Boston Dynamics kembali menarik perhatian pasar robot humanoid bukan hanya karena aksi Atlas yang lincah, tetapi karena perubahan besar di balik bodinya. Robot generasi terbaru ini disebut jauh lebih sederhana untuk dibuat, dan itulah yang bisa mengubahnya dari sekadar demo mengesankan menjadi produk yang lebih siap diproduksi массовal.
Alberto Rodriguez, Director of Robot Behavior for Atlas, mengatakan tingkat kompleksitas Atlas baru turun “hampir satu urutan besaran” dibanding generasi sebelumnya. Artinya, robot ini punya jauh lebih sedikit komponen, terutama komponen unik, sehingga proses manufaktur menjadi lebih cepat, lebih sederhana, lebih andal, dan pada akhirnya lebih murah.
Pernyataan itu penting karena Atlas selama ini dikenal sebagai salah satu humanoid paling canggih di dunia, tetapi juga mahal. Secara historis, biaya Atlas disebut berada di atas $200,000, dan hambatan harga seperti ini selama bertahun-tahun menjadi salah satu alasan robot humanoid sulit menembus penggunaan komersial yang luas.
Boston Dynamics tampaknya sedang membalik persoalan itu dari akar. Dengan memangkas jumlah parts dan unique parts, perusahaan ini memperpendek rantai pasok, mengurangi titik kegagalan, dan menyederhanakan perakitan dalam skala besar.
Dari robot mahal ke mesin yang lebih mudah diproduksi
Rodriguez menegaskan bahwa penurunan kompleksitas itu bukan sekadar klaim pemasaran. Ia mengatakan Boston Dynamics berhasil menunjukkan performa yang sama, bahkan lebih tinggi, dengan robot yang secara fundamental jauh lebih sederhana.
Bagi industri humanoid, ini adalah sinyal yang kuat. Robot yang lebih kapabel tetapi lebih mudah dibuat punya peluang lebih besar untuk masuk ke fase mass manufacturing, bukan berhenti sebagai prototipe mahal yang hanya tampil di panggung demonstrasi.
Hyundai, yang kini memiliki sisa 20% Boston Dynamics, juga memberi konteks penting pada arah bisnis ini. Perusahaan itu berencana menahan sebagian besar atau seluruh produksi Atlas tahun ini untuk kebutuhan internal, sebelum kemudian membangun sedikitnya 30,000 unit Atlas humanoid per tahun dan membuka penjualan untuk pihak lain.
Perang sesungguhnya ada pada produksi dan biaya
Di pasar humanoid saat ini, tantangannya bukan hanya menciptakan robot yang bisa bergerak lincah. Sebagian besar pemain masih menghadapi produk yang mahal, dirakit вручную, dan rawan masalah, sementara tiap komponen unik menambah biaya dan kerumitan.
Boston Dynamics melihat peluang di titik yang sering menentukan kemenangan bisnis: kemampuan memproduksi puluhan ribu unit yang andal dengan harga yang cukup menarik bagi pembeli. Di sinilah skala Hyundai menjadi aset penting, karena Hyundai Motor Group bersama Kia dan Genesis menjual sekitar tujuh juta kendaraan per tahun dan termasuk salah satu dari tiga produsen mobil terbesar di dunia.
Rodriguez menyebut bahwa faktor manufaktur seperti itu memberi keuntungan nyata dalam persaingan humanoid. Perusahaan yang sudah terbiasa membangun dalam skala besar biasanya lebih siap menghadapi tuntutan produksi robot dalam jumlah tinggi.
AI masih jadi kunci, bukan hanya hardware
Namun kemampuan robot tidak berhenti pada perangkat keras. Rodriguez menekankan bahwa kemampuan sejati lahir dari kombinasi hardware dan software, dan software kini menjadi batas utama yang menentukan seberapa banyak nilai bisa diambil dari perangkat keras yang ada.
Boston Dynamics membagi tumpukan AI-nya menjadi dua lapisan. Lapisan pertama adalah physical intelligence, yaitu kontrol inti untuk menjaga keseimbangan, kelincahan, melompat, meraih, dan memindahkan objek dengan cepat.
Lapisan kedua adalah reasoning intelligence, yakni kemampuan memahami tugas, memecahnya menjadi langkah-langkah, dan mengambil keputusan seperti menilai apakah sebuah objek berat atau ringan. Rodriguez mengatakan perusahaan juga sedang memperbesar fokus pada sisi reasoning karena itulah yang membuka generality.
Bekerja seperti manusia di pabrik
Masalah penting lain ada pada adaptasi. Jika alur kerja di lini produksi berubah, perusahaan tidak ingin menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memprogram ulang dan memvalidasi robot dari nol.
Rodriguez menjelaskan bahwa robot ideal seharusnya belajar lewat pengalaman atau demonstrasi, dengan cara yang lebih natural. Dalam analogi yang ia gunakan, pekerja baru di pabrik belajar dari rekan kerja atau atasan, lalu beradaptasi saat situasi berubah.
Boston Dynamics juga punya keunggulan pada integrasi industri. Robot gudang Stretch milik perusahaan sudah memakai fleet management system yang diterapkan di ratusan pelanggan, lengkap dengan pengaturan rute inspeksi dan koordinasi tugas antar-robot tanpa perlu pemrograman individual untuk tiap unit.
Kaki, roda, dan ruang pabrik yang sempit
Dalam perdebatan antara kaki dan roda, Rodriguez memberi pandangan yang menantang asumsi umum di sektor pabrik, gudang, dan logistik. Ia menyebut kompleksitas mekanis dua kaki tidak jauh berbeda dari base roda omnidireksional yang biasanya memakai empat roda dengan dua aktuator per roda.
Ia juga menyoroti keunggulan praktis kaki. Robot berkaki bisa menjangkau lebih banyak lokasi, termasuk area seperti celah antara loading dock dan trailer atau akses ke mezzanine, lalu tetap lebih ramping di ruang sempit.
Menurut Rodriguez, masalah keseimbangan dan lokomosi yang dulu dianggap sangat sulit kini sudah jauh lebih terkendali. Boston Dynamics mengklaim telah menemukan resep yang tepat untuk membuatnya andal, meski banyak startup humanoid yang masih berjuang di titik yang sama.
Atlas juga baru-baru ini tampil lewat kampanye Hyundai bertajuk School of Football, bagian dari program “Next Starts Now” untuk FIFA World Cup 2026. Dalam lima bagian film sosial itu, Atlas belajar bermain sepak bola dan menampilkan gerakan “Ghost Rabona” yang menuntut timing, keseimbangan, dan kontrol gerak tingkat tinggi, seluruhnya dilakukan tanpa CGI.







