Biaya operasional sering menjadi penentu yang terlambat disadari saat membeli mobil baru. Pada 2026, simulasi penggunaan harian menunjukkan mobil listrik dapat memangkas pengeluaran energi bulanan secara signifikan dibanding mobil bensin.
Dalam skenario pemakaian sekitar 1.500 kilometer per bulan, mobil bensin dengan konsumsi rata-rata 14 kilometer per liter membutuhkan biaya bahan bakar sekitar Rp1 jutaan per bulan. Mobil listrik dengan konsumsi energi sekitar 15 kWh per 100 kilometer hanya memerlukan sekitar Rp380 ribuan bila mayoritas pengisian dilakukan di rumah.
Selisih ini membuat banyak calon pembeli mulai mengubah cara membandingkan kendaraan. Fokus tidak lagi hanya pada harga saat di dealer, tetapi juga pada total biaya kepemilikan setelah mobil digunakan selama bertahun-tahun.
Penghematan dari sisi energi bukan angka kecil. Dalam hitungan tahunan, selisih biaya operasional dapat mencapai sekitar Rp8 juta hingga lebih dari Rp13 juta, tergantung jarak tempuh, tarif listrik, dan harga bahan bakar yang digunakan.
Semakin tinggi intensitas penggunaan kendaraan, semakin besar potensi penghematan mobil listrik. Karena itu, pola pemakaian harian menjadi faktor penting sebelum menentukan pilihan antara mobil listrik dan mobil bensin.
Biaya energi jadi pembeda utama
Perbedaan terbesar antara dua jenis mobil ini ada pada sumber energi. Mobil bensin bergantung pada harga BBM yang mengikuti dinamika pasar energi, sedangkan tarif listrik cenderung lebih stabil ketika pengisian dilakukan di rumah.
Bagi pengguna perkotaan yang rutin berkendara setiap hari, kondisi ini membuat mobil listrik terlihat makin menarik. Apalagi jika rumah atau kantor sudah memiliki fasilitas pengisian daya yang memadai.
Namun biaya energi bukan satu-satunya variabel. Perhitungan yang lebih realistis juga harus memasukkan servis berkala, pajak kendaraan, asuransi, depresiasi, dan kemungkinan penggantian komponen utama.
Servis berkala lebih ringan di mobil listrik
Mobil bensin membutuhkan perawatan rutin pada lebih banyak komponen. Pengguna perlu memperhitungkan penggantian oli mesin, filter oli, filter udara, busi, cairan pendingin, serta pemeriksaan sistem pembakaran secara berkala.
Mobil listrik memiliki konstruksi yang lebih sederhana. Kendaraan ini tidak memakai oli mesin, tidak membutuhkan busi, tidak memiliki sistem knalpot, dan jumlah komponen bergeraknya jauh lebih sedikit.
Dalam berbagai simulasi biaya kepemilikan, biaya servis mobil listrik dapat lebih rendah sekitar 30 hingga 50 persen dibanding mobil bensin untuk penggunaan yang setara. Ini menjadi salah satu alasan mengapa biaya operasional jangka panjang mobil listrik kerap terlihat lebih ringan.
Tetapi ada satu komponen mahal yang tidak bisa diabaikan, yakni baterai traksi. Nilainya tinggi jika harus diganti, meski risikonya pada masa awal kepemilikan dinilai relatif kecil karena banyak produsen kini memberi garansi baterai hingga delapan tahun atau sekitar 160.000 kilometer.
Harga awal dan pajak masih jadi pertimbangan
Di sisi lain, mobil bensin masih unggul pada harga pembelian awal. Secara umum, harga mobil listrik masih sedikit lebih tinggi dibanding mobil bensin di kelas yang sama.
Meski begitu, selisih tersebut disebut terus mengecil. Produksi lokal yang meningkat, pilihan model yang makin banyak, serta insentif pemerintah mendorong kendaraan listrik menjadi lebih kompetitif.
Dari sisi pajak kendaraan, beberapa daerah juga memberikan insentif khusus untuk mobil listrik. Kebijakan ini membuat biaya kepemilikan bisa lebih ringan, walau besaran insentif berbeda-beda sesuai aturan di masing-masing wilayah.
Pengalaman pakai dan kebutuhan perjalanan
Dalam penggunaan sehari-hari, mobil listrik menawarkan karakter berkendara yang berbeda. Torsi instan membuat akselerasi terasa responsif, kabin lebih senyap, dan regenerative braking membantu mengurangi kerja rem dengan mengubah sebagian energi pengereman menjadi listrik untuk baterai.
Namun mobil bensin masih memegang keunggulan penting untuk perjalanan jarak jauh. Jaringan SPBU tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia dan proses pengisian bahan bakarnya hanya memakan waktu beberapa menit.
Kondisi ini membuat mobil bensin tetap praktis bagi pengguna yang sering bepergian ke daerah dengan SPKLU yang masih terbatas. Sebaliknya, mobil listrik lebih cocok untuk mobilitas harian di kawasan perkotaan, terutama bila pengisian bisa dilakukan secara rutin di rumah atau kantor.
Nilai jual kembali belum sama kuat
Faktor lain yang patut diperhitungkan adalah depresiasi atau nilai jual kembali. Pasar mobil bensin bekas sudah terbentuk lama sehingga harga jualnya relatif lebih mudah diprediksi.
Pasar mobil listrik bekas masih berkembang. Kondisi baterai, sisa masa garansi, dan perkembangan teknologi menjadi faktor yang cukup memengaruhi harga jual kendaraan listrik.
Karena itu, keputusan membeli tidak cukup hanya berdasarkan cicilan atau harga katalog. Calon pembeli perlu menghitung keseluruhan biaya, dari energi dan servis hingga pajak, asuransi, depresiasi, dan profil penggunaan harian, agar pilihan antara mobil listrik dan mobil bensin benar-benar sesuai kebutuhan.
