Layanan internet seluler di Indonesia ditargetkan mencapai kecepatan rata-rata 100 Mbps pada 2029. Target itu menjadi salah satu dampak yang diharapkan dari pemanfaatan tambahan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz oleh tiga operator pemenang seleksi.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menetapkan Telkomsel, Indosat, dan XLSmart Telecom Sejahtera sebagai pemenang seleksi pengguna pita frekuensi radio tersebut. Tambahan frekuensi ini diharapkan membuat internet bergerak lebih cepat, stabil, dan semakin kompetitif bagi masyarakat.
Tiga Operator Menang Seleksi
Komdigi menetapkan PT Telekomunikasi Seluler atau Telkomsel, PT Indosat Tbk, serta PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk sebagai pemenang. Seleksi telah berjalan sejak April 2026 dan seluruh tahapannya dinyatakan rampung setelah masa sanggah berakhir pada Juli 2026 tanpa keberatan dari peserta.
Pita 700 MHz diposisikan untuk memperluas jangkauan layanan hingga ke wilayah pelosok dan ke dalam bangunan. Sementara itu, pita 2,6 GHz akan menjadi kapasitas utama yang menopang keandalan layanan 5G.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan spektrum bukan semata komoditas yang dilelang. Menurutnya, frekuensi merupakan infrastruktur dasar bagi transformasi digital nasional dan perlu menghasilkan manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Komdigi memastikan bahwa lelang frekuensi ini memberikan manfaat nyata dan merata bagi masyarakat. Ujungnya harus dirasakan langsung oleh masyarakat di level rumput,” kata Meutya dalam keterangan resminya pada Selasa (21/7).
Target Layanan yang Harus Dipenuhi
Kemenangan dalam seleksi ini disertai kewajiban perluasan layanan, bukan hanya penambahan kapasitas jaringan di wilayah yang sudah terlayani. Para pemenang harus menyediakan layanan 4G di ratusan desa dan kelurahan yang belum memiliki atau masih lemah sinyalnya, dari Sumatra hingga Papua.
| Komitmen | Target | Periode |
|---|---|---|
| Perluasan layanan 4G | 538 desa dan kelurahan | Wajib dipenuhi pemenang |
| Cakupan layanan 5G | Minimal 51% populasi nasional | Tahun kelima |
| Kecepatan rata-rata mobile broadband | 100 Mbps | 2029 |
Komitmen 5G itu ditetapkan paling sedikit mencakup 51 persen populasi nasional pada tahun kelima. Perpaduan frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz diharapkan membantu operator mengejar peningkatan kualitas konektivitas tersebut.
Bagi wilayah dengan koneksi terbatas, layanan baru ini diproyeksikan membuka akses yang lebih luas ke pendidikan, layanan kesehatan, pemerintahan digital, dan peluang ekonomi. Meutya menilai konektivitas dapat menjangkau kebutuhan masyarakat yang sebelumnya sulit dilayani.
Potensi Penerimaan Negara Rp29,9 Triliun
Selain target layanan, seleksi frekuensi juga membawa potensi penerimaan negara. Komdigi memproyeksikan Penerimaan Negara Bukan Pajak pada tahap awal sekitar Rp6 triliun.
Dalam proyeksi sepuluh tahun, total potensi penerimaan negara dari pengelolaan spektrum ini mencapai Rp29,9 triliun. Nilai ekonomi tersebut disebut akan kembali dimanfaatkan untuk pembangunan.
Menurut informasi yang diberitakan CNN Indonesia, tambahan spektrum juga diharapkan meningkatkan efisiensi biaya penyelenggaraan layanan operator. Efisiensi itu dinilai dapat mendorong tarif data menjadi lebih kompetitif bagi pengguna.
Komdigi juga menyiapkan proses pemanfaatan frekuensi 900 MHz untuk kebutuhan konektivitas yang berdampak langsung bagi masyarakat. Optimalisasi spektrum dinilai penting untuk memperluas akses internet, memperkuat ekonomi digital, dan memberi kesempatan setara bagi wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal.
