iPhone Ultra Rp 45 Juta Diproyeksikan Laku 10 Juta Unit, Samsung Tetap Diuntungkan

Apple dilaporkan menaikkan target penjualan iPhone lipat pertamanya menjadi 10 juta unit, meski harga rata-ratanya diperkirakan mencapai 2.500 dollar AS atau sekitar Rp 45 juta. Perangkat yang ramai disebut sebagai iPhone Ultra itu berpotensi menjadi iPhone paling mahal yang pernah dijual Apple.

Target tersebut mencuri perhatian karena Apple akan memasuki kategori ponsel lipat saat Samsung dan Huawei sudah lebih dulu membangun pasar. Namun, proyeksi permintaan yang besar menunjukkan format lipat bisa menjadi celah baru bagi Apple untuk menjangkau pengguna premium.

Harga Tinggi Tidak Menghalangi Target Penjualan

Perkiraan awal penjualan iPhone Ultra disebut berada di kisaran 7 juta hingga 8 juta unit. Angka itu kemudian meningkat menjadi 10 juta unit, sebuah target yang tergolong ambisius untuk produk lipat pertama Apple.

Menurut prediksi IDC, harga rata-rata perangkat ini diperkirakan berada di level 2.500 dollar AS. Varian dengan penyimpanan tertinggi bahkan disebut dapat dibanderol hingga 3.000 dollar AS atau sekitar Rp 54 juta.

PerkiraanNilaiKeterangan
Target penjualan10 juta unitNaik dari estimasi awal 7-8 juta unit
Harga rata-rata2.500 dollar ASSekitar Rp 45 juta
Varian tertinggi3.000 dollar ASSekitar Rp 54 juta

Harga tersebut menempatkan iPhone Ultra di atas lini iPhone reguler dari sisi nilai jual. Bagi pengguna di Indonesia, harga jualnya juga berpotensi lebih tinggi dibanding perkiraan global, mengikuti pola harga produk Apple sebelumnya.

Apple belum mengumumkan nama, harga, maupun jadwal peluncuran perangkat lipatnya secara resmi. Meski begitu, iPhone Ultra disebut dijadwalkan meluncur pada paruh kedua 2026.

Langsung Mengincar Porsi Besar Pasar Lipat

Pasar ponsel lipat bukan lagi kategori kecil seperti beberapa tahun lalu, terutama setelah model clamshell semakin populer. Samsung telah menjual ponsel lipat sejak 2019, sementara Huawei juga agresif memasarkan perangkat serupa di China.

Counterpoint Research memperkirakan pesanan panel layar untuk ponsel lipat global mencapai sekitar 27,5 juta unit pada 2026. Jumlah itu diproyeksikan naik sekitar 24 persen dibandingkan 2025.

Dari total pesanan panel tersebut, iPhone Ultra diperkirakan menyumbang pangsa sekitar 29 persen. Porsi itu berada di atas Huawei yang diproyeksikan meraih 24 persen, tetapi masih sedikit di bawah Samsung dengan 31 persen.

MerekPerkiraan Pangsa Panel Lipat 2026Posisi
Samsung31 persenPertama
Apple melalui iPhone Ultra29 persenKedua
Huawei24 persenKetiga

Proyeksi itu menggambarkan peluang Apple untuk langsung menjadi pemain besar pada tahun pertama kehadirannya di pasar lipat. Strategi tersebut sejalan dengan posisi Apple yang kerap masuk ke kategori produk saat pasar dan harga premium dinilai sudah terbentuk.

Samsung Berpotensi Menang di Dua Sisi

Persaingan iPhone Ultra dengan ponsel lipat Samsung tidak serta-merta membuat Samsung kehilangan seluruh peluang bisnisnya. Samsung Display secara luas diperkirakan akan menjadi pemasok panel OLED bagi iPhone lipat pertama Apple.

Artinya, Samsung dapat menghadapi Apple sebagai rival di pasar perangkat jadi sekaligus menjadi mitra dalam rantai pasok. Peran semacam ini bukan hal baru karena Samsung telah lama memasok layar OLED untuk iPhone reguler.

Bagi Apple, penggunaan panel dari Samsung Display dapat membantu perusahaan memasuki kategori yang menuntut kualitas layar tinggi. Bagi Samsung, meningkatnya penjualan iPhone Ultra justru berpotensi memperbesar permintaan komponen layar dari divisi display-nya.

Perangkat ini juga dinantikan pengguna Apple yang tertarik pada desain lipat, tetapi tidak ingin beralih ke Android hanya demi mencoba format tersebut. Penentu utamanya nanti adalah seberapa banyak pengguna yang bersedia membayar 2.500 hingga 3.000 dollar AS untuk iPhone Ultra.

Laporan mengenai target 10 juta unit dan perkiraan harga ini dihimpun tekno.kompas.com dari TechSpot. Kepastian mengenai nama produk, konfigurasi penyimpanan, serta harga per negara masih menunggu pengumuman Apple.

Terkait