
Pasar Motuba Solo Raya tampil sebagai ruang nostalgia yang hidup bagi pecinta otomotif klasik. Di tengah deretan mobil tua, acara ini bukan cuma memamerkan kendaraan lama, tetapi juga menghidupkan kembali ingatan ke masa kejayaan otomotif era 1980-an hingga awal 2000-an.
Sejak pintu gerbang dibuka, pengunjung langsung disambut mobil-mobil berdesain mengotak yang khas dari era tersebut. Suasana itu membuat lokasi pameran terasa seperti lorong waktu yang mempertemukan kolektor, penghobi, dan pemburu suku cadang dalam satu arena.
Unit klasik yang masih terawat
Daya tarik Pasar Motuba Solo Raya tidak berhenti pada tampilan visual. Ajang ini juga menjadi pasar transaksi riil yang mempertemukan pembeli dan penjual mobil tua dalam kondisi sangat terawat.
Sejumlah unit yang dipajang bahkan berstatus Full Original New Old Stock atau NOS. Deretan mobil yang mencuri perhatian antara lain Toyota Starlet Kotak, Honda Civic Nouva, Mitsubishi Danagan, Suzuki Katana, dan Toyota Kijang Super.
Lini Eropa premium juga ikut memperkuat magnet acara ini. Mercedes-Benz Boxer (W124) dan BMW E30 tampil dengan interior yang masih mulus dan rapi, sehingga memancing decak kagum para kolektor dari luar kota.
Lapak klithikan jadi incaran utama
Selain mobil utuh, pengunjung juga memburu lapak “klithikan” atau pasar loak onderdil khusus. Area ini menjadi salah satu alasan utama pasar tersebut selalu dipadati pengunjung.
Bagi pemilik mobil tua, menemukan komponen seperti lampu sein orisinal, dop roda bawaan pabrik, emblem besi yang sudah tidak diproduksi lagi, hingga setir dan radio tape saku bukan perkara mudah. Barang-barang langka itu dihamparkan di atas terpal, lalu menjadi bahan tawar-menawar dan diskusi hangat antarpenghobi.
Di tempat inilah banyak kolektor menemukan solusi untuk restorasi total mobil kesayangan mereka. Komponen yang sulit dicari sering kali justru ditemukan di lapak-lapak kecil yang tampak sederhana itu.
Ruang komunitas dan ekonomi lokal
Penyelenggara menyebut Pasar Motuba Solo Raya dibentuk untuk mewadahi ekosistem komunitas otomotif lokal yang terus tumbuh. Tren mengoleksi mobil tua kini juga tidak lagi didominasi generasi senior, karena anak-anak muda Gen Z dan Milenial ikut tertarik pada estetika retro dan gaya hidup analog.
Acara ini sekaligus menjadi ruang silaturahmi antarklub otomotif se-Jawa Tengah. Di saat yang sama, gelaran tersebut ikut menggerakkan ekonomi kreatif lokal.
Berbagai pelaku usaha mendapat dampak langsung dari ramainya pasar ini. Penyedia jasa restorasi bodi, bengkel spesialis mesin karburator, pengrajin interior kulit custom, hingga UMKM kuliner khas Solo ikut merasakan peningkatan omzet selama acara berlangsung.
Pasar Motuba Solo Raya memperlihatkan bahwa mobil tua bukan sekadar benda koleksi. Bagi banyak orang, ia adalah sejarah yang bisa disentuh, dicari, dirawat, dan dibawa pulang dalam wujud yang masih menjaga orisinalitasnya.









