Persaingan komputasi kelas atas kembali memanas setelah sebuah superkomputer asal China melampaui semua mesin Amerika dalam daftar kecepatan global. Untuk pertama kalinya sejak 2017, China kembali memegang posisi puncak dalam peringkat superkomputer tercepat di dunia.
LineShine, sistem buatan Shenzhen Cloud Computing Center, merebut posisi teratas dari El Capitan yang berada di Lawrence Livermore National Laboratory, California. El Capitan sebelumnya bertahan di puncak sejak November 2024.
Kemenangan ini penting bukan hanya karena pergeseran posisi, tetapi juga karena terjadi di tengah dominasi panjang Amerika Serikat dalam daftar tersebut. Sebelumnya, China terakhir kali berada di puncak pada 2017 lewat Sunway TaihuLight, sementara AS mempertahankan posisi teratas secara konsisten setelah menyalip Fugaku milik Jepang pada 2021.
LineShine tampil beda dari mayoritas superkomputer papan atas
Yang membuat LineShine menonjol adalah arsitekturnya yang tidak bergantung pada GPU seperti yang umum dipakai di banyak superkomputer kelas atas. Sistem ini berjalan dengan central processing units atau CPU standar, dan totalnya menggunakan lebih dari 13 juta CPU menurut TOP500 List.
TOP500 mengukur performa superkomputer dengan benchmark High Performance Linpack atau HPL. Tes ini mendorong sistem menjalankan rangkaian perhitungan panjang hingga batas maksimalnya untuk menilai seberapa besar kemampuan komputasi yang benar-benar bisa dicapai.
Namun TOP500 juga menegaskan bahwa hasil benchmark ini tidak menggambarkan performa keseluruhan sebuah sistem secara utuh. Meski begitu, hasil tersebut tetap menunjukkan kemampuan sistem khusus dalam menyelesaikan persamaan linear padat.
Berdasarkan benchmark itu, TOP500 menilai LineShine bekerja 20% lebih baik dibanding El Capitan. Hasil itu cukup untuk menempatkan LineShine sebagai superkomputer tercepat baru di dunia.
Dominasi Amerika masih kuat, meski tahta utama lepas
Walau China merebut posisi nomor satu, Amerika Serikat masih menguasai bagian atas daftar secara keseluruhan. AS menempati posisi kedua, ketiga, dan keempat lewat El Capitan, Frontier, dan Aurora.
Artinya, perubahan ini belum menggeser dominasi Amerika di papan atas, tetapi cukup untuk menandai momen simbolis yang besar. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, pusat perhatian dunia superkomputer bergeser dari laboratorium-laboratorium AS ke sistem buatan China.
Pencapaian LineShine juga menambah jumlah superkomputer yang mencapai kemampuan exascale. Dengan masuknya sistem ini ke daftar, LineShine menjadi superkomputer kelima di dunia yang mampu melakukan satu quintillion kalkulasi per detik.
Momen tersebut datang di saat persaingan teknologi komputasi tingkat lanjut juga bergerak ke arah lain. Debut LineShine di daftar ini muncul satu hari setelah Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif terkait komputasi kuantum, langkah yang dimaksudkan untuk mendorong upaya Amerika meningkatkan teknologi yang dipandang dapat mengubah lanskap komputasi.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa perlombaan komputasi global tidak hanya soal kecepatan angka di atas kertas. Di balik peringkat TOP500, tersimpan pertarungan pengaruh teknologi antara dua negara yang sama-sama ingin memimpin masa depan komputasi tingkat tinggi.







