Android 17 Punya Jurus Baru untuk Ponsel Lipat, Main Game Kini Tak Lagi Bikin Jempol Tersiksa

Google memperlihatkan bagaimana Android 17 mencoba menyelesaikan salah satu masalah terbesar ponsel lipat untuk bermain game. Fitur baru ini membagi layar bagian dalam menjadi dua, sehingga game tampil di sisi atas sementara sisi bawah berubah menjadi gamepad virtual khusus.

Pendekatan itu menarik karena menyasar keluhan ergonomi yang selama ini melekat pada perangkat foldable. Layar besar memang memberi tampilan game yang lebih imersif, tetapi bentuk panel yang lebar dan cenderung persegi sering membuat jempol sulit menjangkau kontrol sentuh tanpa membuat tangan cepat pegal.

Google menampilkan pratinjau lengkap mode gaming foldable Android 17 melalui Mishaal Rahman, Android Community Engagement Manager, di Reddit. Sebelumnya, pengumuman awal fitur ini sempat muncul pada 16 Juni, tetapi kini implementasinya diperlihatkan lebih jelas.

Fitur ini tidak sekadar memindahkan tombol sentuh ke bagian bawah layar. Android 17 menanamkan gamepad virtual yang dapat diubah-ubah langsung di level sistem melalui Android Open Source Project, sehingga pengalaman kontrol tidak lagi bergantung pada aplikasi pihak ketiga atau tata letak khusus buatan pengembang game.

Layar atas untuk game, layar bawah untuk kontrol

Dalam mode ini, sistem membagi layar dalam ponsel lipat ke tata letak 50:50. Bagian atas dipakai untuk menampilkan game tanpa gangguan, sedangkan seluruh bagian bawah menjadi area kendali virtual.

Desain itu penting karena ruang permainan tetap bersih dari tombol yang menutupi aksi di layar. Pada saat yang sama, pemain tidak perlu merentangkan jempol ke seluruh panel besar hanya untuk menjangkau kontrol utama.

Google juga menyiapkan set input yang lengkap seperti pada pengendali konsol. Tersedia dua thumbstick, D-pad, tombol aksi A, B, X, dan Y, tombol Start, serta dukungan tiga lapis tombol bahu L1/L2/L3 dan R1/R2/R3.

Bisa dipakai di game yang sudah mendukung controller

Salah satu bagian paling penting dari fitur ini adalah cara kerjanya dengan pustaka game yang sudah ada. Gamepad virtual tersebut mensimulasikan penekanan tombol perangkat keras di level sistem, bukan sekadar meniru sentuhan biasa di layar.

Dengan pendekatan itu, game yang sudah mendukung controller standar dapat mengenali mode ini secara native. Sistem membuat perangkat lunak seolah-olah melihat controller fisik yang tersambung ke ponsel.

Hal ini menjadi perubahan besar dibanding pendekatan sebelumnya di perangkat lipat. Selama ini, pengguna biasanya harus mengandalkan aplikasi key-mapping pihak ketiga atau berharap ada pengembang yang membuat tata letak split-screen khusus untuk model ponsel tertentu.

Jika dua pilihan itu tidak tersedia, pemain biasanya terpaksa memakai kontrol sentuh standar yang diskalakan secara kurang ideal ke layar bagian dalam. Hasilnya, ruang ekstra dari panel foldable justru sering tidak termanfaatkan dengan baik untuk bermain.

Tata letak bisa disesuaikan

Google tidak menerapkan satu desain kontrol untuk semua pengguna. Pemain dapat membuka opsi kustomisasi lewat ikon game controller pada overlay dan mengubah tata letak sesuai ukuran tangan serta gaya bermain.

Bila pengaturan bawaan “Twin stick, Inline” terasa sempit, tersedia opsi “Twin stick, Staggered”. Mode itu memungkinkan penyesuaian posisi thumbstick kiri, D-pad, dan tombol bahu agar jangkauan jempol terasa lebih nyaman.

Ukuran gamepad juga bisa diubah ke tiga pilihan, yaitu small, medium, dan large. Selain itu, pengguna dapat memilih tema visual terang atau gelap sesuai preferensi tampilan.

Google juga menyertakan opsi haptic feedback. Fitur ini memberi getaran untuk mensimulasikan sensasi klik tombol fisik saat pemain menekan kontrol virtual.

Bisa disembunyikan saat tidak diperlukan

Mode ini tidak memaksa pengguna terus memakai gamepad virtual. Untuk game yang memang dirancang sepenuhnya dengan kontrol sentuh dan ingin memanfaatkan seluruh layar dalam, gamepad dapat diminimalkan lewat tombol “Hide Gamepad” pada menu bawaan.

Pengguna juga bisa mematikannya sepenuhnya melalui pengaturan sistem utama. Ini memberi fleksibilitas agar mode gaming foldable tidak mengganggu judul-judul yang lebih cocok dimainkan tanpa controller.

Android 17 juga dibuat cukup cerdas untuk menyingkir ketika controller sungguhan terhubung. Begitu pengguna menyambungkan pengendali fisik melalui Bluetooth atau USB-C, gamepad virtual akan otomatis menepi agar tidak menghalangi pengalaman bermain.

Karena fitur ini dibangun di level platform dan menjadi bagian dari AOSP, pabrikan perangkat nantinya dapat mengambil kode dasar tersebut lalu menyesuaikannya dengan dimensi perangkat lipat masing-masing. Mode gaming foldable ini disebut kemungkinan akan hadir lebih luas dalam beberapa bulan ke depan bersamaan dengan rilis final Android 17.

Source: www.androidauthority.com

Terkait