Pada akhir 1990-an, Microsoft tampak seperti raksasa yang hampir tak tersentuh. Namun dokumen internal yang bocor justru menunjukkan hal yang paling mereka takutkan bukan sekadar persaingan biasa, melainkan kemungkinan bahwa Linux dan gerakan open source bisa menggerus tiga pilar utama bisnis mereka sekaligus.
Ketakutan itu terasa jelas sejak memo pertama yang dikenal sebagai salah satu “Halloween documents”. Isi memo itu menggambarkan open source software sebagai ancaman langsung terhadap pendapatan jangka pendek, platform Windows, dan juga perhatian para pengembang dalam jangka panjang.
Memo internal yang keluar ke publik
Dokumen pertama berjudul “Open Source Software: A (New?) Development Methodology” ditulis Vinod Valloppillil pada Agustus 1998 untuk konsumsi internal Microsoft. Dua bulan kemudian, memo itu bocor ke Eric Raymond, tokoh pendukung open source, lalu dipublikasikan dengan anotasi dan komentar yang memperluas konteksnya.
Karena terbit di sekitar 31 Oktober, memo itu kemudian masuk ke kelompok dokumen yang disebut “Halloween documents”. Dari sana, publik bisa melihat bagaimana Microsoft menilai OSS bukan sebagai tren kecil, tetapi sebagai ancaman bisnis yang berlapis.
Ancaman terbesar: pendapatan
Di era itu, perangkat lunak sistem operasi masih dijual dalam boks fisik, dan Windows 95 pernah dibanderol lebih dari 200 dolar AS. Dalam skema seperti itu, Microsoft sangat bergantung pada model penjualan software komersial yang tidak boleh didistribusikan ulang dan biasanya hanya tersedia dalam bentuk biner untuk pengguna akhir.
Memo internal tersebut menegaskan bahwa OSS bisa menjadi ancaman langsung terhadap model tersebut, terutama di server. Jika pengguna mulai memilih software gratis ketimbang produk Microsoft, dampaknya bisa sangat serius bagi pemasukan perusahaan.
Microsoft juga sempat memandang open source sebagai gerakan yang lahir dari komunitas hobi dan ilmiah. Tetapi dokumen itu menunjukkan adanya kesadaran bahwa anggapan semacam itu bisa keliru, terutama setelah internet mulai memberi contoh bahwa kualitas komersial juga bisa dicapai, bahkan dilampaui, oleh proyek OSS.
Ancaman kedua: platform Windows
Selain pendapatan, Microsoft juga khawatir orang tidak lagi membutuhkan Windows sebagai platform utama. Pada masa itu, sekolah memakai Windows, bisnis memakai Windows, dan kebiasaan itu mendorong penggunaan Windows di rumah juga.
Kondisi itu membuat file Word atau spreadsheet Excel seolah ikut memaksa orang tetap berada di ekosistem Microsoft. Jika open source menyediakan platform alternatif yang gratis dan cukup baik, rantai ketergantungan itu bisa mulai retak.
Linux memang sudah ada, tetapi pada saat itu masih sangat muda sebagai pesaing serius di ranah desktop. Catatan internal bahkan menyebut Linux v2.0 sebagai rilis besar pertama yang benar-benar bisa bersaing sebagai distribusi UNIX, meski dokumen yang sama juga menilai Linux belum mungkin menjadi ancaman di desktop.
Ancaman ketiga: para pengembang
Kekhawatiran yang mungkin paling mengganggu Microsoft adalah kemungkinan para pembuat software berpaling. Tanpa aplikasi pihak ketiga seperti Winamp, WordPerfect, dan Lotus 1-2-3, daya tarik Windows akan melemah, karena ekosistem aplikasinya ikut menentukan nilai platform.
Lebih jauh lagi, Microsoft tampak cemas jika para pengembang mulai lebih menyukai model kolaboratif yang terbuka. Jika software berkualitas bisa ditulis untuk platform lain yang gratis, tidak ada jaminan mereka akan terus membangun untuk Windows.
Dokumen itu bahkan mengakui bahwa proses OSS mampu mengumpulkan “collective IQ” dari ribuan orang di internet. Ia juga menilai penyebaran gagasan open source berjalan lebih cepat daripada upaya evangelisasi Microsoft sendiri.
Apa yang dilakukan Microsoft setelahnya
Setelah isi memo itu menjadi publik, Microsoft merespons lewat “Halloween III” dan mencoba mengecilkan makna Halloween I. Mereka menyebut memo itu bukan posisi resmi perusahaan, melainkan analisis teknis yang ditulis seorang engineer dalam kapasitas staf untuk mendorong diskusi.
Meski begitu, kebocoran tersebut sudah telanjur membuka apa yang selama ini menjadi kekhawatiran inti Microsoft. Yang paling mereka takutkan bukan hanya Linux sebagai sistem operasi, tetapi open source sebagai model yang bisa mengancam pendapatan, melemahkan dominasi platform, dan menarik para pengembang menjauh dari Windows.
