Larangan pemerintah AS terhadap penggunaan model AI Mythos 5 dan Fable 5 oleh warga asing justru dinilai bisa melemahkan pertahanan siber, bukan memperkuatnya. Peringatan itu datang dari 160 pakar keamanan siber yang menilai pembatasan tersebut berisiko mencabut alat terbaik dari pihak yang bertugas menutup celah keamanan.
Mereka menilai keputusan itu muncul di saat ancaman justru meningkat dan kemampuan lawan terus berkembang. Dalam surat terbuka kepada Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, kelompok ini menyebut menarik kemampuan terbaik dari para pembela tanpa alasan yang kuat sebagai langkah yang berbahaya.
Pemerintah AS sebelumnya melarang seluruh warga asing memakai model Anthropic tersebut karena kekhawatiran soal keamanan siber. Gedung Putih meyakini model itu bisa dijebol pengamanannya oleh pelaku jahat, lalu dipakai untuk membantu meretas berbagai perangkat lunak.
Belakangan, Anthropic disebut menangguhkan akses Mythos 5 dan Fable 5 untuk semua pengguna. Di saat yang sama, perusahaan itu juga dilaporkan sedang berdiskusi dengan pejabat AS untuk kemungkinan membalikkan kebijakan tersebut.
Mengapa para pakar menolak larangan itu
Inti keberatan para ahli adalah soal keseimbangan antara risiko penyalahgunaan dan kebutuhan pertahanan. Mereka berpendapat model AI canggih juga sangat penting bagi peneliti keamanan dan tim pertahanan untuk menemukan celah, memahami eksploit, lalu menutup bug lebih cepat.
Kelompok itu menegaskan bahwa pelaku ancaman tidak menunggu regulasi bergerak. Menurut mereka, ketika pihak lawan terus maju, membatasi akses pembela terhadap model terbaik justru bisa memperlebar ketertinggalan.
Nama-nama besar ikut menandatangani surat itu. Di antaranya mantan kepala keamanan Facebook Alex Stamos, pakar keamanan siber Bruce Schneier, dan pencipta PGP Philip Zimmermann.
Surat itu juga menyoroti percepatan kemampuan model dari China. Para pakar menulis bahwa model open-weight asal China hanya terpaut beberapa bulan dari model terbaik buatan AS yang diketahui publik.
Mereka bahkan menilai pemerintah China mungkin sudah memiliki kemampuan yang belum dipublikasikan. Jika penilaian itu tepat, maka larangan terhadap Mythos 5 dan Fable 5 tidak banyak mengubah kemampuan pihak lawan, tetapi justru membatasi pihak pembela.
Kekhawatiran soal China dan efektivitas larangan
Salah satu alasan di balik larangan ini adalah kekhawatiran bahwa kelompok yang terkait dengan China dapat menjebol pengaman model lalu memakainya untuk merencanakan serangan siber. Namun para ahli menilai asumsi itu tidak cukup untuk membenarkan pembatasan yang luas.
Menurut mereka, jika model pesaing sudah mendekati level yang sama, maka pembatasan terhadap satu model asal AS tidak otomatis menurunkan ancaman. Sebaliknya, langkah itu dapat menghambat penelitian defensif di negara mitra dan komunitas keamanan global yang sah.
Pakar juga menilai kemampuan model AI untuk membantu pencarian bug bukan hal yang eksklusif pada Mythos 5 atau Fable 5. Mereka menyebut model seperti GPT-5.5, Opus, Sonnet, hingga model China seperti Kimi 2.7 juga bisa dipakai untuk menemukan kelemahan keamanan.
Kelompok tersebut menambahkan bahwa AI sudah menemukan bug dan menghasilkan eksploit yang berfungsi pada tingkat superhuman sejak tahun lalu. Dengan kondisi seperti itu, fokus kebijakan dinilai perlu lebih tepat sasaran daripada sekadar memutus akses luas.
Tidak semudah memberi satu prompt
Alex Stamos juga menepis anggapan bahwa model seperti Fable 5 bisa langsung dipakai untuk membobol sistem hanya dengan satu perintah sederhana. Kepada Axios, ia mengatakan pengguna tidak bisa begitu saja memberikan seluruh kernel Linux dan meminta model menemukan semua bug keamanan.
Menurut Stamos, kemampuan yang tampaknya memicu kekhawatiran Gedung Putih adalah kemampuan Fable 5 membuat proof of concept untuk suatu kerentanan. Proof of concept memang bisa menjadi cetak biru bagi peretas, tetapi juga sangat berguna bagi tim keamanan untuk memahami cara serangan bekerja dan menyiapkan pertahanan.
Ia menilai menutup akses ke kemampuan terbaik pada saat diketahui pihak China juga sedang menggunakan dan menimbun kerentanan adalah langkah yang berbahaya. Stamos menekankan bahwa saat ini ada perlombaan untuk memperbaiki bug secepat mungkin.
Laporan lain menyebut pemicu larangan itu berkaitan dengan keberhasilan peneliti Amazon melakukan jailbreak terhadap model melalui prompt tertentu yang melewati pengamanan. Namun bagi para ahli, fakta bahwa pengamanan bisa ditembus tidak otomatis berarti solusi terbaik adalah menarik alat itu dari pengguna sah yang bekerja untuk pertahanan.
Seruan agar kebijakan dibuat lebih terbuka
Kelompok 160 pakar itu meminta agar regulasi AI disusun lewat proses demokratis yang transparan. Mereka juga menekankan bahwa kebijakan harus berbasis evaluasi ilmiah dan dibatasi hanya pada langkah minimum yang benar-benar diperlukan untuk melindungi publik AS.
Bagi mereka, isu utamanya bukan sekadar soal satu model AI, melainkan cara negara menyeimbangkan keamanan nasional dengan kebutuhan pertahanan siber sehari-hari. Dalam pandangan para pakar ini, pembatasan yang terlalu luas justru bisa membuat peneliti, tim respons insiden, dan sekutu AS kehilangan alat penting saat ancaman terus berkembang.
