Otto Toto Sugiri kembali masuk jajaran 10 orang terkaya di Indonesia versi Forbes per 14 Juli 2026. Pengusaha teknologi yang kerap dijuluki “Bill Gates Indonesia” itu berada di peringkat ketujuh dengan kekayaan bersih 8 miliar dollar AS.
Nilai kekayaannya setara sekitar Rp 144,5 triliun dan menempatkannya pada posisi ke-460 dalam daftar orang terkaya dunia. Pendorong utama kekayaan Otto berasal dari PT DCI Indonesia Tbk atau DCII, operator pusat data yang ia dirikan bersama sejumlah mitra.
Data Center Menjadi Penopang Kekayaan
DCII didirikan pada 2011 ketika Otto melihat peluang dari kebijakan yang mendorong penggunaan pusat data di dalam negeri. Perusahaan tersebut dibangun bersama beberapa rekan, termasuk Marina Budiman dan Han Arming Hanafia.
Langkah penting DCII terjadi pada 2014 saat perusahaan mengupayakan sertifikasi Tier IV. Sertifikasi ini menjadikan DCII sebagai pusat data Tier-IV pertama di Asia Tenggara, dengan lokasi utama di Cibitung, Karawang, dan Jakarta.
Tier IV menjadi nilai penting bagi pelanggan korporasi karena dirancang untuk menjaga ketersediaan layanan meski terjadi gangguan besar. Infrastruktur semacam ini kemudian menjadi fondasi pertumbuhan bisnis pusat data yang digeluti Otto.
DCII melantai di bursa saham pada 2021 dengan harga penawaran awal Rp 420 per saham. Perjalanan perusahaan itu memperlihatkan perubahan fokus Otto dari pengembang perangkat lunak menjadi pelaku utama industri infrastruktur digital.
| Periode | Langkah Otto Toto Sugiri | Keterangan |
|---|---|---|
| 1983 | Bergabung dengan Bank Bali | Mengembangkan perangkat lunak akuntansi perbankan |
| 1989 | Mendirikan Sigma Cipta Caraka | Didirikan bersama enam mantan rekan kerja di Bank Bali |
| 1994 | Mendirikan Indonet | Penyedia internet pertama di Indonesia bersama Marina Budiman |
| 2011 | Mendirikan DCII | Memulai bisnis pusat data di Indonesia |
| 2021 | DCII melantai di bursa | Harga penawaran awal Rp 420 per saham |
Berawal dari Perangkat Lunak Lokal
Sebelum membangun bisnis pusat data, Otto menempuh pendidikan Master of Science in Engineering di RWTH Aachen University, Jerman, dan menyelesaikannya pada 1980. Setelah kembali ke Indonesia, ia mengerjakan perangkat lunak lokal untuk perusahaan minyak serta sistem pengelolaan pencairan pinjaman nelayan di Papua.
Pada 1983, Otto masuk Bank Bali dan mengembangkan perangkat lunak akuntansi untuk membantu efisiensi operasional bank. Pengalaman tersebut membawanya membangun Sigma Cipta Caraka pada 1989 bersama enam mantan rekan kerjanya, salah satunya Marina Budiman.
Sigma Cipta Caraka memulai usaha dengan modal 200.000 dollar AS dan berkembang saat deregulasi perbankan meningkatkan jumlah bank di Indonesia. Jumlah bank ketika itu disebut melonjak lebih dari dua kali lipat hingga mencapai 240 bank.
Telkom Indonesia kemudian mengakuisisi Sigma Cipta Caraka pada 2008 senilai 35 juta dollar AS. Perusahaan tersebut kini dikenal sebagai Telkomsigma.
Merintis Internet hingga Infrastruktur Digital
Nama Otto juga lekat dengan Indointernet atau Indonet yang didirikan pada 1994 bersama Marina Budiman. Indonet dikenal sebagai penyedia layanan internet pertama di Indonesia yang membuka akses masyarakat untuk menjelajahi internet.
Indonet melantai di bursa pada 2021 sebelum Otto dan para pendiri lain menjual kepemilikan saham mereka pada 2023. Saham tersebut dijual kepada perusahaan asal Singapura, Digital Edge.
Setelah penjualan Sigma Cipta Caraka, Otto sempat berencana pensiun dari dunia bisnis. Namun, peluang baru dari kebutuhan pusat data domestik membuatnya kembali membangun perusahaan teknologi melalui DCII.
Menurut data Forbes yang dihimpun tekno.kompas.com, posisi Otto berada satu tingkat di atas Marina Budiman dalam daftar orang terkaya Indonesia per 14 Juli 2026. Kiprahnya dari perangkat lunak, layanan internet, hingga pusat data menjelaskan mengapa julukan “Bill Gates Indonesia” terus melekat pada dirinya.
