Xbox Janji Tekan Harga Project Helix, Saat Krisis Memori Mengancam Konsol Baru

Xbox menghadapi dilema yang semakin sulit: di satu sisi, perusahaan ingin membuat Project Helix tetap terjangkau, tetapi di sisi lain biaya komponen terus naik di tengah krisis memori yang belum mereda. Asha Sharma, CEO Xbox, menegaskan bahwa inovasi akan menjadi kunci untuk menahan harga konsol baru itu agar tidak melonjak.

Dalam wawancara dengan Bloomberg Tech, Sharma mengatakan harga perangkat akan menjadi mahal hanya “jika kita tidak berinovasi.” Ia juga menilai perusahaan tidak bisa begitu saja menaikkan harga hardware di tengah krisis yang sedang terjadi, terutama saat biaya memori dan penyimpanan meningkat tajam.

Tekanan biaya makin berat

Sharma mengungkapkan bahwa dalam 100 hari pertamanya sebagai CEO Xbox, harga memori dan storage sudah naik secara signifikan. Ia juga tidak melihat permintaan dari pusat data AI akan turun dalam waktu dekat, sehingga tekanan pada rantai pasok komponen masih akan berlanjut.

Kondisi itu membuat target harga Project Helix menjadi semakin rumit. Microsoft disebut perlu menjaga produk tetap terjangkau dalam 100 hari ke depan, sekaligus menghadapi biaya komponen yang terus bergerak naik.

Proyek konsol baru ini juga disebut bisa meluncur paling cepat pada 2027. Namun, tanpa strategi efisiensi yang jelas, harga jualnya berisiko sulit dijangkau sebagian gamer.

Inovasi belum dijelaskan secara rinci

Sharma tidak merinci inovasi seperti apa yang dimaksud untuk menekan harga Project Helix. Salah satu kemungkinan adalah menghadirkan versi yang lebih sederhana dari konsol baru itu, mirip strategi Xbox Series S yang menawarkan varian lebih ringan.

Di sisi lain, bocoran yang beredar menyebut konfigurasi standar Project Helix akan membawa setidaknya 36GB unified GDDR7 memory. Jika itu benar, biaya komponen utama akan tetap tinggi, apalagi harga SSD yang ikut membengkak dan menyulitkan Microsoft mencapai MSRP yang masuk akal.

Kekhawatiran soal spesifikasi ini membuat sebagian pengamat menilai Helix bisa jadi terasa terlalu mahal. Hal itu semakin relevan setelah PlayStation 5 baru saja mengalami kenaikan harga lagi, yang membuat gamer makin sensitif terhadap harga perangkat baru.

Strategi teknis masih jadi pertanyaan

Microsoft kemungkinan akan sangat mengandalkan upscaling generasi berikutnya berbasis RDNA 5. Teknologi yang dirumorkan sebagai AMD FSR Diamond itu disebut memakai AI dan neural rendering untuk memaksimalkan kemampuan GPU.

Meski begitu, belum jelas seberapa jauh spesifikasi seperti memori bisa ditekan tanpa mengganggu performa. Jika pemangkasan terlalu agresif, kualitas pengalaman bermain bisa ikut terdampak dan justru mengurangi daya tarik konsol.

Subsidi harga juga tidak mudah

Masalah lain ada pada kemampuan Microsoft untuk mensubsidi harga Helix seperti pada perilisan sebelumnya. Ekosistem yang terbuka, dengan berbagai storefront yang saling bersaing, membuat ruang untuk subsidi menjadi lebih sulit.

Kondisi itu juga mengingatkan pada keputusan Microsoft terkait game eksklusif Xbox yang kini tampaknya perlu dievaluasi ulang. Tanpa langkah yang tepat, Project Helix berisiko berubah dari produk unggulan menjadi perangkat niche dengan basis pengguna yang lebih sempit.

Source: www.notebookcheck.net

Berita Terkait

Back to top button