Amazon Ubah Cara Data Center Bekerja, Janji Hemat Daya Besar dan Kinerja Lebih Ngebut

Amazon tengah mendorong pendekatan baru untuk pusat datanya yang berpotensi mengubah cara penyimpanan cloud bekerja di skala besar. Perusahaan itu mengklaim arsitektur baru ini dapat membuat jaringan data center AWS lebih hemat daya, lebih tangguh, dan lebih efisien tanpa mengorbankan performa.

Pernyataan paling menonjol datang dari klaim Amazon bahwa desain tersebut bisa memakai 69% lebih sedikit router dan switch. Di saat yang sama, konsumsi daya disebut turun 40% dan throughput naik 33% di data center AWS yang sangat besar.

Apa inti terobosannya

Inti sistem ini disebut resilient network graphs, atau RNG. Konsepnya mengandalkan koneksi kabel acak agar jaringan bekerja lebih efisien daripada tata letak tradisional yang kaku.

Ada dua komponen utama di dalamnya. Di sisi perangkat keras, Amazon memakai perangkat bernama ShuffleBox untuk mengacak koneksi kabel fisik antar komponen jaringan, lalu memasangkannya dengan perangkat lunak Spraypoint sebagai algoritma pengarah trafik khusus untuk desain RNG.

RNG berakar pada teori random network graphs yang dipelopori matematikawan Hungaria pada 1959, yakni model Erdős–Rényi. Dalam model ini, titik-titik dalam grafik terhubung secara acak menurut aturan probabilitas yang tetap, sehingga hasil akhirnya berbeda-beda tetapi tetap punya sifat statistik yang bisa diprediksi.

Mengapa pendekatan ini berbeda

Sebagian besar data center saat ini memakai struktur “fat tree”. Dalam model ini, aliran data bergerak naik-turun melalui lapisan jaringan, dengan node tebal di bagian atas untuk meredam kemacetan yang muncul dari bentuk pohon yang linear.

Masalahnya, struktur itu membutuhkan banyak kabel dan perangkat keras. Sistemnya cenderung andal, tetapi tidak dikenal sangat efisien.

RNG menawarkan jalur alternatif. Alih-alih memaksa trafik lewat sedikit jalur tetap yang mudah padat, jaringan acak membuka lebih banyak rute di antara dua titik, sehingga beban bisa tersebar.

Implementasinya tidak sederhana karena tetap harus memakai kabel fisik. Di sinilah ShuffleBox berperan, karena perangkat itu mengacak sambungan kabel fisik mengikuti konsep random network graph.

Amazon juga mengandalkan optical circuit switching, atau OCS. Metode ini mengirim data dari titik awal ke titik akhir sepenuhnya sebagai cahaya di dalam kabel serat optik, sehingga tidak perlu sering berhenti untuk dikonversi ke energi listrik lalu dikonversi lagi menjadi cahaya di node berikutnya.

Peran Spraypoint dalam lalu lintas data

Spraypoint membantu dengan cara menyebarkan paket data ke beberapa router tetangga, bukan hanya lewat satu jalur terbaik. Paket-paket itu kemudian diteruskan oleh router perantara sampai tiba di tujuan yang benar.

Pendekatan ini dirancang untuk meratakan trafik dan mengurangi titik panas yang padat. Hasilnya, jaringan dapat bekerja lebih lancar saat beban komputasi meningkat.

Efisiensi semacam ini menjadi penting karena pusat data terus haus listrik. Kebutuhan daya yang tinggi membuat pembangunan data center kerap berbenturan dengan kapasitas jaringan listrik dan infrastruktur yang ada.

Dampaknya bagi cloud storage dan infrastruktur

Pengurangan daya di data center bukan sekadar soal biaya operasional. Ini juga terkait langsung dengan kelayakan ekspansi cloud storage di tengah kekhawatiran terhadap grid listrik dan lingkungan.

Syracuse menyebut ada 30 data center yang saat ini mengejar izin konstruksi di New York State. Jika semuanya dibangun, konsumsi listriknya disebut akan melebihi negara Irlandia dan menambah tekanan pada jaringan listrik yang sudah tua.

Bloomberg juga melaporkan bahwa pelanggan yang tinggal sejauh satu jam berkendara dari data center baru bisa menghadapi tagihan utilitas hingga 267% lebih tinggi dibanding lima tahun lalu. Artinya, pertumbuhan pusat data ikut dirasakan oleh konsumen di sekitarnya.

Amazon sendiri menjadi pemain yang sangat besar dalam isu ini. Perusahaan itu dilaporkan memiliki dua kali lipat jumlah data center aktif dari perkiraan sebelumnya, menurut SourceMaterial bersama Bloomberg.

Laporan yang sama menyebut data center Amazon mendorong pembangunan pabrik gas baru dan memperpanjang umur pembangkit batu bara yang seharusnya bisa ditutup. Di sisi lain, laporan SourceMaterial pada 2025 juga menyoroti bahwa Amazon, Google, dan Microsoft terus membangun data center yang membutuhkan air dalam jumlah besar untuk pendinginan di wilayah-wilayah paling kering di dunia.

Dengan latar seperti itu, klaim efisiensi dari RNG menjadi menarik perhatian. Jika hasilnya benar-benar tercapai dalam skala operasi AWS, Amazon bisa memberi arah baru bagi desain cloud storage dan infrastruktur data center yang lebih hemat energi.

Terkait