Amazon Web Services sedang mendorong perubahan besar di cara pusat datanya dibangun. Langkah ini penting karena AWS menguasai 28% pasar infrastruktur cloud global pada kuartal pertama 2026, sehingga setiap gangguan di jaringannya terasa luas di internet.
Di tengah skala sebesar itu, Amazon mengklaim telah menemukan desain jaringan baru yang bisa menggantikan topologi fat tree di data center AWS. Desain ini disebut RNG, singkatan dari resilient network graphs, dan Amazon menyebutnya sebagai yang pertama sejenis.
Dari jaringan bertingkat ke pola yang lebih datar
Selama ini, fat tree menjadi arsitektur umum di data center karena stabil dan mudah diprediksi saat skala membesar. Namun, desain ini juga membawa kompromi pada efisiensi dan bandwidth.
Dalam struktur fat tree, node tersusun berlapis seperti pohon. Lalu lintas data bergerak naik dan turun melalui jalur yang sudah ditentukan, sehingga router di bagian atas bisa menjadi titik kritis jika gagal.
Amazon mengambil pendekatan berbeda dengan teori flat networking, yang menghubungkan router dan switch secara lebih langsung daripada berlapis. Perusahaan ini menyebut RNG lebih tahan terhadap kemacetan karena tidak ada satu router yang jauh lebih penting dari yang lain.
Cara Amazon membuat jaringan acak tetap bisa dipakai
Pendekatan acak penuh memang sulit diterapkan di data center. Kabel serat optik yang saling bersilangan dalam jumlah besar tidak praktis, sementara routing juga membutuhkan cara efisien tanpa harus bergantung pada protokol topologi tradisional.
Untuk mengatasi itu, Amazon memadukan elemen jaringan tetap dengan bagian-bagian yang bersifat acak. Dari sini lahir dua komponen utama, yaitu algoritma routing Spraypoint dan perangkat optik pasif bernama ShuffleBox.
Spraypoint bekerja dengan “menyemprotkan” paket dari sumber ke semua tetangga yang mungkin menjadi hop berikutnya. Setelah itu, satu jalur dipilih menggunakan Equal-cost multi-path routing atau ECMP.
Amazon juga memakai waypoint untuk membantu menyebarkan lalu lintas agar paket tidak menumpuk di satu tujuan. Dengan cara ini, jaringan tetap bisa memanfaatkan sebagian sifat acak tanpa memerlukan CPU atau memori khusus pada router untuk menyimpan dan memproses semua jalur routing yang mungkin.
ShuffleBox menangani konektivitas fisik RNG. Perangkat ini memiliki selubung tertutup, tidak memakai catu daya, tidak menambah latensi, dan mengurangi risiko kegagalan.
Di dalamnya, kabel serat diatur ulang mengikuti pola khusus, lalu ShuffleBox dihubungkan secara acak dengan perangkat lain. Amazon menyebut biaya perangkat ini mirip dengan patch panel biasa, sehingga lebih masuk akal untuk dipakai dalam skala besar.
Efisiensi jadi daya tarik utama
Dalam white paper Amazon, RNG disebut bisa menyamai atau melampaui fat tree pada berbagai pola lalu lintas dan beban kerja. Amazon juga mengklaim desain ini mampu memindahkan data hingga sepertiga lebih cepat dan hingga 45% lebih murah untuk diterapkan.
Penghematan itu datang dari berkurangnya kebutuhan router. Amazon menyebut jaringan quasi-random barunya memangkas jumlah router hingga 69%, yang otomatis menekan biaya perangkat keras.
Dampaknya juga menyentuh konsumsi daya. AWS memperkirakan data center yang memakai RNG akan mengonsumsi 40% lebih sedikit listrik dibanding jaringan hierarkis.
Implikasi untuk pendinginan dan emisi
Lebih sedikit perangkat keras dan konsumsi daya berarti kebutuhan pendinginan juga turun. Itu penting karena jejak karbon dan air dari data center terus menjadi sorotan publik dan pembuat kebijakan.
Amazon sudah memakai air daur ulang untuk mendinginkan sebagian data center, tetapi RNG dipandang bisa membantu menekan beban dasar pendinginan dan listrik secara lebih luas. Dengan begitu, perusahaan berharap lebih dekat ke target menjadi water positive pada 2030 dan mencapai emisi karbon net-zero pada 2040.
Amazon mengatakan jaringan quasi-random pertamanya aktif di Dublin, Irlandia, pada 2024. Sistem ini kemudian meluas ke Spanyol dan Jerman sepanjang 2025, dan per April 2026 menjadi standar untuk data center AWS baru.
