Claude Mythos Mulai Dibuka Terbatas, AI Keamanan Anthropic Kini Menyasar Organisasi Pilihan

Sejumlah organisasi di India mulai mendapat akses pratinjau ke Claude Mythos, program AI berfokus keamanan dari Anthropic. Langkah ini menandai perluasan penting Anthropic di luar Amerika Serikat dan Inggris untuk mendorong penggunaan AI dalam pertahanan siber serta perlindungan infrastruktur kritis.

Ekspansi ini juga membuat India masuk ke lingkaran awal pengguna teknologi yang tidak tersedia untuk publik. Bagi pembaca, kabar ini penting karena menunjukkan bagaimana AI generatif kini diposisikan bukan hanya untuk produktivitas, tetapi juga sebagai alat defensif bagi lembaga penting dan operator layanan vital.

Anthropic menyebut perluasan tersebut berjalan seiring peluncuran lebih luas Project Glasswing. Inisiatif ini dirancang untuk membantu institusi tepercaya memanfaatkan AI canggih untuk keamanan nasional, pertahanan siber, dan berbagai kebutuhan sektor publik.

Sekitar 150 organisasi baru ditambahkan ke program itu sehingga total peserta menjadi sekitar 200 organisasi di lebih dari 15 negara. Perluasan terbaru mencakup lembaga dan perusahaan di sektor jasa keuangan, keamanan siber, teknologi, kesehatan, komunikasi, listrik, air, dan perangkat keras.

India termasuk dalam daftar negara yang masuk gelombang terbaru bersama Kanada, Australia, Selandia Baru, Prancis, Jerman, Italia, Swiss, Belanda, Spanyol, Belgia, Swedia, Jepang, dan Korea Selatan. Anthropic belum mengungkap nama organisasi di India yang menerima akses tersebut.

Meski begitu, masuknya India mencerminkan meningkatnya minat untuk memakai AI tingkat lanjut dalam memperkuat keamanan siber. Fokusnya juga mengarah pada perlindungan infrastruktur penting yang menjadi tulang punggung layanan publik dan ekonomi digital.

Akses terbatas untuk model yang sensitif

Signifikansi ekspansi ini terletak pada status Mythos yang memang tidak dibuka untuk umum. Anthropic meluncurkan Claude Mythos Preview pada April dan awalnya hanya memberi akses kepada sekitar 50 organisasi, yang sebagian besar berbasis di Amerika Serikat.

Perusahaan itu sebelumnya menilai kemampuan model dalam pemrograman dan penemuan celah keamanan terlalu kuat untuk dirilis luas tanpa pengamanan. Karena itu, akses dibatasi hanya untuk organisasi yang dianggap tepercaya dan relevan dengan misi pertahanan siber.

Menurut Anthropic, Mythos dirancang untuk membantu organisasi menemukan kelemahan perangkat lunak. Sistem ini juga ditujukan untuk mendeteksi titik lemah dalam basis kode yang kompleks dan meningkatkan ketahanan siber sebelum kerentanan dieksploitasi penyerang.

Peserta program mencakup penyedia infrastruktur kritis serta vendor perangkat lunak yang produknya dipakai luas oleh pemerintah, pelaku bisnis, dan jutaan orang di seluruh dunia. Pendekatan ini menempatkan AI sebagai alat untuk mengurangi risiko lebih dini, bukan sekadar merespons insiden setelah terjadi.

Project Glasswing dan fokus pertahanan

Project Glasswing menjadi pusat dari strategi kolaborasi industri Anthropic. Program ini mempertemukan perusahaan teknologi, operator infrastruktur, pakar keamanan siber, dan pemerintah untuk secara proaktif mengidentifikasi serta menambal kerentanan perangkat lunak.

Anthropic menekankan bahwa inisiatif ini tidak berfokus pada kemampuan siber ofensif. Tujuannya adalah memakai AI sebagai alat defensif untuk memperkuat infrastruktur digital yang menopang layanan penting lintas negara.

Perusahaan itu mengatakan organisasi yang berpartisipasi dalam Project Glasswing telah menemukan lebih dari 10.000 kerentanan yang diklasifikasikan tinggi atau kritis. Angka ini menunjukkan skala pekerjaan yang ingin dipercepat dengan bantuan model AI khusus seperti Mythos.

Anthropic juga tengah mengeksplorasi penggunaan AI untuk memperluas tinjauan keamanan terhadap perangkat lunak sumber terbuka. Area ini penting karena open-source menjadi fondasi bagi banyak infrastruktur internet, tetapi sering tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk pengujian keamanan secara mendalam.

Daftar peserta global makin luas

Gelombang peserta terbaru disebut mencakup sejumlah organisasi besar seperti Okta, Samsung, SK Hynix, SK Telecom, Euroclear, Intercontinental Exchange, dan Swift. Nato serta European Union Agency for Cybersecurity atau ENISA juga telah diberikan akses.

Sebelumnya, peserta awal mencakup Microsoft, Apple, Oracle, JPMorgan Chase, dan CrowdStrike. Daftar nama ini memberi gambaran bahwa program tersebut menyasar organisasi dengan skala operasi besar dan kepentingan tinggi terhadap keamanan sistem digital.

Bagi India, akses pratinjau ini membuka peluang bagi organisasi terpilih untuk ikut dalam ekosistem keamanan siber berbasis AI yang sedang dibangun secara internasional. Walau identitas penerimanya belum diumumkan, penempatan India dalam gelombang ekspansi pertama di luar AS dan Inggris menunjukkan posisi negara itu kian diperhitungkan dalam agenda perlindungan infrastruktur digital global.

Perluasan internasional ini datang saat Anthropic memasuki fase pertumbuhan baru. Perusahaan itu baru-baru ini mengajukan dokumen secara rahasia untuk penawaran umum perdana di AS, menjadikannya perusahaan frontier AI besar pertama yang resmi memulai proses menuju pasar publik.

Di tengah derasnya investasi ke sektor AI dan meningkatnya permintaan model canggih di banyak industri, laporan menyebut Anthropic bisa membidik valuasi mendekati $1 trillion saat melantai di bursa. Namun, untuk saat ini, perhatian utama tertuju pada bagaimana Claude Mythos mulai dipakai secara lebih luas oleh institusi strategis, termasuk organisasi terpilih di India, untuk menutup celah keamanan sebelum berubah menjadi serangan nyata.

Source: www.indiatoday.in
Exit mobile version