Teknologi digital kini membuka akses ke bagian-bagian tersembunyi Pagoda Kayu Yingxian di Provinsi Shanxi, China utara, yang telah lama tertutup bagi publik. Melalui ruang pengalaman imersif yang baru dibuka, pengunjung dapat menelusuri bangunan kuno itu secara virtual hingga ke area yang tidak bisa dikunjungi langsung selama lebih dari satu dekade.
Terobosan ini menjadi penting karena pagoda kayu berusia 970 tahun itu merupakan bangunan bertingkat kayu tertua dan tertinggi di dunia yang masih berdiri dan pada dasarnya masih dapat diakses. Namun, kondisi fisiknya membuat pelestarian menjadi prioritas, sehingga teknologi dipakai untuk menjembatani kebutuhan konservasi dan keinginan publik untuk melihat isi bangunan bersejarah tersebut.
Ruang pengalaman digital itu berada di sudut tenggara kawasan wisata Pagoda Kayu Yingxian. Pengunjung tidak perlu memakai headset atau perangkat wearable untuk masuk ke dalam sajian virtual tersebut.
Begitu memasuki ruangan, pengunjung dibawa ke versi digital pagoda dan dipandu lantai demi lantai lewat presentasi audiovisual yang imersif. Efek visual menampilkan “cahaya matahari” di koridor interior, sementara patung, plakat, dan tangga dibuat sangat realistis.
Pengalaman ini memberi sensasi seolah-olah pengunjung benar-benar berdiri di dalam bangunan kuno tersebut. Respons publik pun menunjukkan ketertarikan tinggi, termasuk komentar yang menyebut pengalaman itu mampu menebus kekecewaan karena tidak bisa menaiki pagoda secara langsung.
Akses ke bagian yang selama ini tertutup
Pagoda Kayu Yingxian memiliki sembilan lantai, yang terdiri atas lima lantai terlihat dan empat lantai tersembunyi. Karakter inilah yang membuat bangunan tersebut bukan hanya penting secara arsitektur, tetapi juga menyimpan banyak detail yang sulit dijangkau oleh pengunjung biasa.
Selama bertahun-tahun, akses ke tingkat atas ditutup demi menjaga kondisi bangunan. Penutupan itu dilakukan setelah kerusakan akibat peperangan dan perubahan struktural historis membuat pagoda lambat laun mengalami kemiringan yang tampak jelas.
Karena itu, pengalaman digital ini tidak sekadar menghadirkan hiburan visual. Sistem tersebut juga memungkinkan publik melihat bagian-bagian yang sebelumnya nyaris mustahil diamati dari dekat tanpa menambah tekanan pada struktur aslinya.
Menurut Yang Yinkai, pihak yang perusahaannya bertanggung jawab atas presentasi digital proyek tersebut, keunggulan utama program ini terletak pada penggunaan sistem CAVE lima layar. Sistem itu dirancang untuk menciptakan sensasi melayang yang sepenuhnya imersif selama perjalanan virtual berlangsung.
Sepanjang tur digital, pengunjung dipandu oleh kombinasi narasi antropomorfik, grafis melayang, dan animasi adegan penuh. Format ini dipakai untuk menyampaikan sejarah, arsitektur, dan signifikansi budaya pagoda secara menyeluruh.
Detail bangunan kini bisa dilihat dari dekat
Sejumlah elemen di dalam pagoda selama ini sulit dilihat dengan jelas, bahkan saat kunjungan langsung masih dimungkinkan. Yang menyebut banyak plakat yang tergantung tinggi di atas kepala pengunjung, serta prasasti restorasi yang tersembunyi di sudut-sudut, kerap luput dari pengamatan.
Di ruang imersif ini, detail-detail tersebut dapat ditampilkan dari jarak dekat. Pengunjung bisa melihat elemen interior dengan sudut pandang yang lebih jelas dibanding pengalaman biasa di lokasi.
Untuk memperkuat tampilan visual, proyek ini juga menerapkan teknologi pencitraan tiga dimensi tanpa kacamata. Teknologi itu dipakai, antara lain, ketika sistem menjelaskan tiga jenis dougong, yaitu sambungan kayu tradisional yang saling mengunci dan menjadi ciri khas arsitektur China.
Saat bagian dougong diperkenalkan, struktur itu disorot dengan cahaya, diperbesar, lalu ditampilkan seolah hadir tepat di depan mata penonton. Pendekatan ini membantu pengunjung memahami unsur teknik bangunan yang penting, tetapi biasanya sulit dibaca secara cepat di lokasi asli.
Seorang mahasiswa bernama Zhang Yuhao mengatakan pengalaman itu memberinya pemahaman yang jauh lebih dalam tentang pagoda tersebut. Ia juga merasakan tanggung jawab yang lebih besar untuk ikut membantu melindunginya.
Bagian dari tren pelestarian warisan budaya
Transformasi digital di Pagoda Kayu Yingxian mencerminkan tren yang lebih luas di sektor warisan budaya China. Teknologi canggih kini semakin sering digunakan untuk melestarikan sekaligus menampilkan harta karun bersejarah kepada publik.
Di Taiyuan, misalnya, pengunjung dapat masuk secara virtual ke makam Xu Xianxiu, seorang bangsawan Dinasti Qi Utara, dan menikmati mural yang menggambarkan gaya hidup mewah kalangan elite pada masa itu. Di wilayah Xixian, pengunjung juga dapat “melayang” di dalam Kuil Xiaoxitian untuk mengamati patung-patung gantungnya dari dekat.
Di tempat lain, film animasi pendek dipakai untuk membantu penonton menjelajahi adegan kehidupan perkotaan di Bianjing, ibu kota Dinasti Song Utara, seperti yang tergambar dalam mural Kuil Yanshan di wilayah Fanshi. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pelestarian digital tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai cara baru untuk memperluas interaksi publik dengan warisan budaya.
Pelestarian digital, revitalisasi warisan budaya, restorasi berbantuan AI, dan visualisasi imersif kini menjadi sarana yang semakin penting dalam upaya perlindungan situs bersejarah di China. Dengan menembus batas ruang dan waktu, teknologi digital memberi dimensi baru agar harta budaya kuno tetap dapat dipelajari, dinikmati, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.







