Telegram Tetap Bisa Diakses Meski Diblokir, Kemampuan Pemblokiran Teknologi Dipertanyakan

Author: Qoo Media

Telegram masih bisa diakses di India meski pemerintah telah memberlakukan pelarangan menjelang ujian ulang NEET pada 21 Juni. Kondisi ini langsung memicu pertanyaan besar soal seberapa efektif kemampuan teknis India untuk benar-benar memblokir platform pesan tersebut.

Larangan itu disebut berlaku sampai 22 Juni, tetapi beberapa jam setelah kebijakan diumumkan, aplikasi Telegram tetap berfungsi. Situs Telegram juga masih bisa dibuka, termasuk domain t.me yang dipakai layanan ini untuk menyajikan pesan di web.

Perkembangan ini membuat isu Telegram bukan lagi sekadar soal kebijakan pelarangan aplikasi. Perhatian kini bergeser ke pertanyaan yang lebih teknis, yakni apakah infrastruktur pemblokiran internet di India cukup kuat untuk menutup akses Telegram secara menyeluruh.

Ada satu perubahan yang sudah terlihat di sisi distribusi aplikasi. Telegram telah dihapus dari Google Play Store, dan kemungkinan segera menyusul dari iOS App Store.

Namun, penghapusan dari toko aplikasi belum otomatis menghentikan akses pengguna lama. Telegram masih tersedia luas melalui banyak toko aplikasi lain di web, termasuk lewat file APK.

Mengapa Telegram sulit diblokir

Sejumlah pembahasan di media sosial menyoroti bahwa pemblokiran total Telegram bisa sangat rumit. Salah satu alasannya, Telegram dirancang dengan fitur yang memudahkan penggunaan proxy dan metode penghindaran sensor.

Peneliti keamanan siber berusia 19 tahun, Nisarga Adhikary, ikut menyuarakan pandangan itu di X. Menurut dia, pemblokiran total Telegram bahkan mungkin tidak benar-benar bisa dilakukan karena desain platform tersebut memudahkan pengguna melewati pembatasan.

Di India, pemblokiran layanan digital umumnya dijalankan lewat penyedia layanan internet atau ISP seperti Jio dan Airtel. Ketika pemerintah memerintahkan pelarangan sebuah situs atau aplikasi, operator jaringan inilah yang biasanya bertugas menegakkan blokir.

Cara yang paling umum dipakai adalah pemblokiran di level DNS. Dalam skema ini, sistem DNS milik ISP tidak lagi mengarahkan pengguna ke server tujuan, sehingga layanan yang diblokir seolah-olah tidak bisa dijangkau.

Metode itu efektif untuk banyak platform yang mengandalkan pencarian domain secara langsung. Karena itu, pendekatan serupa sering terlihat pada pelarangan aplikasi atau situs lain di India.

Perbedaan teknis Telegram

Telegram disebut bekerja dengan pola yang berbeda dari banyak layanan internet biasa. Di X, seorang pengguna dengan akun @kingslyj mengklaim bahwa infrastruktur pemblokiran saat ini tidak akan efektif karena Telegram tidak melakukan pencarian DNS secara langsung seperti platform lain.

Akun itu menyebut Telegram mengirim permintaan terenkripsi ke server cloud seperti Cloudflare dan Google. Jika pola ini benar, ISP menjadi lebih sulit mengetahui secara tepat layanan apa yang sedang diakses pengguna.

Kondisi tersebut membuat pemblokiran berbasis DNS menjadi kurang berguna. ISP tidak bisa dengan mudah memutus jalur akses hanya dengan menolak pencarian domain seperti yang biasa dilakukan pada layanan lain.

Selain DNS blocking, operator internet sebenarnya punya alat yang lebih canggih. Mereka bisa memakai Deep Packet Inspection atau DPI untuk membaca pola lalu lintas data dan mengenali ciri khas aplikasi tertentu.

Ada pula teknik seperti SNI filtering yang dapat membantu ISP melihat tujuan akses sebelum koneksi HTTPS sepenuhnya terbentuk. Di atas kertas, metode ini dapat memberi peluang lebih besar untuk mendeteksi layanan yang ingin diblokir.

Masalahnya, Telegram memang dikenal dirancang untuk menahan upaya semacam itu. Platform ini menggunakan protokol enkripsi MTProto, yang disebut dapat menyamarkan tanda tangan digital lalu lintasnya agar tampak seperti trafik biasa dari situs atau aplikasi lain.

Jika lalu lintas Telegram sulit dibedakan dari miliaran data lain yang melintas di jaringan ISP, maka DPI pun menjadi kurang presisi. Risiko salah blokir juga bisa meningkat jika operator mencoba memutus trafik dalam skala besar.

Hal semacam ini pernah dikaitkan dengan pelarangan Telegram di Rusia. Upaya memblokir layanan tersebut disebut ikut menyebabkan ratusan layanan dan aplikasi sah lain terdampak karena ISP kesulitan mengidentifikasi trafik Telegram secara akurat.

Telegram juga disebut menggunakan perutean dan perutean ulang trafik yang kompleks. Lalu lintasnya kerap dipantulkan melalui server proxy secara bawaan, yang lagi-lagi membuat server Telegram lebih sulit diblokir secara andal.

Keraguan terhadap infrastruktur pemblokiran

Perbincangan yang berkembang kini mengarah pada kemungkinan bahwa persoalannya bukan sekadar niat memblokir, melainkan kemampuan teknis untuk melakukannya. Sejumlah komentar di media sosial menilai infrastruktur ISP India saat ini belum siap menghadapi pola kerja Telegram.

Akun @kingslyj menyebut Telegram memakai DoH atau DNS over HTTPS untuk permintaan tertentu. Jika klaim ini akurat, ISP akan lebih sulit mencegat permintaan tersebut dengan mekanisme lama yang biasa dipakai pada pemblokiran domain.

Itu sebabnya, larangan terhadap Telegram di India kini dipandang sebagai ujian nyata bagi sistem sensor internet negara tersebut. Selama aplikasi, situs utama, dan domain t.me masih dapat diakses, efektivitas pelarangan itu akan terus dipertanyakan.

Situasi ini juga menunjukkan bahwa menghapus aplikasi dari toko resmi hanya menyentuh satu lapisan distribusi. Tantangan yang jauh lebih besar justru ada di level jaringan, tempat Telegram tampaknya masih mampu bertahan dari upaya pemutusan akses.

Source: www.indiatoday.in
Terbaru