Niat Bikin Game Sederhana, Karyawan Startup Ini Malah Menghanguskan Kredit AI dalam Sepekan

Author: Qoo Media

Eksperimen coding dengan bantuan AI di sebuah startup fintech San Francisco berubah menjadi tagihan sangat mahal. Seorang karyawan Slash tanpa sengaja menghabiskan hampir Rs 75 lakh dalam tujuh hari saat membuat game online sederhana.

Kasus ini langsung menyita perhatian karena nominalnya menembus lebih dari $80.000 hanya untuk proyek sampingan bergaya “vibe coding”. Slash sendiri mengungkap insiden itu lewat unggahan di X, sambil menyebut karyawannya memakai kredit AI dalam jumlah yang jauh melampaui perkiraan.

Slash mengatakan perusahaan memang mendorong karyawan untuk lebih sering melakukan “vibe coding”. Istilah itu biasa dipakai untuk menggambarkan pembuatan software secara cepat dengan bantuan alat AI.

Namun dorongan untuk bereksperimen itu berkembang terlalu cepat. Dalam unggahan yang bernada bercanda, Slash menulis bahwa @nickbruhman “membakar” kredit senilai $80.000 pada kartu Slash untuk membuat game bernama “Brainrot Shooter”.

Perusahaan bahkan sempat berkelakar agar publik memainkan game tersebut supaya biayanya bisa dianggap sebagai pengeluaran pemasaran. Di balik nada ringan itu, kasus ini menyorot risiko nyata ketika penggunaan AI yang mahal tidak dibatasi sejak awal.

Game sederhana, biaya luar biasa

Game yang dibuat itu tergolong sederhana. Latar permainannya berada di dunia bergaya blok mirip Minecraft, dengan pemain diminta menembak karakter-karakter yang terinspirasi meme internet.

Beberapa karakter yang disebut antara lain “skibidi toilet” dan “tung tung tung sahur”. Proyek itu dikerjakan oleh Nicolas Brilliante, yang kemudian ikut menjelaskan situasinya di X.

Brilliante membagikan apa yang tampak sebagai tangkapan layar dashboard penggunaan AI miliknya. Dari gambar itu, nilai layanan AI yang terpakai tercatat mencapai $81.267.

Ia menyebut insiden tersebut sebagai kecelakaan yang sungguh terjadi. Dalam unggahannya, Brilliante menulis bahwa ia telah meremehkan kemampuannya sendiri.

Saat pembicaraan soal ini makin ramai, Brilliante kembali bereaksi di X. Ia menyebut situasinya “gila” dan mempertanyakan apakah dirinya akan menjadi studi kasus tentang bagaimana pengeluaran AI bisa lepas kendali.

Biaya AI makin diawasi

Kasus di Slash muncul ketika banyak perusahaan mulai menghitung ulang pengeluaran untuk alat AI. Asisten coding berbasis AI memang menjanjikan proses pengembangan software yang lebih cepat, tetapi tagihannya juga bisa naik tajam jika model-model bertenaga tinggi dipakai terus-menerus.

Perhatian utama perusahaan kini bukan sekadar seberapa canggih alat yang dipakai. Mereka juga mulai menuntut bukti bahwa lonjakan biaya AI benar-benar sebanding dengan peningkatan produktivitas dan hasil bisnis.

Polymarket menggambarkan kejadian di Slash sebagai contoh bagaimana biaya coding berbasis AI bisa melonjak saat penggunaan dibiarkan tanpa pengawasan ketat. Penilaian itu memperkuat kekhawatiran yang kini menyebar di banyak perusahaan teknologi.

Ini juga bukan satu-satunya contoh pengeluaran AI yang membengkak. Laporan terbaru menyebut sebuah perusahaan yang tidak disebutkan namanya diduga menghabiskan sekitar $500 juta dalam satu bulan untuk layanan Claude AI milik Anthropic setelah gagal menetapkan batas pemakaian bagi karyawan.

Kasus tersebut menjadi salah satu contoh paling banyak dibicarakan soal dampak akses AI tanpa pembatasan. Polanya serupa, yakni antusiasme adopsi teknologi lebih cepat daripada kebijakan kontrol pengeluaran.

Perusahaan mulai pasang rem

Sejumlah perusahaan besar dilaporkan mulai memperketat penggunaan AI di lingkungan kerja. Uber, Coinbase, dan Walmart termasuk di antara nama yang disebut telah menerapkan pembatasan penggunaan AI oleh karyawan.

Bloomberg melaporkan Uber baru-baru ini memberlakukan batas bulanan untuk alat coding AI. Langkah itu diambil setelah perusahaan tersebut dilaporkan menghabiskan anggaran tahunan AI hanya dalam beberapa bulan pertama tahun berjalan.

Walmart juga disebut memperketat kontrol penggunaan AI. Tujuannya untuk menekan eksperimen coding yang tidak perlu dan tugas-tugas berulang yang dinilai tidak memberi nilai bisnis berarti.

Perubahan sikap ini menunjukkan bahwa perusahaan mulai memandang AI bukan hanya sebagai alat produktivitas, tetapi juga sebagai pos biaya yang harus diawasi layaknya infrastruktur teknologi lain. Semakin luas adopsinya, semakin penting pula aturan soal siapa yang boleh memakai model tertentu, untuk kebutuhan apa, dan sampai batas berapa.

Di tengah semangat mengejar efisiensi lewat AI, insiden di Slash memperlihatkan sisi lain yang tak kalah penting. Tanpa batas pemakaian yang jelas, bahkan game sederhana dengan tema meme internet pun bisa berubah menjadi tagihan puluhan ribu dolar dalam hitungan hari.

Source: www.indiatoday.in
Terbaru