Peneliti Australia Ubah Gula Tebu Jadi Gula Langka Rendah Kalori, Pasar Pemanis Bisa Berubah

Pemanis rendah kalori yang rasanya mirip gula pasir kini berpeluang melangkah lebih dekat ke produk makanan sehari-hari. Tim peneliti di Australia mengembangkan cara yang disebut lebih hemat biaya untuk memproduksi “gula langka” dengan bantuan bakteri hasil rekayasa genetika.

Perkembangan ini menarik perhatian karena selama ini gula langka dikenal punya rasa manis, tekstur, dan sifat pemanggangan yang serupa dengan gula konvensional, tetapi dengan kalori lebih sedikit. Hambatan utamanya bukan pada rasa atau fungsi, melainkan pada biaya produksi yang masih tinggi.

Universitas Queensland menyatakan gula langka rendah kalori semacam ini bisa segera muncul di rak-rak produk makanan di pasar swalayan. Prospek itu muncul setelah tim peneliti memanfaatkan proses fermentasi untuk mengubah gula tebu menjadi senyawa pemanis bernilai tinggi.

Cara kerja teknologi yang dikembangkan

Riset ini dijalankan oleh pakar biologi sintetis dan engineer bioproses di Biosustainability Hub, Universitas Queensland. Mereka menggunakan apa yang disebut sebagai “pabrik sel mikroba” untuk memproduksi gula langka dari bahan baku tebu.

Dalam proses itu, bakteri direkayasa agar mampu mengubah gula tebu menjadi gula langka. Bakteri yang dipakai berasal dari ladang tebu lokal, lalu dikembangkan untuk menghasilkan senyawa dengan nilai komersial lebih tinggi.

Axayacatl Gonzalez, manajer fasilitas studio desain sel di Institut Bioteknologi dan Nanoteknologi Australia UQ, mengatakan biaya produksi yang mahal selama ini membatasi penggunaan gula langka secara luas. Ia memimpin proyek ini bersama mitra industri, MSF Sugar.

Menurut Gonzalez, gula langka ditemukan di beberapa buah dan kini makin dicari sebagai pemanis alternatif oleh industri perhotelan serta makanan komersial. Itu membuat upaya menekan ongkos produksi menjadi penting bila bahan ini ingin dipakai lebih luas.

Zhong Qifeng, ilmuwan penelitian dan pengembangan akselerator makanan dan minuman, menjelaskan pendekatan ini secara sederhana. Setelah galur bakteri yang tepat diperoleh, bahan baku gula masuk dan gula langka keluar.

Qifeng merekayasa bakteri untuk menghasilkan gula langka dari sirup tebu. Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana bioteknologi dapat dipakai untuk mengolah komoditas pertanian yang sudah mapan menjadi bahan pangan dengan nilai tambah lebih tinggi.

Mengapa gula langka dinilai menjanjikan

Daya tarik utama gula langka terletak pada kemampuannya meniru karakter gula biasa dalam penggunaan pangan. Rasa manisnya serupa, teksturnya mendekati, dan responsnya saat digunakan untuk baking juga sejalan dengan gula konvensional.

Bagi industri makanan dan minuman, karakter itu penting karena banyak pemanis alternatif tidak selalu mampu meniru fungsi gula sepenuhnya. Karena itu, gula langka dipandang memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke formulasi produk tanpa mengorbankan pengalaman konsumsi.

Kalori yang lebih rendah juga menambah nilai jualnya di tengah permintaan terhadap pilihan pemanis yang lebih sehat. Jika produksinya benar-benar bisa dibuat lebih efisien, penggunaan gula langka berpotensi meluas dari segmen khusus ke pasar yang lebih besar.

Pernyataan dari Universitas Queensland menunjukkan harapan bahwa produk berbahan gula langka dapat menjangkau konsumen ritel. Artinya, arah pengembangannya bukan hanya untuk laboratorium atau pasar industri terbatas, tetapi juga untuk aplikasi yang lebih dekat dengan kebutuhan rumah tangga.

Dampak bagi industri gula Australia

Australia dikenal sebagai salah satu pengekspor gula utama di dunia. Karena itu, pengembangan gula langka dari tebu dinilai bukan hanya isu teknologi pangan, tetapi juga punya dimensi ekonomi yang lebih luas.

Perwakilan industri menilai Australia dapat memperoleh manfaat ekonomi dengan melakukan diversifikasi ke produksi gula langka. Langkah ini membuka peluang agar komoditas tebu tidak hanya dijual dalam bentuk gula konvensional, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah.

Keterlibatan MSF Sugar menunjukkan bahwa riset ini sejak awal terhubung dengan kebutuhan industri. Kolaborasi seperti ini penting agar inovasi tidak berhenti pada tahap percobaan, tetapi bisa diterjemahkan ke proses produksi yang relevan secara komersial.

Inisiatif tersebut juga mendapat dukungan dari pendanaan infrastruktur penelitian nasional Australia. Dukungan itu diarahkan untuk memperluas solusi hayati baru, termasuk pemanfaatan rekayasa mikroba dalam pengolahan bahan baku pertanian.

Pengembangan ini menunjukkan arah baru industri gula yang memadukan pertanian, fermentasi, dan biologi sintetis. Jika berhasil diterapkan secara luas, gula tebu tidak lagi hanya menjadi bahan pemanis tradisional, tetapi juga pintu masuk menuju generasi pemanis rendah kalori yang lebih fungsional untuk makanan dan minuman.

Terkait