TikTok Uji Deteksi Wajah AI, Kreator Bisa Melacak Deepfake yang Memakai Wajahnya

Wajah kreator kini semakin rentan dipakai untuk membuat video palsu yang terlihat meyakinkan. Menjawab risiko itu, TikTok sedang menguji teknologi berbasis AI yang dapat membantu kreator menemukan konten sintetis yang diduga menggunakan kemiripan wajah mereka tanpa izin.

Fitur ini belum tersedia untuk semua orang karena masih diuji secara terbatas kepada sekelompok kreator di Amerika Serikat. Sistem tersebut bersifat opt-in, sehingga kreator harus mendaftarkan diri secara sukarela sebelum dapat memakainya.

Jika terdeteksi adanya dugaan penggunaan wajah tanpa persetujuan, kreator dapat meninjau konten yang ditemukan. Mereka kemudian dapat melaporkannya kepada TikTok agar diproses sesuai kebijakan platform.

Langkah ini penting karena konten AI generatif semakin sulit dibedakan dari video asli hanya dengan pengamatan manual. Wajah seseorang dapat dimanipulasi untuk membuat informasi menyesatkan, penipuan, maupun konten palsu yang berpotensi merugikan pemilik identitas digital.

Verifikasi identitas menjadi syarat utama

Untuk mengaktifkan fitur tersebut, kreator diwajibkan melewati proses verifikasi identitas. TikTok meminta pengguna mengirimkan selfie serta memverifikasi dokumen resmi melalui Jumio, layanan verifikasi pihak ketiga.

Proses ini ditujukan agar sistem dapat mengenali identitas kreator yang benar-benar mendaftar. Dengan begitu, teknologi pendeteksian dapat membedakan penggunaan wajah yang sah dari dugaan penyalahgunaan dalam konten AI.

TikTok menyatakan tidak menyimpan dokumen identitas yang diunggah saat proses verifikasi. Data wajah yang dikumpulkan disebut hanya dipakai untuk mencocokkan kemiripan wajah dan mengidentifikasi kemungkinan penyalahgunaan identitas dalam konten buatan AI.

Menurut laporan www.medcom.id yang mengutip The Verge, pengujian ini hadir ketika platform besar mulai memperkuat perlindungan terhadap pemalsuan identitas digital. Perkembangan AI generatif membuat perlindungan semacam ini menjadi kebutuhan yang makin mendesak bagi kreator, figur publik, dan pengguna biasa.

Berbeda fungsi, tujuan perlindungannya serupa

PlatformTeknologiAkses dan proses
TikTokMendeteksi dugaan penggunaan wajah kreator dalam konten AI tanpa izinMasih diuji terbatas di Amerika Serikat, perlu pendaftaran dan verifikasi identitas
YouTubeMendeteksi video dengan wajah sintetis atau manipulasi AITersedia bagi kreator memenuhi syarat berusia minimal 18 tahun, perlu verifikasi identitas

TikTok bukan satu-satunya platform yang membangun sistem perlindungan kemiripan wajah. YouTube sebelumnya telah memperluas teknologi likeness detection kepada seluruh kreator yang memenuhi syarat dan berusia setidaknya 18 tahun.

Teknologi YouTube memungkinkan pemilik identitas mendeteksi video yang menampilkan wajah mereka secara sintetis atau telah dimanipulasi dengan AI. Pemilik wajah dapat mengajukan penghapusan jika konten tersebut dinilai melanggar pedoman privasi platform.

Pendekatan YouTube disebut mirip dengan Content ID, tetapi sasaran teknologinya berbeda. Content ID berfokus mengenali materi berhak cipta, sedangkan likeness detection dipakai untuk mengidentifikasi simulasi wajah berbasis AI.

Masuknya TikTok ke area ini menunjukkan persaingan platform tidak lagi hanya berkutat pada alat kreatif AI. Perusahaan teknologi juga harus menyiapkan mekanisme untuk membatasi penyalahgunaan teknologi yang sama terhadap identitas pengguna.

Meski begitu, belum ada jadwal peluncuran lebih luas atau daftar negara lain yang akan memperoleh akses ke fitur TikTok ini. Hasil pengujian terbatas tersebut akan menjadi bahan evaluasi sebelum sistem berpotensi dibuka untuk lebih banyak kreator.

Alat pendeteksi kemiripan wajah diperkirakan akan semakin relevan seiring kemampuan AI menghasilkan gambar dan video yang kian realistis. Bagi kreator, fitur semacam ini dapat menjadi jalur awal untuk mengetahui ketika identitas digital mereka berpotensi disalahgunakan.

Terkait