Dalam dua tahun terakhir, AI menjadi salah satu istilah yang paling sering muncul saat smartphone baru diluncurkan. Hampir semua merek, dari kelas premium sampai perangkat terjangkau, memakai fitur berbasis AI sebagai nilai jual utama.
Namun, pertanyaan yang kini makin sering muncul dari konsumen jauh lebih sederhana: apakah AI di smartphone benar-benar berguna, atau hanya terdengar canggih di materi pemasaran? Di tengah persaingan yang ketat, jawaban atas pertanyaan itu mulai menentukan apakah AI dianggap fitur penting atau sekadar hiasan promosi.
Dari jargon ke manfaat harian
Bagi sebagian besar pengguna, kebutuhan utama smartphone tetap sama. Perangkat harus cepat, baterainya awet, kameranya andal, dan pengalaman pakainya nyaman setiap hari.
Karena itu, AI baru terasa bernilai jika benar-benar mendukung kebutuhan tersebut. Teknologi ini dinilai lebih relevan ketika membantu aktivitas nyata, bukan hanya tampil menarik saat demo produk.
Seiring teknologi kecerdasan buatan makin matang, pendekatan industri smartphone juga ikut berubah. Fokus yang dulu banyak bertumpu pada daya tarik promosi kini mulai bergeser ke pengalaman pengguna yang lebih personal, relevan, dan berguna dalam aktivitas sehari-hari.
Sergio Ticoalu, Southeast Asia Marketing Director Infinix, mengatakan AI di smartphone seharusnya tidak berhenti pada kecanggihan teknologi semata. Menurut dia, yang paling penting adalah sejauh mana teknologi itu memberi pengalaman yang relevan bagi pengguna.
Ia menegaskan bahwa pengguna pada dasarnya tidak terlalu memikirkan apakah sebuah fitur memakai AI atau tidak. Yang mereka perhatikan adalah apakah teknologi tersebut benar-benar membantu kehidupan sehari-hari secara nyata.
Chipset jadi penentu utama
Di balik fitur AI yang makin canggih, ada peran hardware yang sering luput dari perhatian. AI modern membutuhkan kemampuan komputasi besar agar bisa bekerja cepat dan real-time langsung di perangkat, atau on-device AI.
Marketing Manager Qualcomm Indonesia, Robiat Fahlevie, menekankan bahwa chipset kini menjadi fondasi utama untuk menghadirkan pengalaman AI yang optimal di smartphone modern. Ia menjelaskan bahwa AI membutuhkan processing power besar agar fitur bisa berjalan optimal tanpa mengorbankan efisiensi daya maupun responsivitas perangkat.
Karena itu, perkembangan AI tidak bisa dipisahkan dari evolusi chipset yang semakin pintar dan efisien. Produsen smartphone kini banyak mengandalkan platform terbaru untuk menjaga performa, daya tahan baterai, dan kemampuan AI tetap seimbang.
Salah satu contohnya terlihat pada penggunaan Snapdragon 7s Gen 4 di Infinix NOTE 60 Pro. Chipset itu dirancang untuk menghadirkan keseimbangan antara performa tinggi, efisiensi energi, dan kemampuan AI yang lebih relevan untuk penggunaan harian.
AI makin personal dan adaptif
Transformasi AI di smartphone tidak hanya terjadi di sisi hardware. Sistem operasi juga ikut berubah agar pengalaman penggunaan terasa lebih personal dan adaptif terhadap kebiasaan pengguna.
Axellio Vincent, Product Manager OS Infinix, mengatakan AI modern sudah berkembang jauh melampaui sekadar label “AI-powered” yang sering dipakai dalam kampanye pemasaran. Menurut dia, AI kini harus mampu memahami konteks penggunaan secara lebih natural dan memberi bantuan tanpa mengganggu pengalaman pengguna.
Melalui XOS 16 dan Infinix AI Assistant atau Folax, berbagai fitur dikembangkan untuk mendukung produktivitas dan personalisasi perangkat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa AI di smartphone mulai diarahkan agar terasa natural, bukan sekadar fitur yang dicoba sekali lalu dilupakan.
Di titik ini, arah pengembangan AI smartphone tampak makin jelas. Teknologi tidak lagi hanya dipamerkan sebagai fitur yang mencolok, tetapi hadir secara intuitif di balik layar untuk membantu pengguna menyelesaikan aktivitas dengan lebih mudah dan efisien.
Source: id.mashable.com