Lonjakan kebutuhan komputasi AI kini begitu besar hingga Google memilih menyewa superkomputer dari SpaceX. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa bahkan perusahaan teknologi dengan anggaran raksasa pun mulai kesulitan mengejar permintaan infrastruktur AI yang tumbuh sangat cepat.
Dalam dokumen regulasi yang diumumkan SpaceX, Google disebut menandatangani perjanjian besar untuk menyewa infrastruktur komputasi AI milik perusahaan tersebut. Google akan membayar US$920 juta per bulan mulai Oktober 2026 hingga Juni 2029 untuk mengakses sekitar 1,10,000 GPU NVIDIA, CPU, memori, dan komponen terkait lainnya.
Yang menonjol dari kesepakatan ini adalah Google tidak membeli perangkat keras tersebut. Google pada dasarnya menyewa akses ke kumpulan daya komputasi AI dalam skala sangat besar karena permintaan atas layanan AI-nya tumbuh lebih cepat daripada kecepatan pembangunan infrastruktur baru.
Permintaan AI Melampaui Kapasitas Internal
Pada pandangan awal, langkah ini terlihat tidak biasa karena Google termasuk salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia. Perusahaan itu juga sudah berkomitmen menggelontorkan belanja modal lebih dari US$180 miliar tahun ini.
Google juga mengatakan pengeluarannya akan naik signifikan pada 2027. Selain itu, perusahaan baru-baru ini mengumumkan penjualan ekuitas senilai US$80 miliar untuk membantu membiayai rencana ekspansinya.
Namun, belanja besar itu tampaknya masih belum cukup untuk menutup kebutuhan jangka pendek. Kepada TechCrunch, Google menyatakan bahwa kesepakatan ini akan membantu memenuhi lonjakan permintaan pelanggan untuk layanan AI mereka, termasuk platform agen dan Gemini Enterprise.
Poin pentingnya ada pada faktor waktu. Membangun pusat data baru bisa memakan waktu bertahun-tahun, sementara kebutuhan komputasi untuk menjalankan produk AI harus dipenuhi sekarang.
Yang Diperebutkan Bukan Hanya Model AI
Kesepakatan Google dan SpaceX memperlihatkan perubahan besar dalam industri AI. Yang kini menjadi rebutan utama bukan hanya model AI terbaik, tetapi juga infrastruktur untuk melatih dan menjalankannya.
Model AI canggih membutuhkan jumlah chip khusus yang sangat besar, terutama GPU NVIDIA. Ketika adopsi AI terus meluas, permintaan terhadap chip-chip ini dan pusat data yang menampungnya ikut melonjak tajam.
Akibatnya, semakin banyak perusahaan yang memilih kemitraan dan skema sewa kapasitas komputasi. Langkah itu dinilai lebih cepat dibanding menunggu fasilitas baru selesai dibangun.
Tren serupa juga sudah terlihat dalam kesepakatan lain yang melibatkan SpaceX. Anthropic sebelumnya menandatangani perjanjian untuk menggunakan superkomputer Colossus 1 milik SpaceX guna menjalankan model AI-nya.
Mengapa SpaceX Menyewakan Infrastruktur AI?
Akar dari bisnis baru ini berasal dari perubahan korporasi besar di SpaceX. Setelah merger SpaceX dengan perusahaan AI milik Elon Musk, xAI, SpaceX memperoleh kendali atas infrastruktur AI skala besar, termasuk klaster pusat data Colossus yang semula dibangun untuk mendukung chatbot Grok dan proyek AI lainnya.
Alih-alih membiarkan kapasitas komputasi yang tidak terpakai menganggur, SpaceX memilih menyewakan kelebihan kapasitas tersebut. Menurut perusahaan, skema ini memberi fleksibilitas dalam mengalokasikan dan memonetisasi infrastruktur, sekaligus menghasilkan pemasukan langsung dari perangkat keras yang belum dipakai xAI.
Strategi itu terbukti sangat menguntungkan. Perjanjian Google datang hanya beberapa bulan setelah Anthropic menyepakati pembayaran US$1.25 miliar per bulan hingga 2029 untuk mengakses kapasitas komputasi yang tersedia di pusat data Colossus 1 dekat Memphis, Tennessee.
Gabungan dua kontrak itu membuat bisnis infrastruktur AI menjadi sumber pendapatan baru yang sangat besar bagi SpaceX. Nilai pendapatan terkait komputasi dari kedua kesepakatan tersebut melampaui US$2 miliar per bulan.
Dampak ke SpaceX dan Klausul untuk Google
Momentum ini juga penting bagi SpaceX karena perusahaan disebut sedang menyiapkan langkah menuju salah satu IPO terbesar dalam sejarah. SpaceX dilaporkan membidik valuasi lebih dari US$1.75 triliun.
Kontrak infrastruktur jangka panjang dengan pembayaran berulang bisa membuat profil bisnis SpaceX semakin menarik di mata investor. Pendapatan yang lebih dapat diprediksi biasanya menjadi faktor penting dalam menilai prospek perusahaan besar menjelang penawaran saham perdana.
Di sisi lain, kesepakatan tersebut juga memuat perlindungan untuk Google. SpaceX wajib menyediakan kapasitas komputasi yang dijanjikan paling lambat 30 September 2026.
Jika kapasitas itu gagal diserahkan tepat waktu, Google memiliki dua opsi. Perusahaan bisa mengakhiri perjanjian setelah masa tenggang satu bulan, atau menerima GPU dalam jumlah lebih sedikit dengan biaya yang disesuaikan lebih rendah.
Kontrak itu juga mencantumkan klausul pembatalan yang memungkinkan salah satu pihak mengakhiri perjanjian dengan pemberitahuan 90 hari setelah 31 Desember 2026. Struktur ini memperlihatkan bahwa dalam era AI, akses ke komputer dalam jumlah besar kini sama strategisnya dengan pengembangan model itu sendiri.
Source: www.indiatoday.in