Arkeolog akhirnya menemukan identitas yang selama ini hilang dari catatan astronomi Maya kuno. Di reruntuhan Xultun, Guatemala, nama seorang astronom-matematikawan berhasil dibaca untuk pertama kalinya dan membuka sisi yang jauh lebih personal dari ilmu pengetahuan Maya.
Nama itu adalah Sak Tahn Waax, yang berarti “Rubah Dada Putih”. Temuan ini penting karena karya astronomi Maya selama ini dikenal luas, tetapi identitas orang yang mengerjakannya jarang sekali bisa dikaitkan secara langsung dengan nama tertentu.
Nama yang Tertinggal di Dinding Ruangan Kecil
Menurut laporan yang dikutip mediaindonesia.com, nama Sak Tahn Waax ditemukan dari 11 hieroglif di antara lebih dari 50 teks matematika kuno pada dinding sebuah ruangan kecil bernama Struktur 10K-2. Di lokasi yang sama, para peneliti juga menemukan catatan perhitungan tentang pergerakan planet Venus dan Mars.
Penemuan ini membuat sebuah karya astronomi kuno tidak lagi terasa seperti kumpulan simbol anonim. Bagi para peneliti, keberadaan nama tersebut menunjukkan bahwa tradisi astronom-matematikawan Maya berhubungan erat dengan pengamatan benda langit dan perhitungan matematis yang sangat teliti.
| Temuan | Detail | Keterangan |
|---|---|---|
| Nama individu | Sak Tahn Waax | Berarti “Rubah Dada Putih” |
| Lokasi | Struktur 10K-2, Xultun, Guatemala | Ruang kecil dengan mural dan tulisan kuno |
| Isi temuan | 11 hieroglif dan lebih dari 50 teks matematika kuno | Disertai catatan Venus dan Mars |
Jejak Ilmuwan di Kota Maya yang Terlupakan
Xultun adalah salah satu kota kuno Maya dari periode Klasik Maya, yang berkembang sekitar 250 hingga 900 Masehi. Kota ini berada sekitar 40 kilometer dari Tikal, salah satu pusat peradaban Maya terbesar.
Struktur 10K-2 ditemukan setelah mahasiswa Universitas Boston, Maxwell Chamberlain, menemukan terowongan penjarahan yang mengarah ke ruangan tersebut. Ruangan itu menyimpan mural dan tulisan kuno yang masih terawat, meski lokasinya lama tersembunyi.
Penelitian sebelumnya menunjukkan ruangan itu digunakan pada abad ke-8, sebelum keruntuhan besar peradaban Maya yang menyebabkan banyak kota mengalami penurunan populasi. Karena itu, isi dindingnya menjadi petunjuk penting tentang cara ilmuwan Maya membaca langit dan menyusun hitungan waktu.
Mengapa Temuan Ini Dianggap Penting
Arkeolog dari University of Texas di Austin, David Stuart, yang ikut membantu mengungkap temuan ini, menyebut penemuan nama tersebut membuat ilmu pengetahuan Maya terasa lebih manusiawi. Ia menggambarkan temuan itu seperti melihat “papan tulis tua di kantor seseorang yang terbengkalai.”
Meski belum pasti apakah Sak Tahn Waax adalah pembuat perhitungan itu atau hanya sosok yang dikaitkan dengan karya tersebut, para peneliti menilai namanya menjadi bukti kuat bahwa para astronom Maya bekerja dalam tradisi intelektual yang panjang. Studi ini juga dipublikasikan dalam jurnal Antiquity dan dianggap penting dalam studi arkeoastronomi.
Franco Rossi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), penulis utama penelitian, mengatakan teks-teks kecil di dinding ruangan itu awalnya sulit dipahami. Setelah dianalisis dengan teknologi pengolahan gambar, tim menemukan petunjuk yang mengarah pada identitas seorang astronom.
Temuan dari Xultun ini memperkaya pemahaman tentang bagaimana masyarakat Maya kuno memahami alam semesta, matematika, dan pergerakan planet. Dari sekian banyak catatan astronomi yang pernah ditemukan, baru kali ini nama seorang individu berhasil terhubung dengan karya semacam itu.
