The Game Awards selalu jadi panggung besar bagi game paling menonjol setiap tahun. Di tengah dominasi judul AAA seperti God of War dan Elden Ring, ada tujuh game indie yang pernah menembus nominasi Game of the Year dan membuktikan bahwa kualitas besar tidak selalu datang dari tim besar.
Kehadiran mereka di daftar nominasi juga memberi sinyal penting bagi industri. Game indie bisa bersaing lewat ide kuat, eksekusi matang, dan identitas visual yang sulit dilupakan.
Spiritfarer menjadi salah satu contoh paling jelas. Game ini memadukan visual ala Studio Ghibli, gameplay yang hangat, dan cerita emosional tentang kematian dalam paket yang terasa tenang sekaligus menyentuh.
Sebagai game cozy tentang kematian, Spiritfarer mengajak pemain menjelajahi lautan untuk menjemput jiwa-jiwa tersesat. Di balik suasananya yang lembut, ada momen perpisahan yang membuat pengalaman bermain terasa seru dan memilukan sekaligus.
Sea of Stars menunjukkan bagaimana JRPG klasik bisa hidup lagi lewat pendekatan modern. Sabotage Studios meracik game ini dengan inspirasi dari Final Fantasy, Chrono Trigger, dan Suikoden, lalu menambah sentuhan yang membuatnya terasa segar.
Dunia Sea of Stars digambarkan hidup, dengan soundtrack yang terdengar cerita dan gameplay yang ramah untuk banyak tipe pemain. Karakter seperti Garl juga menjadi sorotan karena hadir sebagai teman yang sangat berkesan.
Celeste menonjol di tengah banyaknya game platformer 2D yang bermunculan. Dengan visual 8-bit dan desain gameplay yang presisi, game ini berhasil terasa menantang tanpa kehilangan rasa memuaskan.
Celeste juga membawa cerita menyentuh tentang Madeline, sang protagonis, yang bergulat dengan kesehatan mental dan pencarian jati diri. Di luar itu, game ini punya komunitas speedrunning aktif yang terus menjaga popularitasnya.
Return of the Obra Dinn menawarkan pendekatan yang sangat berbeda. Pemain berperan sebagai petugas asuransi yang memakai jam saku ajaib untuk menyelidiki apa yang terjadi di atas kapal Obra Dinn dan siapa saja yang ada di sana.
Game ini menuntut deduksi, trial and error, dan pemikiran kritis, ditambah sedikit pengetahuan tentang dunia pelayaran. Meski begitu, pemain baru tetap bisa menikmatinya selama mau memberi waktu dan perhatian pada detail ceritanya.
Cuphead membuktikan bahwa visual yang lucu tidak selalu berarti permainan yang mudah. Game yang memadukan platformer dan shoot-em-up ini memakai gaya kartun lawas, tetapi tingkat kesulitannya terkenal tinggi.
Meski pemain mendapat banyak alat dan senjata, para bos di Cuphead dikenal sangat sulit dan bahkan kerap dibandingkan dengan tantangan di game-game FromSoftware. Mode co-op juga membuat pengalaman bermainnya tetap seru meski penuh tekanan.
Hades ikut menghidupkan kembali genre roguelike yang sempat kehilangan sorotan. Dengan latar dunia bawah dan gameplay hack-and-slash, game ini membuat kematian terasa seperti bagian dari perjalanan, bukan akhir permainan.
Setiap kali mati, pemain bisa menemukan cerita baru, upgrade, dan elemen menarik lain yang membuat progres terasa terus bergerak. Gaya visual yang memukau dan cerita berbasis mitologi Yunani ikut memperkuat reputasinya sebagai salah satu game indie paling berpengaruh.
Disco Elysium menutup daftar ini dengan pendekatan RPG yang sangat berbeda. Game ini menghadirkan misteri pembunuhan di Revachol, dunia penuh lore dan detail kompleks yang membuatnya butuh beberapa kali main untuk dipahami sepenuhnya.
Penulisannya menonjol lewat humor gelap, intrik politik, dan unsur surealis, sementara gaya visualnya terinspirasi lukisan renaissance. Dengan jalan cerita bercabang dan combat yang tidak ada, Disco Elysium kerap dianggap bukan hanya salah satu game indie terbaik di masanya, tetapi juga sepanjang masa.
Source: www.idntimes.com