Kacamata pintar kini muncul sebagai ancaman baru dalam pengawasan ujian, dan sekolah serta penyelenggara tes mulai bergerak cepat untuk menutup celah itu. Perangkat yang tampak seperti kacamata biasa ini membawa kamera, speaker, mikrofon, layar di lensa, hingga fitur AI yang bisa dipakai diam-diam saat peserta mengerjakan soal.
Kasus terbaru mencuat di Korea Selatan setelah dua peserta TOEIC ketahuan memakai smartglasses berfitur AI saat ujian. Peristiwa ini langsung menyita perhatian karena disebut sebagai kasus pertama semacam itu di negara tersebut, hanya beberapa pekan setelah Ray-Ban Meta smartglasses resmi meluncur di pasar lokal.
Pejabat TOEIC menyatakan kecurigaan muncul sejak awal ujian setelah pengawas melaporkan peserta yang diduga mengenakan kacamata AI. Untuk menghindari gangguan terhadap jalannya tes, verifikasi dilakukan setelah ujian selesai dan pelanggar kemudian ditindak.
Hasil ujian kedua peserta itu dibatalkan, dan mereka dilarang mengikuti TOEIC selama empat tahun. Sanksi tersebut menunjukkan bahwa penyelenggara tes mulai memperlakukan perangkat wearable berbasis AI sebagai risiko serius terhadap integritas ujian.
Cara pasti smartglasses itu dipakai dalam ujian belum dipastikan. Namun, ada dugaan perangkat tersebut memanfaatkan kamera serta layar dalam lensa atau speaker bawaan untuk membantu menerjemahkan soal dan memberi jawaban lewat fitur AI.
Itu yang membuat smartglasses jauh lebih sulit diawasi dibanding ponsel atau catatan kertas. Bentuknya tidak selalu mencolok, tetapi kemampuannya sudah cukup untuk merekam, menerima informasi, dan menampilkan bantuan secara tersembunyi.
Sekolah dan lembaga ujian mulai bereaksi
Kekhawatiran ini bukan hanya terjadi di Korea Selatan. Di Amerika Serikat, College Board mulai melarang penggunaan smartglasses dalam tes SAT sejak Maret 2026.
Priscilla Rodriguez, senior vice president di College Board, mengatakan tim keamanan ujian dan tim teknologi mereka terus memantau potensi ancaman baru. Menurut dia, organisasi itu sudah mengikuti pengumuman prapeluncuran berbagai kacamata dan gawai semacam ini bahkan sebelum produknya masuk pasar.
Pernyataan itu memperlihatkan perubahan besar dalam cara penyelenggara ujian memandang teknologi konsumen. Ancaman tidak lagi datang hanya dari ponsel, smartwatch, atau alat komunikasi tersembunyi, tetapi juga dari perangkat yang menyatu dengan aksesori sehari-hari.
Di Inggris, regulator Ofqual juga telah menyoroti smartglasses sebagai salah satu sarana menyontek dalam ujian. Seorang pejabat regulator itu mengatakan sekolah-sekolah melaporkan perangkat seperti earpiece tersembunyi, smartglasses yang memutar teks diam-diam di bagian dalam lensa, hingga pulpen dengan layar mini video yang nyaris tak terlihat.
Laporan semacam itu menunjukkan masalahnya berkembang lebih luas dari satu merek atau satu negara. Yang berubah bukan hanya alatnya, melainkan cara menyontek yang makin sulit dikenali secara kasatmata.
Teknologinya makin matang, pengawasannya makin rumit
Banyak smartglasses modern memang dipasarkan lewat fitur-fitur unggulan seperti kamera, speaker, mikrofon, dan AI. Pada konteks sehari-hari, fitur itu ditujukan untuk membantu pengguna merekam momen, menerima perintah suara, atau mengakses informasi dengan cepat.
Namun dalam ruang ujian, kombinasi fitur yang sama bisa menciptakan masalah baru. Kamera dapat menangkap soal, AI dapat memprosesnya, dan output bisa dikirim kembali lewat audio atau teks yang hanya dilihat pemakai.
Model pasti yang dipakai dalam kasus TOEIC di Korea Selatan belum dikonfirmasi. Salah satu laporan bahkan menyebut kedua perangkat itu bukan model yang resmi dijual di Korea Selatan.
Fakta itu menambah tantangan bagi sekolah dan penyelenggara tes. Mereka tidak cukup hanya mengenali produk yang resmi beredar di pasar lokal, karena perangkat bisa dibeli dari luar negeri atau dibawa masuk lewat jalur lain.
Ray-Ban dan Oakley versi smartglasses baru hadir di Korea Selatan pada 25 Mei 2026. Sementara itu, produk serupa dari Meta sudah lebih dulu tersedia di Amerika Serikat, Inggris, dan sejumlah wilayah lain.
Meta juga telah merilis Meta Ray-Ban Display smartglasses di Amerika Serikat, perangkat yang menggabungkan layar dan kamera. Namun perusahaan itu belum meluncurkannya di Inggris maupun wilayah lain.
Ada juga perangkat seperti Even Realities G2 yang tidak memiliki kamera, tetapi tetap membawa layar di lensa. Ini berarti ancaman dalam ujian tidak selalu bergantung pada kemampuan merekam, karena tampilan visual tersembunyi saja sudah bisa menjadi masalah.
Gelombang produk baru tampaknya belum akan melambat. Samsung dan Google disebut akan meluncurkan smartglasses pertama mereka dengan kamera dan AI pada akhir tahun ini.
Semakin banyak perangkat semacam itu hadir, semakin besar tekanan pada sekolah, kampus, dan lembaga sertifikasi untuk memperbarui aturan ujian. Kasus di Korea Selatan memperlihatkan bahwa celah itu bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan sudah benar-benar dimanfaatkan peserta tes.
Di luar ruang ujian, reputasi smartglasses juga sudah dibayangi persoalan lain, mulai dari masalah di acara olahraga hingga kekhawatiran privasi di ruang publik. Kini, daftar kekhawatiran itu bertambah dengan satu isu yang sangat sensitif bagi dunia pendidikan: menyontek dengan bantuan AI yang nyaris tak terlihat.
Source: www.androidpolice.com






