Lonjakan biaya kecerdasan buatan mulai memaksa perusahaan teknologi besar mengerem pemakaiannya di internal. Uber kini membatasi penggunaan alat coding berbasis AI seperti Claude Code dan Cursor setelah anggaran AI tahunan perusahaan dilaporkan habis hanya dalam empat bulan pertama 2026.
Langkah itu menandai perubahan tajam dari sikap Uber sebelumnya yang justru mendorong karyawan memakai AI sebanyak mungkin. Bagi pembaca, kabar ini penting karena menunjukkan bahwa adopsi AI skala besar tidak hanya soal produktivitas, tetapi juga soal biaya operasional yang bisa membengkak sangat cepat.
Menurut Bloomberg, Uber menetapkan batas pengeluaran bulanan sebesar $1.500 per karyawan untuk setiap alat coding AI. Batas ini berlaku untuk kategori alat coding agentic, yakni sistem yang dapat menulis, meninjau, dan memodifikasi kode perangkat lunak dengan campur tangan manusia yang minim.
Uber mengatakan kebijakan tersebut dibuat untuk mendorong eksperimen yang bertanggung jawab sambil menjaga biaya tetap terkendali saat adopsi AI terus meluas di perusahaan. Artinya, perusahaan tidak menghentikan pemakaian AI, melainkan mencoba mengatur ritme penggunaannya agar lebih terukur.
Menariknya, batas $1.500 itu diterapkan secara terpisah untuk masing-masing alat. Karyawan yang memakai lebih dari satu platform AI tetap mendapat anggaran individual untuk tiap layanan, dan mereka yang membutuhkan akses lebih besar bisa mengajukan persetujuan untuk melampaui batas itu.
Perusahaan juga menyediakan dashboard agar karyawan dapat memantau penggunaan AI dan pengeluaran mereka sendiri. Sistem pemantauan ini menunjukkan bahwa fokus Uber bukan hanya pada pembatasan, tetapi juga pada transparansi biaya di tingkat pengguna.
Dari dorongan agresif ke kontrol biaya
Beberapa bulan sebelumnya, Uber justru dikenal sangat agresif dalam mendorong adopsi AI di internal. Pada April, Chief Technology Officer Praveen Neppalli Naga mengungkap bahwa seluruh anggaran AI tahunan perusahaan sudah terkonsumsi dalam empat bulan pertama tahun itu.
Laporan sebelumnya juga menyebut Uber sempat mendorong staf menggunakan AI “sebanyak mungkin”. Bahkan, ada leaderboard internal yang memeringkat karyawan berdasarkan tingkat penggunaan alat AI.
Perubahan arah ini memperlihatkan dilema yang kini dihadapi banyak perusahaan. Di satu sisi, AI dipromosikan sebagai pengungkit produktivitas, tetapi di sisi lain, penggunaan yang meluas dapat menimbulkan tagihan yang sulit dikendalikan.
Uber sendiri telah berulang kali menekankan betapa dalam AI sudah terintegrasi ke operasional perusahaan. Chief Executive Officer Dara Khosrowshahi baru-baru ini mengatakan sekitar 10 persen kode Uber kini dihasilkan dan dikirimkan oleh agen AI.
Pemakaian AI juga tidak terbatas di tim engineering. Divisi legal, pemasaran, dan departemen lain disebut semakin banyak memakai alat berbasis AI untuk meningkatkan produktivitas dan mengotomatisasi pekerjaan berulang.
Manfaat nyata masih sulit diukur
Meski pemakaiannya terus meluas, Uber mengakui dampak bisnis nyata dari AI belum mudah dihitung. Dalam podcast Rapid Response, Chief Operating Officer Andrew Macdonald mengatakan sulit menghubungkan kenaikan penggunaan AI secara langsung dengan lahirnya fitur yang lebih berguna bagi pelanggan.
Ia menyebut metrik produktivitas internal memang meningkat secara signifikan. Namun, manfaat jangka panjangnya masih sulit dikuantifikasi secara pasti.
Pernyataan itu menjadi konteks penting di balik kebijakan pembatasan baru Uber. Saat biaya terus naik, perusahaan tampaknya ingin memastikan bahwa pemakaian AI tidak hanya ramai dipakai, tetapi juga memberi hasil yang benar-benar sepadan.
Fenomena yang juga muncul di perusahaan lain
Uber bukan satu-satunya perusahaan yang mulai bergulat dengan tagihan AI yang membengkak. Saat banyak perusahaan bergerak dari tahap eksperimen menuju penerapan AI dalam skala besar, biaya berkelanjutan dari teknologi ini mulai terasa semakin berat.
Sebagian besar layanan AI canggih memakai model harga berbasis penggunaan. Akibatnya, semakin tinggi adopsi oleh karyawan, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung perusahaan.
Microsoft juga dilaporkan mulai menekan pengeluaran AI di internal. Perusahaan itu disebut membatasi akses internal ke Claude Code milik Anthropic dan mengarahkan karyawan untuk beralih ke GitHub Copilot CLI.
Langkah tersebut terutama berdampak pada para engineer di divisi Experiences + Devices. Divisi ini membawahi produk seperti Windows, Microsoft 365, Outlook, Teams, dan perangkat Surface.
Microsoft dilaporkan menetapkan tenggat transisi hingga 30 Juni 2026, bertepatan dengan akhir tahun fiskalnya. Secara publik, perubahan itu disebut sebagai upaya menstandarkan toolchain pengembang, tetapi laporan yang beredar menyebut biaya operasional yang meningkat juga menjadi faktor utama.
Claude Code disebut sempat sangat populer di kalangan engineer Microsoft setelah peluncuran yang lebih luas pada akhir 2025. Namun, konsumsi token yang tinggi pada sistem AI agentic dan alur kerja multi-langkah yang kompleks dilaporkan memicu lonjakan biaya, sehingga perusahaan memilih kontrol yang lebih ketat atas perangkat AI dan infrastrukturnya.
Kasus Uber dan Microsoft menunjukkan pola yang mulai terlihat jelas di industri teknologi. Semakin canggih alat AI yang dipakai untuk bekerja, semakin besar pula kebutuhan perusahaan untuk menyeimbangkan antara produktivitas, eksperimen, dan disiplin anggaran.
Source: www.indiatoday.in