Di tengah semakin luasnya adopsi USB-C, masih ada laptop pada 2026 yang tetap memakai dua port pengisian daya. Alasannya bukan semata soal kebiasaan lama, melainkan soal kompatibilitas, biaya, dan kebutuhan akan jalur daya cadangan yang lebih andal.
Secara teori, USB-C terlihat seperti jawaban universal untuk pengisian daya perangkat modern. Namun dalam pemakaian nyata, tidak semua charger USB-C bekerja mulus dengan setiap perangkat karena protokol dan profil dayanya tidak selalu sama.
USB-C mendukung banyak level tegangan, sehingga perangkat dan charger harus saling berkomunikasi untuk menegosiasikan profil daya yang tepat. Jika komunikasi itu tidak berjalan benar, sebuah perangkat bisa saja gagal terisi dengan baik meski memakai charger USB-C yang lebih baru.
Masalahnya tidak berhenti di charger. Beberapa aksesori murah bahkan tidak menerapkan komunikasi USB-C PD dengan benar dan hanya mengharapkan suplai 5V sederhana yang “bodoh”.
Kenapa dua port masih dipertahankan
Di sisi lain, tidak semua charger mendukung semua profil tegangan. Kabel USB-C juga sangat bervariasi dalam kemampuan menyalurkan daya secara aman, sehingga hasil akhirnya bisa berbeda meski konektornya sama.
Kondisi ini membuat sejumlah produsen tetap mempertahankan konektor barrel tradisional di samping USB-C. Bagi pengguna, keberadaan port barrel memberi opsi cadangan yang memakai adaptor daya fixed voltage dan cenderung lebih bisa diprediksi.
Bagi produsen, pertimbangannya juga sederhana. Dalam banyak kasus, memasang DC barrel connector lebih murah daripada membangun seluruh rangkaian pengisian USB-C PD.
Itulah sebabnya pendekatan dua port masih muncul di laptop tertentu. Ketika satu sistem pengisian bergantung pada negosiasi daya yang kompleks, sistem lama dengan adaptor tetap masih punya nilai praktis sebagai jalur alternatif.
Bukan lawan USB-C, tetapi pelengkap
Keberadaan barrel connector tidak otomatis berarti USB-C ditinggalkan. Sebaliknya, kombinasi keduanya menunjukkan bahwa produsen masih menghitung risiko di lapangan, terutama saat perangkat harus bekerja dengan berbagai charger dan kabel dari beragam kualitas.
Model seperti yang diterapkan Schenker memperlihatkan bahwa dua sistem bisa hadir dalam satu perangkat tanpa saling meniadakan. Dalam skenario seperti ini, USB-C tetap memberi fleksibilitas, sementara konektor barrel menyediakan cadangan daya yang lebih stabil.
Bagi pembeli, pesan pentingnya cukup jelas. Label USB-C di sebuah laptop tidak selalu menjamin semua charger USB-C akan kompatibel penuh, dan itulah alasan port pengisian kedua masih dianggap relevan.
Selama standar daya dan kualitas kabel belum benar-benar seragam di semua perangkat, sebagian laptop kemungkinan tetap akan membawa dua jalur pengisian. Pilihan itu menjaga laptop tetap bisa diisi meski satu metode charging gagal bekerja sebagaimana mestinya.
