Di banyak tempat kerja, penggunaan AI kini mulai diperlakukan seperti email: bukan selalu disukai, tetapi dianggap wajib. Di tengah tren itu, seorang software engineer berusia 34 tahun di North Carolina justru mendapat izin resmi untuk tidak memakai AI sama sekali karena alasan keyakinan agama.
Keputusan itu menarik perhatian karena terjadi saat banyak perusahaan teknologi mendorong karyawan memakai alat AI dalam pekerjaan sehari-hari. Bahkan, ada perusahaan yang menilai karyawan berdasarkan seberapa sering mereka menggunakan tool AI.
Perempuan tersebut mengajukan permohonan akomodasi kerja pada April. Ia berargumen bahwa penggunaan AI bertentangan dengan keyakinannya sebagai seorang Unitarian Universalist.
Dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa perkembangan teknologi seharusnya dibimbing oleh pemahaman etis tentang kemanusiaan. Ia juga menautkan keyakinan itu dengan keberatan terhadap dampak lingkungan dan dampak sosial dari AI.
Alasan keberatan terhadap AI
Ia menyampaikan kekhawatiran soal kebutuhan energi, air, dan lahan yang terkait dengan AI. Selain itu, ia menyoroti persoalan etis ketika teknologi tersebut berpotensi menggantikan pekerja manusia.
Untuk memperkuat pengajuan, ia berkonsultasi dengan pengacara ketenagakerjaan dan seorang pendeta dari jemaat lokalnya. Sebulan kemudian, permohonan itu disetujui oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Persetujuan tersebut membuatnya bisa tetap bekerja tanpa memakai alat AI. Di saat banyak engineer mulai bergantung pada asisten AI untuk menulis dan meninjau kode, ia melakukannya sendiri secara manual.
Ia mengatakan bahwa kini dirinya menulis kode dan meninjau kode “by hand”. Pernyataan itu terasa janggal hanya karena dalam dua tahun terakhir industri teknologi berubah sangat cepat.
Tetap menulis kode tanpa bantuan AI
Di tengah obsesi industri terhadap asisten AI, alur kerja seperti itu kini terlihat seperti cara lama. Namun ia menilai pendekatan tersebut tidak membuat pekerjaannya menjadi lebih lambat.
Menurut pengakuannya, ia baru saja menyelesaikan sebuah tugas pemrograman dengan kecepatan yang sama seperti rekan kerja yang menggunakan AI untuk penugasan yang hampir identik. Pengalaman itu memperkuat pandangannya bahwa AI belum tentu menjadi pengubah permainan untuk semua orang.
Ia juga menyatakan bahwa prinsip tetap penting. Pernyataan itu mencerminkan inti dari kasus ini: perdebatan soal AI di kantor bukan hanya tentang efisiensi, tetapi juga tentang nilai yang ingin dipertahankan pekerja.
Kasus tersebut muncul saat penolakan terhadap AI mulai lebih terlihat di berbagai bidang. Di sejumlah upacara wisuda perguruan tinggi tahun ini, mahasiswa dilaporkan mengejek pembicara yang memuji AI.
Di berbagai wilayah Amerika Serikat, warga juga menentang pembangunan pusat data AI karena alasan lingkungan. Penolakan itu menunjukkan bahwa keberatan terhadap AI tidak lagi terbatas pada kalangan teknolog atau akademisi.
Resistensi yang makin terlihat
Kritik terhadap AI juga datang dari tokoh keagamaan dunia. Baru-baru ini, Paus Leo XIV memperingatkan bahwa AI dapat memperdalam ketimpangan, memicu konflik, dan merusak martabat manusia jika terutama digerakkan oleh motif keuntungan, bukan nilai kemanusiaan.
Peringatan itu disampaikan dalam ensiklik pertamanya tentang AI yang berjudul Magnifica Humanitas. Dokumen tersebut membahas manfaat sekaligus risiko dari teknologi seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini.
Dalam konteks itu, pengecualian yang diperoleh software engineer dari North Carolina memang tampak tidak biasa. Namun kasus ini juga menandai perubahan yang lebih besar dalam hubungan antara pekerja dan AI.
Semakin dalam AI masuk ke tempat kerja, pertanyaannya tidak lagi sebatas apa yang bisa dilakukan teknologi itu. Muncul pula pertanyaan lain yang lebih mendasar: apakah semua orang memang ingin menggunakannya.
Bagi perusahaan, kasus ini bisa menjadi penanda bahwa penerapan AI di tempat kerja tidak selalu berjalan seragam. Bagi pekerja, kasus ini menunjukkan bahwa keberatan terhadap AI dapat muncul dari alasan yang sangat spesifik, termasuk keyakinan agama dan pandangan etis terhadap dampak teknologi.
Yang membuat kasus ini menonjol bukan hanya karena seorang engineer menolak AI. Yang lebih penting, perusahaan menerima bahwa di era ketika AI makin dianggap standar kerja baru, masih ada ruang bagi sebagian pekerja untuk memilih cara lama dan tetap menjalankan tugasnya.
Source: www.indiatoday.in