang produktif, bukan alat untuk memuaskan gaya hidup konsumtif.
Indosaku mendorong masyarakat mengenali kebutuhan pribadi sebelum mengajukan pinjaman. Langkah itu penting agar pengguna bisa menilai kebutuhan riil dan kemampuan bayar mereka sendiri.
Perusahaan juga menyoroti pentingnya memahami risiko dalam transaksi digital. Setiap pengajuan pinjaman memiliki konsekuensi hukum dan berkaitan dengan skor kredit yang perlu dijaga agar tetap bersih.
Cara membedakan layanan legal dan ilegal
Rangkaian edukasi ini juga diarahkan untuk melatih masyarakat mengenali perbedaan aplikasi pinjaman daring legal dan ilegal. Menurut Indosaku, platform legal memiliki izin resmi OJK dan tunduk pada aturan yang ketat.
Salah satu pembeda yang ditekankan adalah perlindungan data konsumen. Platform yang legal wajib menjaga privasi data pribadi pengguna dari risiko penyalahgunaan siber.
Indosaku juga menyoroti transparansi bunga sebagai ciri penting layanan yang sehat. Dengan pemahaman itu, masyarakat diharapkan tidak mudah terjebak bunga tinggi yang kerap dipakai oleh pinjol ilegal.
Kolaborasi dengan OJK dan AFPI
Indosaku menyatakan langkah edukasi ini dilakukan bersama OJK, AFPI, dan dunia akademis. Kolaborasi tersebut ditujukan untuk memperkuat benteng masyarakat saat memilih layanan keuangan digital yang aman.
Perusahaan juga menyebut akan terus mendukung inisiatif literasi agar industri fintech berkembang secara inklusif, terpercaya, dan berkelanjutan. Di saat yang sama, Indosaku menegaskan komitmennya menghadirkan layanan teknologi finansial yang ramah pengguna dan menjunjung tata kelola yang bersih.
Source: id.mashable.com







