Atlus memang paling sering dikaitkan dengan Persona, tetapi jejak mereka jauh lebih luas dari itu. Sejak berdiri pada 1986, perusahaan ini terus melahirkan game dari aksi, RPG, misteri FMV, sampai simulasi bedah yang sama-sama punya ciri kuat.
Kekuatan Atlus terlihat dari kemampuannya membangun dunia yang unik dan tetap melekat di ingatan pemain. Dari deretan panjang judul yang mereka rilis, ada tujuh game yang menonjol sebagai yang terbaik sepanjang masa.
Persona 5 Royal jadi puncak popularitas Atlus
Nama Atlus mungkin paling identik dengan Persona, dan Persona 5 Royal sering dianggap sebagai seri terbaiknya. Game ini mengikuti sekelompok siswa SMA yang membentuk kelompok vigilante dan memanggil manifestasi jiwa mereka yang terinspirasi dari mitologi dan budaya dunia untuk melawan kejahatan.
Versi Royal menambahkan karakter baru, cerita dan lokasi tambahan, serta berbagai peningkatan quality-of-life. Perbedaan itu membuatnya tampil lebih lengkap dibanding versi non-Royal dan semakin memperkuat posisinya di puncak daftar.
Metaphor: ReFantazio menunjukkan arah baru
Atlus juga membuktikan bahwa mereka tidak bergantung pada Persona lewat Metaphor: ReFantazio. Game yang mengejutkan banyak pemain pada 2024 ini membawa semesta baru dengan nuansa dan mekanisme yang terasa familier, tetapi tetap berdiri sebagai dunia tersendiri.
Dalam game ini, karakter memanfaatkan kekuatan Raja-Raja masa lalu yang disebut Archetype untuk bertarung. Latar ceritanya berpusat pada misi menjadi penguasa kerajaan magis bernama Euchronia.
Shin Megami Tensei V tetap jadi fondasi penting
Sebelum Persona meledak, Atlus sudah punya Shin Megami Tensei sebagai seri dengan tema mirip. Dalam seri ini, pemain mengendalikan anak sekolahan yang bisa memanggil makhluk mitologis dari berbagai budaya untuk diajak bertarung.
Banyak yang menilai Shin Megami Tensei V sebagai yang terbaik di serinya. Alasannya terletak pada cerita berlatar dunia pasca-apokaliptik dengan perang memperebutkan hak membangun ulang alam semesta.
Etrian Odyssey 5 menyempurnakan formula dungeon crawler
Atlus meluncurkan Etrian Odyssey pada 2007 dengan ide yang terasa segar saat itu. Pemain harus menggambar sendiri peta dungeon yang dijelajahi, lalu mencatat progres di layar sentuh DS.
Dari seluruh serinya, Etrian Odyssey 5: Beyond the Myth dianggap paling kuat. Game yang rilis pada 2016 itu menyempurnakan formula sebelumnya lewat cerita menarik, gameplay bervariasi, dan pilihan class karakter yang lebih banyak.
Unicorn Overlord membawa taktik ke arah berbeda
Unicorn Overlord hadir sebagai hasil kolaborasi Vanillaware dan Atlus. Game ini membawa konsep taktik ke tingkat berbeda karena pemain tidak mengatur tiap unit satu per satu, melainkan mengarahkan seluruh pasukan dalam pertempuran real-time.
Cerita game ini mengikuti seorang pangeran yang berkeliling dunia untuk mengumpulkan pendukung. Setiap keputusan pemain juga memberi dampak nyata pada perjalanan cerita dan perkembangan kekuatan mereka.
Trauma Center dan Tesla Effect jadi bukti keberanian Atlus
Trauma Center: Under the Knife menunjukkan keberanian Atlus dalam meramu ide yang tidak biasa. Game Nintendo DS yang rilis pada 2005 ini memanfaatkan layar sentuh untuk gameplay operasi bedah di masa depan, lalu menggabungkannya dengan elemen visual novel khas Jepang.
Kombinasi itu terbukti berhasil menarik perhatian banyak pemain. Meski seri ini berakhir pada Trauma Team di 2010, konsepnya masih terasa potensial untuk kembali di tengah maraknya game simulasi.
Tesla Effect: A Tex Murphy Adventure juga masuk daftar karena nilai nostalgianya yang kuat. Setelah vakum 16 tahun sejak game terakhirnya pada 1998, seri detektif cyberpunk noir itu kembali pada 2014 lewat perpaduan misteri baru, penulisan cerita yang kocak, akting karakter solid, dan dunia 3D yang bisa dijelajahi secara menyeluruh.
Kedua game ini memperlihatkan sisi Atlus yang gemar bereksperimen. Di luar Persona, perusahaan ini tetap punya ruang besar untuk menghadirkan ide yang unik, berani, dan berbeda dari arus utama.
Source: www.idntimes.com