Selama ini, khipu dikenal sebagai sistem pencatatan unik Kekaisaran Inca yang hanya digunakan oleh birokrat laki-laki dari kalangan elit. Namun, penemuan terbaru dari sebuah khipu berusia ratusan tahun mengguncang pandangan lama tersebut dan membuka wawasan baru tentang penggunaannya di masyarakat Inca.
Analisis radiokarbon pada khipu yang terbuat dari wol alpaka ini mengejutkan para peneliti saat menunjukkan bahwa artefak tersebut berasal dari periode Kekaisaran Inca, bukan masa modern seperti yang selama ini diduga. Tidak hanya itu, tali khipu tersebut menyimpan helai rambut manusia sepanjang 104 sentimeter yang berhasil dianalisis lebih lanjut menggunakan teknik isotop.
Hasil analisis isotop pada rambut tersebut mengungkapkan pola makan pemiliknya. Makanan pokok individu ini didominasi oleh sayuran hijau dan umbi-umbian, yang biasa dikonsumsi oleh golongan petani. Sebaliknya, konsumsi daging atau jagung—inilah santapan mewah para elite Inca—tercatat sangat sedikit jika tidak sama sekali. Kondisi ini sulit dijelaskan bila pemilik khipu tersebut adalah seorang birokrat elit yang biasanya mengonsumsi jagung dalam jumlah besar bersama chicha, minuman bir jagung khas Inca.
Selain pola makan, isotop juga memberikan petunjuk tentang lokasi tempat tinggal individu tersebut. Data mengindikasikan bahwa orang ini hidup di dataran tinggi Andes dengan ketinggian sekitar 2.600 hingga 2.800 meter, sangat jauh dari pantai, yang sesuai dengan rendahnya kadar sumber daya laut dalam dietnya. Lokasi kemungkinan besar berada di wilayah Peru selatan atau Chili utara.
Temuan ini menandai bahwa khipu tidak hanya dimiliki dan digunakan oleh kalangan elit, melainkan juga masyarakat umum atau rakyat jelata yang tinggal di pedesaan. Ini sejalan dengan catatan Felipe Guaman Poma de Ayala, seorang sejarawan dan penulis Pribumi abad ke-17, yang menyatakan bahwa perempuan juga ikut menggunakan khipu. Bukti lainnya pun telah menunjukkan penggunaannya di kalangan petani dan pekerja.
Kemampuan pembuat khipu rakyat jelata ini tidak bisa dianggap remeh. Meskipun berasal dari kelas sosial biasa, keterampilannya dalam menenun tali dan membuat simpul yang rumit sangat tinggi. Penemuan ini menantang asumsi lama yang mengaitkan khipu hanya dengan otoritas elit dan birokrasi kekaisaran.
Di sisi lain, makna simbolik dan fungsi dari pola simpul khipu tersebut belum sepenuhnya bisa ditafsirkan. Namun, analisis isotop pada khipu lainnya tentu memiliki potensi besar untuk mengungkap keanekaragaman penggunaannya dalam masyarakat Inca secara lebih luas. Hal ini membuka cakrawala baru dalam studi sejarah dan budaya Inca yang selama ini tertutup oleh pandangan elitis.
Penemuan tersebut membuktikan bahwa khipu merupakan sistem pencatatan inklusif yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat Inca, bukan sekadar alat administratif para birokrat laki-laki. Dengan semakin banyak penelitian dan teknologi analisis canggih, sejarah keberagaman pengguna serta fungsi khipu sebagai media komunikasi sosial dan pencatatan ekonomi di Kekaisaran Inca dapat tergali lebih dalam.
Melalui temuan ini, para ahli berharap dapat memperbaiki narasi sejarah tradisional, memberi ruang bagi perspektif masyarakat adat, dan mengakui peran perempuan serta kelas bawah dalam pelestarian warisan budaya Inca. Penelitian ini menjadi lompatan penting yang memperkaya pemahaman kita tentang sistem informasi dan stratifikasi sosial masyarakat pra-Kolombia di Amerika Selatan.
