Ternyata Cuma Segini Listrik 3D Printer per Jam, Jauh Lebih Hemat dari Dugaan

Biaya listrik sering jadi pertanyaan pertama saat seseorang membeli printer 3D. Kekhawatiran itu wajar, apalagi jika satu cetakan bisa berjalan lima hingga 10 jam atau lebih.

Namun, konsumsi dayanya ternyata jauh lebih kecil dari yang banyak orang bayangkan. Untuk printer 3D rumahan, biaya listrik rata-rata berada di kisaran satu hingga 10 sen per jam, sehingga penggunaan jangka panjang biasanya tidak menjadi beban terbesar.

Berapa biaya listrik per jam?

Cara menghitungnya cukup sederhana. Daya rata-rata dalam watt dibagi 1.000, lalu dikalikan tarif listrik per kWh di wilayah setempat.

Pada printer FDM, konsumsi dayanya umumnya berada di kisaran 60-150 watt. Jika memakai angka atas 150 watt dan tarif listrik rata-rata di Amerika Serikat sekitar 18 sen per kWh, biaya listrik per jamnya sekitar $0.027.

Untuk gambaran yang lebih konkret, sebuah cetakan selama 10 jam dengan printer yang rata-rata memakai 120 watt membutuhkan biaya sekitar 22 sen, atau $0.216. Jika kondisi itu terjadi setiap hari selama sebulan penuh, biayanya menjadi $6.48.

Angka itu tetap kecil dibanding harga printer dan bahan filamen. Artinya, listrik bukan komponen pengeluaran terbesar dalam aktivitas mencetak 3D.

Apa yang paling memengaruhi konsumsi daya?

Ukuran printer jadi faktor utama. Printer yang lebih besar memiliki bed yang lebih luas, dan menjaga suhunya tetap stabil membutuhkan lebih banyak listrik.

Dua komponen yang paling boros daya adalah heated bed dan hot end. Bed harus tetap hangat agar cetakan tidak melengkung, sementara hot end bertugas melelehkan filamen.

Jenis filamen juga punya pengaruh langsung. PLA mencetak pada suhu nozzle 190-220 derajat Celsius, lebih rendah dibanding ABS yang berada di 220-250 derajat Celsius.

Perbedaan suhu itu ikut menekan atau menaikkan kebutuhan listrik. PLA juga tidak selalu memerlukan heated bed, dan jika dipakai, suhu yang direkomendasikan berada di kisaran 50-60 derajat Celsius.

Sebaliknya, ABS membutuhkan suhu bed 80-110 derajat Celsius. Rentang itu membuat konsumsi daya naik karena printer harus bekerja lebih keras mempertahankan panas.

Cara menekan biaya listrik

Ada beberapa cara sederhana untuk menghemat energi. Salah satunya adalah menurunkan suhu hot end dan heated bed selama masih berada dalam batas aman untuk filamen yang dipakai.

Menggunakan PLA juga membantu karena material ini butuh suhu lebih rendah. Jika memungkinkan, enclosure juga berguna karena dapat menahan panas di sekitar printer dan mengurangi energi untuk menjaga suhu bed.

Strategi cetak ikut berpengaruh. Menggabungkan beberapa cetakan kecil ke dalam satu sesi bisa mengurangi siklus pemanasan, sehingga lebih hemat daya.

Pengaturan infill juga layak diperhatikan. Semakin rendah persentase infill, semakin cepat model selesai dicetak, dan itu berarti waktu pemakaian listrik juga lebih singkat.

Lokasi printer dan perawatan rutin tidak boleh diabaikan. Keduanya membantu menjaga performa printer tetap efisien saat dipakai dalam jangka panjang.

Apakah listrik harus jadi alasan untuk ragu membeli printer 3D?

Secara umum, tidak. Printer 3D sudah tergolong efisien, dan konsumsi dayanya jauh di bawah microwave atau pemanas ruangan yang biasanya bekerja di kisaran 1.200-1.500 watt.

Bila dihitung bersama seluruh biaya cetak, listrik justru berada di belakang harga printer, filamen, perawatan rutin, dan bahkan penggantian nozzle. Itu sebabnya, bagi banyak pengguna, tagihan listrik bukan lagi faktor yang paling menahan keputusan untuk mulai memakai printer 3D.

Terkait