916 Peserta Ramaikan Cyber Breaker Season 3, Ekosistem Talenta Siber Makin Menguat

Cyber Breaker Competition Season 3 mencatat lonjakan minat yang sulit diabaikan. Ajang yang digelar Peris.ai Cybersecurity bersama RRQ ini diikuti 916 peserta dari 458 tim, menjadikannya salah satu kompetisi keamanan siber lokal dengan partisipasi paling besar.

Kenaikan itu terasa semakin mencolok karena pada season pertama jumlah peserta hanya 137 orang, lalu naik menjadi 616 peserta di season kedua. MediaIndonesia.com melaporkan bahwa pertumbuhan pada musim ketiga ini menunjukkan ruang keamanan siber semakin dilihat sebagai jalur pengembangan talenta digital, bukan sekadar arena kompetisi teknis.

Kompetisi yang berubah jadi ekosistem

CEO sekaligus Co-Founder Peris.ai Cybersecurity, David Samuel, menyebut pertumbuhan peserta pada season ketiga meningkat lebih dari 350% dibandingkan penyelenggaraan awal. Menurut dia, Cyber Breaker kini berkembang menjadi ruang pembelajaran, komunitas, dan pengembangan talenta keamanan siber Indonesia.

David juga menegaskan bahwa ekosistem yang dibangun Peris.ai telah menghubungkan lebih dari 1.500 talenta. Peserta datang dari berbagai daerah dan mewakili enam regional, mulai dari Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan hingga wilayah lainnya.

Ia menilai sebaran peserta itu menunjukkan potensi talenta keamanan siber ada di banyak daerah. Yang dibutuhkan, menurut dia, adalah ruang, akses, dan ekosistem yang mampu menghubungkan kebutuhan industri, pemerintah, dan komunitas agar talenta berkembang secara legal, terarah, dan bertanggung jawab.

Format pertandingan dibuat lebih dekat ke publik

Setelah babak penyisihan daring, delapan tim terbaik melaju ke fase liga dan playoff. Dari sana, tiga tim terbaik bertarung di babak final luring melalui Lower Bracket Final dan Grand Final untuk memperebutkan gelar juara Cyber Breaker Competition Season 3.

Kompetisi ini menggabungkan live hacking battle, edukasi publik, competitive storytelling, dan pengalaman pertandingan bergaya esports. Format tersebut dirancang agar keamanan siber yang selama ini identik dengan bidang teknis bisa lebih mudah dipahami masyarakat, terutama generasi digital.

Dalam pertandingan, peserta diuji lewat kategori Web, Crypto, Pwn, dan Reverse. Tantangan itu menguji kemampuan analisis, strategi penyelesaian masalah, pembagian peran dalam tim, hingga pengambilan keputusan di bawah tekanan.

TahapKeteranganPeserta/Tim
PenyisihanDigelar secara daring458 tim, 916 peserta
Fase liga dan playoffDiikuti delapan tim terbaik8 tim
Babak final luringLower Bracket Final dan Grand Final3 tim terbaik

RRQ dan sponsor ikut memperluas jangkauan

Kolaborasi dengan organisasi esports RRQ menjadi pembeda pada penyelenggaraan tahun ini. Chief Product Officer RRQ, Nurul Fikri, mengatakan kerja sama itu memperkuat posisi Cyber Breaker sebagai intellectual property lokal yang menghubungkan keamanan siber, esports, edukasi, konten, komunitas, dan pengembangan talenta digital.

Dukungan lain datang dari PT Satria Siber Nusantara sebagai sponsor utama. Direktur Utama PT Satria Siber Nusantara, Stepi Anriani, menyatakan pihaknya berkomitmen mendukung pengembangan keamanan siber nasional.

Stepi juga mengatakan perusahaan membuka pintu tanpa tes bagi peserta yang masuk 10 besar untuk bekerja di perusahaan tersebut. Ia menegaskan dukungan itu sebagai bagian dari penguatan ekosistem talenta keamanan siber.

Pemerintah dan industri melihat kebutuhan talenta masih besar

Grand Final Cyber Breaker Competition Season 3 turut dihadiri perwakilan pemerintah, pelaku industri, komunitas, dan akademisi. Hadir di antaranya Staf Ahli Bidang Kekayaan Intelektual dan Transformasi Digital Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Agustini Rahayu serta Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN Slamet Aji Pamungkas.

Kehadiran mereka memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk membangun ketahanan siber nasional. Fokusnya berada pada peningkatan literasi digital, pengembangan sumber daya manusia, dan dukungan terhadap inovasi lokal.

Peris.ai menilai kebutuhan talenta keamanan siber akan terus meningkat seiring pertumbuhan industri. Nilai pasar keamanan siber Indonesia diperkirakan naik dari sekitar Rp22,2 triliun pada 2024 menjadi sekitar Rp52 triliun pada 2027 dan mencapai sekitar Rp65,35 triliun pada 2029.

Angka itu sekaligus menunjukkan besarnya peluang dan tantangan bagi Indonesia. Tanpa penguatan talenta lokal, kebutuhan industri nasional berisiko tetap didominasi pemain asing.

Source: mediaindonesia.com
Terkait